Malam itu turun lebih cepat dari biasanya di Tepi Lereng, seolah langit sendiri tak sabar menuntaskan sesuatu. Janari Nawangsih berdiri di teras kubah, membiarkan udara dingin menembus jaketnya, dan menatap cakrawala yang belum sepenuhnya gelap—jalur ungu tua di ufuk barat masih menyimpan sisa siang, garis tipis yang akan hilang dalam hitungan menit. Besok, pada jam yang sudah ia hitung berulang-ulang hingga hafal di luar kepala, sesuatu—atau tidak ada apa-apa—akan lewat di titik yang sama yang pernah dicatat Prof. Danastri tiga puluh tahun silam.
Ia sudah memeriksa segalanya. Dua kali, tiga kali, sampai pemeriksaan itu sendiri terasa seperti ritual yang lebih menenangkan saraf daripada menyempurnakan data. Jaringan korda sudah berdiri: stasiun profesional di puncak, jejaring amatir yang disusun Sekar melintang punggung gunung, dan stasiun tua Danastri yang kini menyala kembali setelah bertahun dibiarkan berdebu. Semua osilator terkunci-GPS sudah disinkronkan hingga sub-milidetik—kerja Karu, kerja yang tak akan pernah masuk jurnal ilmiah mana pun tapi menopang semuanya seperti tulang punggung yang tak terlihat.
Yang tersisa untuk diperiksa hanyalah dirinya sendiri.
Ia masuk ke ruang kendali, di mana layar-layar kurva cahaya kosong menyala pelan, menunggu bingkai pertama malam esok. Karu ada di sana, membungkuk di atas panel catu daya cadangan, memutar-mutar obeng kecil tanpa benar-benar memakainya—kebiasaan orang yang tangannya tak tahan diam.
"Semua yang bisa dites, sudah dites," kata Karu tanpa menoleh. "Kalau ada yang gagal besok, itu bukan karena kita kurang periksa."
"Aku tahu." Janari duduk di kursi sebelahnya, menatap layar yang masih kosong seperti menatap sebuah pertanyaan yang belum berani ia ajukan pada dirinya sendiri. "Aku hanya terus memeriksanya karena tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku."
Karu tertawa pelan, suara yang jarang keluar dari orang itu selama ini. "Ayahmu dulu begitu, kalau ceritamu benar. Memeriksa sinyal yang sama tiga kali sebelum berani bilang aman."
"Empat kali," Janari membetulkan. "Dan dia tidak pernah benar-benar bilang aman. Dia bilang, 'belum ada alasan untuk merah.' Itu beda."
Karu mengangguk, seolah kalimat itu menjelaskan banyak hal tentang perempuan yang duduk di sampingnya, lalu kembali pada panelnya, membiarkan Janari sendiri dengan pikirannya.
Ia keluar lagi ke teras beberapa saat kemudian, kali ini membawa mantel tebal dan segelas kopi yang sudah setengah dingin. Langit sudah gelap sempurna sekarang, dan bintang-bintang mulai muncul satu demi satu seperti partikel yang mengendap dari larutan jenuh. Ia mengenali sebagian besar dari mereka tanpa perlu peta—kebiasaan bertahun yang membuat langit malam terasa seperti wajah-wajah yang sudah lama dikenal. Tapi di satu titik, di koordinat yang sudah ia hafal sampai ke detik busur, tidak ada apa pun yang bisa dilihat mata telanjang. Hanya kegelapan yang sama seperti kegelapan di sekitarnya, tak membedakan dirinya dari kekosongan biasa.
Ia pikirkan Wignya, yang menunggu sesuatu untuk dikatakan pada dewan. Ia pikirkan Broto, yang menunggu sesuatu untuk dikatakan pada para donor di gala yang tinggal menghitung hari. Ia pikirkan Ardhi, yang menunggu kesalahan untuk dikatakan pada jurnal-jurnal yang membaca pracetaknya. Semua orang menunggu sesuatu darinya, dan yang mengganggu bukan beratnya menanggung harapan itu, melainkan betapa mudahnya membayangkan cara memuaskan semuanya sekaligus—cukup dengan melonggarkan sedikit bahasa, membiarkan satu kata berlebihan menyusup ke laporan, membiarkan "kemungkinan besar" berubah jadi "terbukti" sebelum data benar-benar berkata begitu.
Ia sudah pernah nyaris melakukannya, dan ia sudah berhenti tepat sebelum jarinya menyentuh angka yang berbohong. Malam ini bukan tentang menahan godaan itu lagi—ia sudah menang di situ. Malam ini tentang sesuatu yang lebih sunyi: memastikan bahwa apa pun yang terjadi besok, ia akan melaporkannya persis seperti apa adanya, seberapa pun kecil, seberapa pun mengecewakan, seberapa pun jauh dari kata "lubang hitam" yang sudah telanjur beredar di kepala orang-orang yang tak sabar.
Ia teringat kotak sinyal ayahnya, cat hijau yang mengelupas, tuas-tuas kuningan yang berat di tangan kecilnya dulu. Aturannya sederhana dan tak pernah berubah seumur hidup pria itu: sinyal aman yang kau ragukan, kau sebut merah. Bukan karena merah selalu benar, tapi karena merah tidak pernah membunuh siapa pun karena kepastian yang dipalsukan.
Besok malam, apa pun yang tertangkap di kurva cahaya—entah kedipan bersih yang serentak di dua stasiun, entah derau yang menyamar jadi harapan, entah sekadar kekosongan yang mengecewakan semua orang yang menunggu—ia akan menyebutnya sesuai warnanya sendiri. Bukan warna yang diinginkan Broto. Bukan warna yang menyelamatkan jabatan Wignya. Bukan warna yang mengalahkan Ardhi dengan cara yang memuaskan dendam. Warna yang ditunjukkan angka-angka, titik demi titik, bingkai demi bingkai.
Ia menghabiskan kopinya yang sudah dingin sepenuhnya, merasakan pahitnya menjalar sampai ke dada, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dadanya tidak terasa sesak oleh pertanyaan. Bukan karena ia sudah tahu jawabannya—ia tidak tahu, dan justru itulah yang membuatnya, anehnya, tenang. Ketidaktahuan yang jujur selalu lebih ringan dipikul daripada kepastian yang dipaksakan.
Di dalam, ia mendengar Karu memanggil, mengabarkan bahwa prakiraan cuaca baru saja diperbarui—langit di atas gunung diperkirakan cerah sampai tengah malam, meski awan tipis mungkin menyapu beberapa stasiun di lembah. Janari menoleh sebentar ke arah pintu, mengangguk, lalu kembali menatap langit yang belum berubah, yang masih menyimpan rahasianya dengan kesabaran yang jauh lebih tua dari segala tenggat manusia.
Ia menulis satu kalimat terakhir di buku catatannya malam itu, sebelum akhirnya masuk untuk tidur beberapa jam yang tersisa: Apa pun yang terekam besok, catat persis seperti adanya. Jangan tambah. Jangan kurangi. Lalu ia mematikan lampu meja, membiarkan ruang kerja tenggelam dalam gelap yang sama dengan gelap di luar sana—gelap yang, entah menyimpan sesuatu atau tidak, akan ia hadapi dengan mata yang sejujur mungkin.