Angin dari celah jendela kubah membuat kertas-kertas di meja Janari Nawangsih bergetar pelan, tapi ia tidak mengangkat kepala. Matanya menempel pada tiga kolom angka yang baru saja dimuntahkan program yang ia tulis ulang tiga kali malam itu. Dua hari lagi jendela kejadian akan terbuka—waktu dan koordinat yang telah ia kirim ke setiap simpul jaringan, ke stasiun-stasiun amatir di lereng utara, ke stasiun tua Danastri yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Semua orang sudah tahu ke mana harus mengarahkan teleskop mereka.
Sekarang angka itu bergeser.
Ia menjalankan ulang penyesuaian orbit dengan galat pewaktuan terbaru dari Karu—koreksi sub-milidetik yang, menurut logika, seharusnya hanya memoles presisi, bukan mengubah apa pun yang berarti. Tapi begitu ia memasukkan nilai itu ke dalam model gabungan, model yang mengawinkan titik data Danastri tiga puluh tahun silam dengan pengamatannya sendiri, waktu prediksi bergeser sebelas menit. Koordinatnya bergeser juga—tak banyak, hanya beberapa detik busur, tapi cukup untuk membuat sejumlah teleskop kecil di jaringan Sekar, yang bidang pandangnya sempit, mengarah ke langit kosong pada saat yang menentukan.
Ia mengecek ulang unit. Ia mengecek ulang tanda. Ia membuka kembali catatan lamanya—perhitungan ephemeris pertama, yang memakai baseline tiga puluh tahun untuk memperkirakan gerak lambat benda itu. Semuanya tampak benar. Justru itu yang membuatnya takut: kesalahan yang bisa ditunjuk dan diperbaiki jauh lebih ramah daripada model yang benar tapi sensitif—yang bergoyang sebelas menit hanya karena satu parameter pewaktuan dihaluskan.
Pintu kubah berderit. Karu masuk membawa dua cangkir kopi, uapnya mengepul tipis di udara dingin.
"Kau belum tidur," katanya, bukan pertanyaan.
"Koordinatnya bergeser." Janari memutar layar ke arahnya. "Sebelas menit di waktu. Delapan detik busur di posisi."
Karu meletakkan cangkir, menatap angka-angka itu lama sebelum bicara. "Dari mana datangnya pergeseran itu?"
"Dari punyamu. Koreksi osilator yang kau kirim tadi sore." Janari menahan diri agar suaranya tidak terdengar menuduh. "Ini bukan salahmu. Model ini memang begitu—rentan. Sedikit ubah pewaktuan input, keluarannya bergeser jauh lebih besar dari yang kukira."
"Itu berarti fitnya lemah," kata Karu pelan, "atau berarti kau baru saja menemukan betapa presisi yang kita butuhkan sebenarnya."
Janari tidak menjawab segera. Ia menatap kurva residual di layar sebelah—selisih antara model dan setiap titik data yang mereka miliki, termasuk titik-titik Danastri yang direkonstruksi dari buku catatan berdebu itu. Kurva itu tidak acak. Ada pola tipis di dalamnya, seperti sesuatu yang ingin diucapkan tapi tertahan derau. Ia sudah cukup lama menatap derau untuk tahu kapan harus curiga pada diri sendiri.
"Aku harus menelepon Prof. Danastri," katanya akhirnya.
Sambungan telepon ke rumah Danastri berdenging lama sebelum terangkat. Suara di ujung sana serak, tapi begitu Janari menyebut angka-angka itu, keserakan itu lenyap, digantikan ketajaman yang selama ini tersembunyi di balik kehati-hatian perempuan itu.
"Bacakan aku parameter yang kau ubah," kata Danastri.
Janari membacakannya—konstanta pewaktuan baru, offset osilator, semua digit yang tadinya ia kira remeh.
Ada jeda panjang di ujung sana, hanya suara kertas dibalik, mungkin catatan lama yang selalu ada di dekat telepon Danastri sejak ia kembali terlibat. "Itu masuk akal," kata Danastri akhirnya. "Data lamaku punya galat pewaktuan yang selama ini kita perlakukan sebagai konstan. Kalau kau baru saja memperbaiki galat serupa di sisi modern, model gabungan akan menyusun ulang seluruh lintasan—bukan cuma titik terbarumu. Itu bukan tanda model rusak, Janari. Itu tanda model bereaksi seperti seharusnya."
"Tapi bagaimana aku tahu ini bukan model yang mengarang kepastian dari sedikit input?" Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada yang ia niatkan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Danastri.
"Kau tidak tahu," jawab Danastri, datar, tanpa berusaha menenangkan. "Itu risikonya. Tapi model yang goyah kalau disentuh sedikit bukan berarti salah—berarti ia jujur soal seberapa jauh kita masih meraba." Ia diam sejenak. "Tiga puluh tahun lalu aku tidak berani mempercayai model gabungan seperti ini karena aku takut ia akan salah di depan orang banyak. Aku memilih angka yang membuatku nyaman, bukan yang paling didukung data. Jangan ulangi itu."
Janari menutup mata sebentar, mendengar suara ayahnya entah dari mana dalam kepalanya—jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan. Ini bukan soal aman atau tidak. Ini soal jujur pada apa yang model itu benar-benar katakan, bukan pada apa yang nyaman untuknya dengar.
Ia menutup telepon, lalu memanggil Sekar yang tertidur di kursi dekat konsol pemrosesan, kepala terkulai di atas lengan. Gadis itu terbangun dengan cepat begitu mendengar namanya disebut.
"Kita harus kirim ulang koordinat," kata Janari. "Ke semua orang. Malam ini juga."
Sekar menggosok mata, lalu membaca angka-angka baru itu di layar, dan wajahnya berubah pucat sesaat—sebelas menit bukan jumlah kecil bagi jaringan amatir yang jadwal tidurnya sudah ketat, yang sebagian harus menyetel penunjuk waktu ulang di tengah malam demi selisih yang, jika salah, bisa membuat seluruh korda gagal terbentuk.
"Kalau kita salah kali ini," kata Sekar pelan, "kita kehilangan satu-satunya jendela yang kita punya sebelum gala."
"Aku tahu." Janari sudah membuka program pengirim pesan, jari-jarinya berhenti sesaat di atas kolom subjek. Ia bisa menahan angka lama satu hari lagi, menunggu kepastian yang tak akan pernah datang lebih cepat dari langit itu sendiri. Atau ia bisa memercayai model yang baru saja menunjukkan betapa jujurnya ia terhadap ketidaktahuan mereka berdua.
Ia menekan kirim.
Di luar kubah, bintang-bintang tampak diam seperti biasa, tak peduli pada sebelas menit yang baru saja mengguncang seluruh perhitungannya. Janari menatap layar yang mengonfirmasi pesan terkirim ke setiap simpul jaringan, lalu duduk kembali, menunggu balasan satu per satu menyala di kotak masuknya, sementara jam sidereal terus berjalan tanpa peduli siapa yang percaya padanya.