Ruang rapat di lantai bawah kubah tidak pernah dirancang untuk menampung begitu banyak orang berjas. Kursi-kursi lipat yang biasa dipakai untuk seminar mahasiswa kini berbaris rapi menghadap layar proyektor, dan bau kopi termos bercampur dengan bau dingin batu gunung yang menyusup dari ventilasi tua. Janari duduk di baris kedua, di antara Karu dan Sekar, dipanggil turun dari kubah tanpa penjelasan selain catatan singkat dari sekretariat: *Rapat Dewan Pengawas, kehadiran wajib.*
Pak Wignya berdiri di depan, dasinya sedikit miring, memegang penunjuk laser yang cahayanya gemetar di layar. Di baris depan, para anggota dewan duduk berjajar dengan map masing-masing di pangkuan—orang-orang yang Janari kenal wajahnya dari foto laporan tahunan, jarang dari pertemuan langsung. Broto Sasongko ada di ujung, kaki disilangkan, seolah ini pertunjukan yang sudah ia tonton berkali-kali dan tinggal menunggu babak terakhir.
"Sesuai hasil audit anggaran triwulan ini," kata Wignya, suaranya datar seperti orang membaca surat vonis yang ditulis orang lain, "posisi kas operasional observatorium akan mencapai titik kritis pada akhir tahun fiskal. Dewan meminta kejelasan arah sebelum keputusan dibuat."
Slide berganti. Grafik batang merah menurun, garis proyeksi memotong sumbu nol lebih cepat dari yang Janari duga. Ia sudah tahu angka-angka itu—ia sudah mendengarnya berbulan-bulan dalam berbagai nada, dari nada cemas Wignya sampai nada mengancam Broto. Yang belum ia dengar adalah apa yang diucapkan ketua dewan berikutnya, seorang perempuan berambut putih dengan kacamata baca yang ia turunkan sedikit sebelum berbicara.
"Untuk efisiensi," kata perempuan itu, "dewan memutuskan menggabungkan agenda. Gala ulang tahun ke-40 observatorium akan diselenggarakan sesuai rencana, sebagai kesempatan terakhir memperlihatkan capaian kepada para mitra dan penyandang dana." Ia berhenti, membalik satu halaman di mapnya. "Sidang pemungutan suara mengenai kelanjutan atau penutupan program akan digelar keesokan paginya. Kami tidak melihat alasan menunda lebih lama. Semua pihak yang relevan sudah akan berkumpul di tempat yang sama."
Ruangan diam sejenak, hanya suara kipas proyektor yang mendengung. Janari merasakan sesuatu di dadanya mengeras, bukan kaget—ia sudah menduga tenggat akan didekatkan—tetapi presisi keputusan itu yang membuatnya waspada, seperti mendengar detak jam yang tiba-tiba menyamai detak jantungnya sendiri.
"Tanggal pastinya?" tanya Wignya, dan untuk sesaat suaranya kehilangan kendali yang biasa ia jaga di depan bawahannya.
Ketua dewan menyebutkan tanggal itu. Sederhana, satu deret angka yang diketik di layar berikutnya sebagai judul acara: *Malam Penghargaan & Gala 40 Tahun Observatorium Tepi Lereng.* Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil, seolah tak ingin terlalu ditonjolkan: *Sidang Dewan Pengawas — 09.00 keesokan hari.*
Janari menuliskan tanggal itu di sudut buku catatannya, refleks lama dari kebiasaan mencatat apa pun yang keluar dari mulut orang berwenang. Lalu, saat penanya masih menempel di kertas, sesuatu di kepalanya berhenti.
Ia menghitung mundur, cepat, seperti orang yang tiba-tiba mendengar namanya dipanggil di ruang yang bising. Jendela kejadian dari model ephemeris gabungan—baseline tiga puluh tahun Danastri disambung dengan datanya sendiri, yang telah ia dan Sekar perbarui minggu lalu setelah Karu menuntaskan kalibrasi osilator—jatuh dalam rentang beberapa malam di sekitar tanggal itu. Ia tidak perlu membuka berkas untuk memastikannya; angka-angka itu sudah menempel di bawah kulitnya, dihafal seperti orang menghafal wajah seseorang yang penting.
Malam gala. Lalu sidang pemungutan suara keesokan paginya.
Dan di antara keduanya, dalam jendela beberapa jam yang sempit itu—jika model mereka benar, jika cuaca berpihak, jika segala sesuatu yang selama ini rapuh justru bertahan pada saat yang tepat—okultasi yang mereka kejar semestinya terjadi.
Ia merasakan Karu bergerak sedikit di sampingnya, dan ketika ia menoleh, mata teknisi tua itu sudah menatapnya, sudah sampai pada kesimpulan yang sama tanpa perlu bicara. Sekar, di sisi lain, masih menatap layar dengan wajah kosong, belum menyusun hitungan dalam kepalanya—tetapi Janari tahu itu hanya soal detik sebelum ia pun sampai ke sana.
"Ada pertanyaan?" tanya ketua dewan, memandang ke arah barisan kursi seolah pertanyaan itu formalitas belaka.
Tak ada yang mengangkat tangan. Broto tersenyum tipis dari ujung ruangan, seolah kombinasi tanggal itu adalah keberuntungannya sendiri—satu malam untuk memamerkan apa pun yang bisa ia pamerkan, tanpa ruang bagi keraguan untuk bernapas lebih lama.
Rapat dibubarkan dengan jabat tangan dan map yang ditutup. Di koridor menuju pintu keluar, Wignya berhenti sebentar di samping Janari, suaranya rendah, hanya untuk mereka berdua. "Kau dengar itu."
"Saya dengar," jawab Janari.
"Itu bukan permintaan lagi." Wignya menatapnya lurus, dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan tekanan, Janari melihat sesuatu yang bukan sekadar ketakutan kehilangan jabatan di mata lelaki itu—ada juga keletihan orang yang tahu ia sedang dipaksa memilih antara dua hal yang sama-sama tak bisa ia kendalikan.
Di luar, langit sore masih terang, awan tipis bergerak lambat ke arah timur, arah yang menurut prakiraan cuaca minggu itu belum bisa dipercaya. Janari berdiri sebentar di anak tangga observatorium, menatap punggung gunung yang mulai menggelap di kejauhan, menghitung ulang—bukan lagi hari, tetapi jam. Jam sidereal yang menentukan kapan bintang itu akan lewat di depan sesuatu yang tak terkatalog, dan jam sipil yang menentukan kapan nasib lembaga ini diputuskan oleh orang-orang yang tak pernah menatap langit lebih lama dari yang dibutuhkan sebuah foto rapat.
Untuk pertama kalinya, kedua jam itu nyaris berimpit sempurna, seolah semesta dan anggaran sama-sama telah menetapkan tenggat mereka pada malam yang sama—dan tak seorang pun yang merancang keduanya tahu bahwa mereka baru saja mengunci Janari dalam satu malam tunggal untuk membuktikan segalanya, atau kehilangan segalanya sekaligus.