Pukul dua belas lewat tujuh menit, awan itu datang bukan sebagai dinding, melainkan sebagai kabut yang menyusup dari lembah barat, tipis dan sabar, seolah tahu persis kapan harus muncul.
Janari melihatnya lebih dulu di monitor pemantau langit, bukan di langit sungguhan. Piksel demi piksel pada citra kamera langit-seluruh kehilangan kontras, bintang-bintang di sudut barat daya memudar seperti tinta yang kena air. Ia menahan napas, menunggu barangkali itu hanya derau termal pada sensor. Tapi lima menit kemudian bintang-bintang yang sama benar-benar lenyap.
"Stasiun Waringin melapor tertutup," suara di radio genggam berderak, logat seorang astronom amatir yang biasanya riang kini datar oleh kecemasan yang sama. "Transparansi nol. Kami tutup kubah."
Sekar, di meja sebelah, mengetik cepat tanpa menoleh. "Waringin turun dari jaringan pukul dua belas sebelas." Ia menandai baris itu di lembar pemantauan dengan warna abu-abu, warna yang sudah mereka sepakati untuk stasiun yang gugur, bukan merah — merah mereka simpan untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih menakutkan daripada cuaca.
Janari memandang peta korda di layar utama: garis-garis lurus yang menghubungkan setiap stasiun ke satu titik di langit, membentuk jalinan bayang di punggung gunung seperti yang pernah ia gambar berbulan-bulan lalu bersama Sekar, ketika semua ini masih berupa rencana di atas kertas. Sekarang satu benang di jalinan itu memudar menjadi putus-putus, lalu padam.
Ia mencoba tenang. Model cuaca memang sudah memperingatkan risiko sedang di lereng barat sejak sore; itu sebabnya mereka menyebar sebanyak mungkin stasiun, bukan berharap semuanya tetap hidup, tetapi berharap cukup banyak yang bertahan.
Yang tidak diperhitungkannya adalah arah datangnya.
"Ini bergerak ke timur," kata Karu, tanpa mengangkat kepala dari panel osilator yang sejak tadi ia jaga seperti ibu menjaga bayi demam. "Bukan barat laut seperti model bilang."
"Berapa cepat?"
"Cukup cepat untuk sampai ke sini sebelum jendela lewat." Karu akhirnya menoleh, dan di wajahnya yang biasanya datar itu Janari melihat sesuatu yang jarang tampak: kekhawatiran yang tak disembunyikan lagi. "Kubah utama masih bersih. Untuk sekarang."
Untuk sekarang. Dua kata itu menggantung di ruang kendali seperti bau ozon sebelum petir.
Radio berderak lagi. Stasiun kedua, di lereng selatan, dikelola sepasang suami-istri astronom amatir yang sudah tiga bulan berlatih bersama tim Sekar. "Kami masih cerah, tapi ada kabut tipis di cakrawala barat. Kami pertahankan posisi."
"Pertahankan," jawab Sekar ke mikrofon, suaranya lebih tegas daripada biasanya, seolah ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dulu sebelum meyakinkan orang lain.
Janari menghitung ulang di kepalanya, cepat, kasar — dari sembilan stasiun yang direncanakan malam itu, dua sudah gugur, dan entah berapa lagi yang akan menyusul dalam satu jam ke depan. Untuk korda yang sah, ia butuh sedikitnya tiga titik pengamatan yang bersih dan bertumpang-tindih waktu, cukup jauh terpisah secara geometris agar garis dasarnya berarti sesuatu. Bukan sekadar dua kedipan yang kebetulan sama.
Ia memikirkan Danastri, sendirian di stasiun tua yang baru saja hidup kembali, jauh di lembah lain, tanpa siapa pun menemani selain deru pemanas ruangan dan detak jam sidereal yang ia rawat sendiri selama tiga puluh tahun. Radio dari sana masih diam. Diam bisa berarti sibuk, atau berarti sesuatu yang lebih buruk.
"Coba hubungi stasiun Danastri," katanya kepada Sekar.
Setelah tiga kali panggilan tanpa jawaban, suara serak yang akrab akhirnya masuk. "Di sini masih cerah," kata Danastri, tenang seperti biasa, seolah tak ada apa pun yang bisa mengguncangkannya lagi setelah tiga dekade menunggu. "Aku sedang mengunci pelacakan. Jangan khawatirkan aku dulu."
Janari mengembuskan napas yang tak ia sadari ia tahan.
Lalu, di layar utama, garis stasiun ketiga — sebuah observatorium kecil milik universitas di kaki gunung sebelah — mulai berkedip merah pada indikator transparansi. Karu memelototinya lebih dulu daripada Janari.
"Itu bukan awan," katanya pelan. "Itu kabut naik dari lembah. Beda arah, tapi hasilnya sama."
Dalam sepuluh menit, tiga stasiun lagi melapor tertutup satu demi satu, seperti lampu yang dipadamkan bergiliran di sepanjang gang panjang. Peta korda di layar Janari menyusut — dari jalinan rapat yang tadinya membentang di punggung gunung, kini tersisa hanya tiga garis, dan salah satunya sudah menampakkan tanda-tanda goyah.
Ia berdiri, mendekati jendela ruang kendali. Di luar, kubah observatorium utama masih membuka lebar ke langit yang untuk saat ini masih jernih, bintang-bintang tampak keras dan tajam seperti biasanya, seolah tak tahu apa yang sedang dipertaruhkan tepat di bawahnya. Tapi di kaki langit barat, ia bisa melihatnya sendiri sekarang tanpa perlu layar: sebuah tepi keabu-abuan yang menelan bintang demi bintang, pelan tapi pasti, seperti tinta yang merembes di kain.
"Berapa lama sampai jendela prediksi?" tanyanya, tanpa menoleh.
"Empat puluh satu menit," jawab Sekar.
Karu berdiri di sampingnya, memandang langit yang sama. "Kalau kubah utama juga tertutup sebelum itu—"
"Aku tahu," potong Janari, lebih tajam dari niatnya. Ia menahan diri sejenak, lalu melunakkan suaranya. "Aku tahu."
Ia kembali ke mejanya, menatap peta korda yang kini hanya menyisakan tiga benang tipis di antara jalinan yang tadinya begitu meyakinkan. Tiga benang belum cukup untuk membuktikan apa pun — belum cukup untuk membedakan sinyal sejati dari kebetulan, dari derau, dari harapan yang terlalu ingin dipercaya. Ia memikirkan ayahnya, di kotak sinyal tua, mengajarkan bahwa sinyal yang meragukan harus disebut merah, bukan hijau, sekalipun itu berarti kereta harus menunggu.
Malam ini, langitlah yang memutuskan berapa banyak sinyal yang akan mereka punya untuk dipercaya.
Ia mengangkat radio, dan suaranya, ketika akhirnya keluar, terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan.
"Semua stasiun yang masih bersih," katanya, "tetap di posisi. Jangan bergerak sampai aku bilang berhenti."