Angin di ketinggian Tepi Lereng mengetuk-ngetuk jendela ruang kendali seperti seseorang yang ingin masuk tapi tak yakin dipersilakan, dan Janari Nawangsih duduk sendirian di depan layar yang jadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu selepas tengah malam. Di layar itu ada angka yang tak bisa ia hentikan untuk terus ia baca ulang: tiga ratus dua puluh unduhan dalam tujuh hari, empat puluh tujuh balasan di utas diskusi arsip pracetak, dan grafik kecil yang menunjukkan kurva makalah Dr. Ardhi Renjani menanjak lebih curam daripada kurva apa pun yang pernah ia buat sepanjang kariernya sendiri — kecuali, mungkin, kurva cahaya yang memulai semua ini.
Ia menggulir ke bawah, meski sudah tahu tak ada gunanya. Sebagian besar komentar sopan, hati-hati, berbaju kata-kata akademis yang menolak berpihak secara terbuka. Tapi ada satu, dari seorang profesor tamu di lembaga astronomi ibu kota yang pernah menyalaminya di sebuah konferensi tiga tahun lalu, yang tak repot menyamarkan nadanya: *Saya menghargai kehati-hatian penulis pracetak ini dalam menunjukkan bahwa sebagian klaim serupa mungkin lahir dari confirmation bias pada peneliti yang terlalu lama menatap derau detektornya sendiri. Kadang yang paling sulit dilihat oleh seorang pengamat adalah batas antara sinyal dan keinginan.* Tidak ada nama Janari di situ. Tidak perlu. Semua orang yang membaca arsip itu tahu makalah siapa yang sedang disinggung.
Pintu berderit, dan Karu masuk membawa dua cangkir kopi yang uapnya lurus ke atas dalam udara dingin ruangan, tanda pemanas sudah dimatikan sejak dua jam lalu untuk menghemat anggaran yang makin diawasi. Ia meletakkan satu cangkir di samping keyboard tanpa bertanya izin, kebiasaan lama yang tak pernah berubah sejak Janari pertama kali datang ke observatorium ini.
"Masih di situ," kata Karu, bukan pertanyaan.
"Ada yang menyebutku pengamat yang terlalu lama menatap derau detektornya sendiri," kata Janari, dengan suara yang ia usahakan datar dan hampir berhasil.
Karu menyesap kopinya sebelum menjawab, caranya yang biasa untuk memberi waktu pada kata-kata agar tak tergesa. "Aku sudah tiga puluh tahun menatap derau detektor. Kalau derau bisa membuat orang gila, aku sudah gila sejak sebelum kau lahir." Ia menepuk bingkai pintu, isyarat bahwa itu sudah cukup jadi penghiburannya malam ini, dan berjalan kembali ke ruang osilator untuk memeriksa jam yang tak pernah benar-benar boleh ia tinggalkan lama-lama.
Sekar datang setengah jam kemudian, laptopnya sendiri di pelukan, wajahnya seperti orang yang baru saja membaca sesuatu yang tak sanggup ia simpan sendirian. "Ada yang mem-forward utas mailing list ke grup jurusan," katanya, agak terlalu cepat. "Seseorang bilang—" ia ragu.
"Bilang apa."
"Bilang kita sedang mengejar hantu." Sekar mengatakannya seperti melempar sesuatu yang panas, ingin cepat lepas dari tangan. "Bukan cuma satu orang. Ada yang menjawab setuju. Ada yang bilang kasihan, katanya, membuang karier untuk sesuatu yang mungkin cuma pantulan satelit yang belum ketahuan."
Janari menatap uap dari cangkirnya yang mulai mendingin. Kata itu — hantu — pas sekali, dan itu yang membuatnya menusuk. Bukan karena kejam, tapi karena, pada jam selarut ini, dengan angka unduhan Ardhi masih menyala di sudut layarnya, ia tak bisa langsung membantahnya dalam hati sendiri. Ia telah menghabiskan berbulan-bulan mengejar sesuatu yang menolak difoto dua kali dengan cara yang sama, sesuatu yang tampil sebentar lalu bersembunyi di balik sidereal yang sama, di jam yang berbeda-beda menurut kalender manusia. Kalau itu bukan hantu, ia sendiri kadang kesulitan menjelaskan bedanya.
"Aku tahu ini nyata," kata Sekar, seperti berusaha meyakinkan dirinya lebih dari meyakinkan Janari. "Aku ikut mengaudit setiap kejadian. Aku tahu mana yang kita buang karena satelit."
"Itu argumen kita," kata Janari. "Bukan argumen mereka. Mereka melihat pracetak yang menyebut nama lembaga ini di judul, dan grafik yang naik lebih cepat dari milik kita, dan seorang perempuan yang membela diri di forum publik alih-alih menyerahkan data mentah." Ia menutup laptop pelan-pelan, seolah menutupnya bisa menutup juga suara-suara di dalamnya. "Itu yang mereka lihat. Dan aku tak bisa menyalahkan cara mereka membaca."
Telepon di meja berdenting sebelum Sekar sempat menjawab. Nama yang muncul adalah Pak Wignya, jam yang tak wajar untuk telepon direktur mana pun kecuali direktur yang juga tak bisa tidur. Janari mengangkatnya, dan suara di seberang terdengar lebih tipis dari biasanya, seperti kertas yang sudah terlalu sering dilipat.
"Dewan bertanya lagi tadi sore," kata Wignya, tanpa basa-basi pembuka. "Salah satu anggota membawa pracetak Ardhi ke rapat. Aku sudah bilang kita punya rencana, punya jaringan, punya tanggal. Tapi Janari—" ia berhenti, dan dalam jeda itu Janari bisa mendengar sesuatu yang terdengar seperti napas yang ditahan terlalu lama. "Kalau malam itu nanti tidak memberi apa-apa yang jelas, aku tak yakin aku masih punya kalimat untuk membela kita."
"Aku tak bisa menjanjikan langit akan bekerja sama, Pak," kata Janari. "Aku cuma bisa menjanjikan kami akan mencatat apa pun yang sebenarnya terjadi."
Sambungan itu ditutup dengan kesopanan yang terasa seperti kelelahan, bukan kepercayaan. Janari duduk lama sesudahnya, cangkir kopi sudah dingin sepenuhnya di tangannya, dan ia memikirkan Prof. Danastri, tiga puluh tahun lalu, di titik yang mungkin sangat serupa dengan ini — sebelum semua orang tahu bagaimana kisahnya akan berakhir, sebelum kata hantu berubah menjadi kata yang menempel permanen pada namanya. Janari tak tahu apakah ia sedang berdiri di ambang pengulangan itu atau di ambang pembuktiannya. Yang ia tahu hanya bahwa jendela kejadian yang telah ia dan Danastri hitung bersama, dari dua zaman yang berbeda, kini tinggal menghitung hari, dan tak ada argumen di forum daring mana pun yang bisa mempercepat atau memperlambatnya barang sedetik. Ia mematikan lampu meja, membiarkan gelap ruang kendali menelan angka-angka yang membuatnya begitu berat malam itu, dan berjalan keluar menuju kubah, tempat satu-satunya jawaban yang tak peduli pada kata orang sedang menunggu di jam yang belum tiba.