Malam itu Janari menulis di kertas, bukan di layar.
Itu kebiasaan yang tak pernah ia jelaskan kepada siapa pun kecuali Karu, dan Karu tak pernah menanyakannya karena ia mengerti tanpa diberi tahu: sesuatu yang bisa dicentang dengan pena punya bobot yang tak dimiliki kursor. Ia menyalin daftar itu dari catatan usang berjudul "Prosedur Sebelum Kereta Lewat" yang dulu tergantung di kotak sinyal ayahnya, hanya menukar kata kereta dengan koordinat, dan sinyal dengan kedipan. Delapan belas butir. Ia sudah menghafalnya, tapi menghafal bukan alasan untuk berhenti menulis ulang tiap butir dengan tangan, sebab tangan yang menulis adalah tangan yang tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri soal apa yang sungguh sudah diperiksa dan apa yang baru dikira sudah diperiksa.
"Osilator," katanya, dan Karu, tanpa menoleh dari panel di sudut ruang kendali, menjawab, "Terkunci. Sudah kubandingkan dengan penerima kedua tadi sore. Selisihnya di bawah lima puluh nanodetik, dan itu pun kemungkinan besar derau kabel, bukan drift sungguhan."
"Tulis di lembar kalibrasi."
"Sudah."
Janari mencentang butir itu, lalu diam sebentar memandangi tinta yang masih basah, seakan tanda centang bisa luntur kalau ia terlalu cepat percaya padanya.
Detektor 70 cm sudah pulih sejak Karu menuntaskan perbaikan berminggu-minggu lalu, tapi malam ini mereka menjalankan uji darkframe sekali lagi, membandingkan setiap piksel dengan cetak biru derau lama, mencari piksel panas baru yang mungkin muncul diam-diam dan menyamar sebagai kedipan yang mereka cari. Nihil. Karu menandatangani hasilnya dengan inisial kecil di pojok kertas, kebiasaan yang ia bawa dari bengkel kereta tempat ia pernah magang sebelum pindah ke observatorium, tempat setiap komponen yang lolos pemeriksaan harus punya nama orang yang bertanggung jawab atasnya.
Sekar duduk di meja seberang dengan tiga telepon menyala dan satu radio dua-arah yang mendesis pelan. Ia sudah menghubungi setiap simpul jejaring amatir yang mereka bangun sepanjang punggung gunung, satu per satu, bukan lewat pesan berantai yang bisa disalahtafsirkan, melainkan percakapan langsung.
"Pak Slamet di Watubelah sudah pasang mounting baru, tapi katanya awan datang dari barat besok malam," lapor Sekar, mencatat di buku tulisnya sendiri, versi kecil dari kebiasaan Janari. "Bu Retno di punggung timur sudah tes kamera, filenya kukirim, timestamp-nya cocok dalam toleransi."
"Yang di Curug Manis?"
"Belum jawab teleponnya. Kucoba lagi jam sembilan."
"Coba sekarang. Jangan tunggu jam sembilan." Janari tidak menaikkan suara, tapi Sekar sudah memutar nomor lagi sebelum kalimat itu selesai, karena ia tahu, dari berbulan-bulan bekerja bersama Janari, bahwa kalimat semacam itu bukan perintah melainkan bagian dari daftar yang sama-sama mereka jaga.
Yang membuat Sekar berbeda dari mahasiswa lain yang pernah magang di observatorium bukan kecepatannya mengetik kode, meski itu juga penting, melainkan kesediaannya menelepon ulang seseorang untuk hal yang kelihatannya remeh: apakah tutup lensa sudah dilepas, apakah baterai sudah penuh, apakah jam di ponsel sudah disinkronkan lewat sinyal satelit navigasi dan bukan cuma jaringan seluler yang bisa meleset beberapa detik tanpa disadari siapa pun. Beberapa detik itu, bagi orang lain, tak berarti apa-apa. Bagi mereka, itu perbedaan antara korda yang bisa dipercaya dan korda yang akan dicurigai semua orang, termasuk diri mereka sendiri.
Menjelang tengah malam mereka menyalakan saluran radio ke stasiun tua Danastri, yang sekarang berdengung teratur dengan generator baru dan panel surya cadangan yang dipasang Karu dua minggu sebelumnya. Suara Danastri datang lewat radio, agak berderak, tapi tenang, jenis tenang yang menurut Janari hanya bisa dimiliki orang yang sudah pernah kehilangan segalanya dan tahu persis apa artinya kehilangan lagi.
"Jam di sini terkunci ke penerima yang sama dengan milikmu," kata Danastri. "Sudah kubandingkan tiga kali. Aku tidak akan mengulanginya kesepuluh kali hanya supaya kau merasa aman, Janari. Tapi aku akan mengulanginya sekali lagi besok pagi, karena begitulah caranya."
"Begitulah caranya," ulang Janari, dan di ujung radio itu ia mendengar semacam tawa kecil yang tidak sepenuhnya tawa.
Mereka membahas cuaca — pola awan yang diperkirakan bergerak dari barat, jendela cerah yang mungkin sempit, opsi menggeser sebagian stasiun amatir ke punggung timur bila langit barat tertutup. Tak satu pun dari mereka menyebut gala, atau dewan, atau tenggat yang membayangi semua ini seperti awan yang lain, awan yang tak bisa diperiksa dengan darkframe atau dibandingkan dengan cetak biru derau. Itu bukan bagian dari daftar. Daftar hanya berisi hal yang bisa dipastikan lewat pemeriksaan, dan Janari sengaja menjaganya tetap begitu, karena ayahnya pernah bilang bahwa orang yang mencampur hal yang bisa dipastikan dengan hal yang hanya diharapkan akan berakhir memberi sinyal aman untuk sesuatu yang sebenarnya masih ragu.
Ia mencentang butir kesepuluh, kesebelas, kedua belas, satu per satu, dan di sela-selanya ia menuliskan catatan kecil di margin: koreksi jam sidereal untuk lokasi Curug Manis, cadangan baterai untuk Watubelah, nomor kontak darurat Sekar bila jaringan seluler mati di punggung gunung. Karu memeriksa ulang kabel ground di setiap sambungan listrik, karena badai bisa datang sewaktu-waktu dan satu lonjakan tegangan bisa merenggut minggu-minggu kerja mereka dalam sepersekian detik.
Menjelang pukul dua, ketika hanya sisa tiga butir yang belum dicentang, Sekar akhirnya berhasil menghubungi Curug Manis. Suara di seberang terdengar mengantuk tapi yakin: mounting sudah stabil, kamera sudah teruji, jam sudah disinkronkan. Sekar mengulangi setiap kalimat itu kembali ke penelepon, meminta konfirmasi kedua, persis seperti yang diajarkan Janari, dan baru setelah jawaban kedua datang ia menuliskannya di buku catatan.
Janari menutup daftar ayahnya dengan tiga tanda centang terakhir, lalu meletakkan pena di atas meja, tepat sejajar dengan tepi kertas. Di luar jendela ruang kendali, langit masih berbintang, tenang, tak berawan untuk sementara, seakan-akan menunggu, sama seperti mereka, untuk melihat apakah semua yang telah disiapkan malam ini benar-benar cukup.