Pukul sembilan malam, dan langit di atas Tepi Lereng baru separuh jujur.
Janari berdiri di ambang kubah utama, jaket lapangannya belum sepenuhnya terkancing, dan membiarkan angin gunung menampar pipinya sampai mati rasa. Ke barat, di atas punggung Gunung Wilis yang tak tampak dalam gelap, bintang-bintang berbaris rapi seperti belum pernah ada yang meragukan mereka. Ke timur, sebongkah awan bergerak pelan, compang-camping di tepinya, seperti sesuatu yang sengaja disobek dan dilempar ke arah observatorium.
"Berapa persen tutupan di sektor sasaran?" tanyanya, tanpa menoleh.
Suara Sekar menjawab dari balik layar, agak serak karena sudah dua malam tidur di sofa ruang kendali. "Model terakhir bilang enam puluh. Tapi itu model tiga jam lalu. Aku tidak percaya lagi sama model cuaca, Kak. Aku percaya mata."
"Mata bilang apa?"
Sekar melangkah ke ambang pintu, menyipitkan mata ke arah cakrawala timur. "Mata bilang berdoa saja."
Janari tidak tertawa, tapi sesuatu di dadanya mengendur sedikit. Ia menoleh ke papan status di dinding kubah—delapan baris, delapan nama stasiun, delapan titik yang malam ini harus menjadi satu garis korda melintang punggung gunung. Stasiun utama di sini, dengan detektor teleskop 70 cm yang sudah dikalibrasi ulang tiga kali sejak sore. Stasiun kedua di lembah selatan, milik jejaring astronom amatir yang dikoordinasi Sekar lewat aplikasi obrolan yang berdenting setiap beberapa menit. Stasiun ketiga—yang membuat dadanya masih terasa aneh setiap kali disebut—stasiun tua Danastri, yang setelah tiga puluh tahun sunyi, malam ini menyalakan lagi kubahnya di punggung bukit sebelah barat.
Radio di meja kendali berderak. "Tepi Lereng, ini Stasiun Barat." Suara Danastri terdengar datar, tapi Janari tahu getar tipis di baliknya—getar yang sama yang pernah ia dengar tiga puluh tahun lampau tercatat di catatan tangan perempuan itu. "Langit di sini bersih. Sembilan puluh persen. Osilator terkunci, sudah kubandingkan dengan stempel waktumu lima menit lalu. Selisihnya nol koma dua milidetik."
Karu, yang sedari tadi menunduk di depan unit pewaktuan GPS dengan obeng terselip di antara gigi, mendongak. "Bilang padanya terima kasih. Itu selisih yang tidak akan pernah kudapat tanpa dia mau menyalakan generator tua itu lagi."
"Bilang sendiri," kata Janari, melempar mikrofon ke arahnya.
Karu menangkapnya dengan satu tangan, tanpa menoleh dari layar. "Stasiun Barat, ini Karu. Terima kasih, Prof. Osilatormu masih galak seperti dulu."
Ada jeda. Lalu suara Danastri, kali ini dengan sesuatu yang nyaris menyerupai senyum. "Osilator tidak pernah berubah, Karu. Yang berubah cuma siapa yang berani mempercayainya."
Janari membiarkan kalimat itu menggantung di udara kubah yang dingin, tidak menjawabnya, karena ia tahu Danastri tidak sedang bicara soal jam.
Ia berjalan ke meja utama, menarik kursi, memandangi peta korda yang tertempel di dinding—garis lurus yang membentang dari stasiunnya di puncak, turun ke stasiun amatir di lembah, lalu naik lagi ke bukit barat tempat Danastri berdiri. Delapan titik, kalau ditambah lima titik lain milik jejaring amatir yang tersebar di sepanjang lereng, membentuk semacam pagar tak kasatmata yang menunggu satu bayangan lewat.
"Jendela mulai jam berapa," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.
"Dua puluh tiga lewat empat belas, waktu sipil," jawab Sekar, membaca dari layar. "Tapi itu bukan yang penting."
"Yang penting jam sideriknya," sambung Janari, hampir berbarengan dengan Sekar, dan mereka berdua nyaris tertawa karena kalimat itu sudah diucapkan begitu sering dalam sebulan terakhir hingga jadi semacam mantra keluarga.
Ponsel di meja bergetar. Pesan dari salah satu pengamat amatir di titik paling selatan garis korda, seorang guru SMA bernama Pak Rusdi yang membeli teleskop 20 cm dengan tabungan pensiunnya sendiri. Awan tebal di sini. Menunggu, katanya, dengan emotikon awan dan tanda tanya. Janari membalas singkat: Tetap di posisi. Awan bergerak, kita tunggu jendelanya bergeser bersamanya.
Ia tidak seyakin itu di dalam.
Karu berdiri, meregangkan punggung yang berbunyi seperti engsel tua, lalu berjalan ke jendela kubah dan menatap langit dengan cara seorang lelaki yang sudah dua puluh tahun lebih membaca langit sebagai pekerjaan, bukan sebagai keajaiban. "Awan di timur bergerak ke utara," katanya. "Kalau kecepatannya tetap, sektor sasaran kita bersih sekitar jam sebelas kurang seperempat. Pas."
"Pas itu kata yang berbahaya," kata Janari.
"Semua kata berbahaya kalau kau pikirkan terlalu lama," jawab Karu, tanpa berbalik. "Lebih baik kita periksa ulang pewaktuan."
Mereka bekerja dalam diam setelah itu—Karu menyisir log osilator, Sekar mengirim pesan konfirmasi ke tiap titik jejaring satu per satu, dan Janari duduk di depan layar utama, menatap kurva cahaya kosong yang belum merekam apa pun selain derau latar yang menari-nari pelan, seolah alam semesta sedang menahan napas bersamanya.
Ia memeriksa jam di sudut layar. Sembilan lewat empat puluh dua. Waktu sipil merayap seperti biasa, acuh tak acuh pada apa yang mereka pertaruhkan malam ini—kontrak lembaga, nama Danastri, harga diri Sekar yang baru pulih dari keraguannya sendiri, dan sesuatu yang lebih tua dari semua itu, yang ia warisi dari kotak sinyal ayahnya: jangan pernah mengatakan aman kalau kau masih ragu.
Ia belum tahu apa yang akan terjadi malam ini. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak kedipan pertama muncul di layar bertahun-tahun—rasanya seperti itu, meski baru berbulan-bulan—delapan mata sekaligus, tersebar di sepanjang punggung gunung, akan menatap satu titik langit yang sama, pada detik yang sama, terkunci oleh jam yang sama.
"Sepuluh menit lagi kita mulai pratinjau," kata Sekar, suaranya lebih tenang sekarang, seolah kesibukan tangan menenangkan gemetar yang tak terlihat.
Janari mengangguk, lalu meraih radio.
"Semua stasiun," katanya, dan mendengar suaranya sendiri bergema pelan di kubah yang kosong, "ini Tepi Lereng. Persiapkan pointing akhir. Kita menuju sasaran."
Dari radio, satu per satu, suara-suara menjawab—Danastri di barat, Pak Rusdi di selatan yang awannya belum juga pergi, dan suara-suara lain yang tak ia kenal wajahnya tapi kini ia percayai jam mereka seperti jamnya sendiri. Di luar kubah, angin gunung terus berhembus, mendorong awan entah ke mana, tak peduli pada jadwal siapa pun, dan Janari menunggu, dengan tangan yang mulai berkeringat dingin di atas meja kendali, seperti seorang penjaga sinyal yang menanti kereta yang belum tentu datang.