Malam itu generator tua di halaman stasiun mendengung tak rata, seperti napas orang yang menahan batuk supaya tidak mengganggu yang lain. Janari duduk di kursi kayu bercat mengelupas, mengawasi layar laptop yang tersambung ke pencacah foton lewat kabel yang sudah ia solder ulang dua kali malam itu. Kubah kecil di atas mereka berderit setiap kali angin gunung menampar pelat sengnya, dan setiap derit membuat Janari mengecek ulang stempel waktu, seolah suara logam bisa menggeser angka-angka di layarnya.
"Sudah cocok," kata Danastri dari dekat jendela, tanpa menoleh. "Kau sudah mengeceknya tiga kali."
"Empat," kata Janari.
Danastri tersenyum tipis, menyeruput kopi yang sudah dingin sejak sejam lalu. Ia tidak pernah membuat kopi baru; ia hanya membiarkan yang lama makin pahit, seperti sengaja menghukum lidahnya sendiri.
Mereka sudah dua jam menyelaraskan osilator stasiun tua ini dengan penerima GPS yang baru Karu pasang, mencocokkan detak yang harus sama persis dengan detak di Tepi Lereng—milidetik demi milidetik, supaya kalau kedipan itu datang lagi, dua tempat bisa saling membuktikan, bukan saling meragukan. Pekerjaan itu selesai sudah sejak setengah jam lalu. Yang tersisa hanyalah dua orang, satu ruangan dingin, dan sesuatu yang belum selesai dikatakan.
"Aku menemukan ini tadi," kata Janari, mengangkat map kertas berlapis debu dari kotak yang belum sempat dipindahkan. Di sampulnya ada cap lembaga lama, dan di bawah cap itu satu paragraf yang sebagian kalimatnya digarisbawahi dua kali dengan tinta yang sudah pudar jadi cokelat.
Danastri tidak mendekat. Ia hanya menatapnya dari seberang ruangan, seperti menatap sesuatu yang sengaja ia kubur di bawah lantai dan kini terlihat kembali karena seseorang menggali di tempat yang salah.
"Surat pengunduran," katanya. "Bukan dari jabatan. Dari klaim."
Janari meletakkan map itu di meja, tidak membukanya lagi. "Bab tiga puluh dua, waktu itu, kaubilang Ardhi—maksudku, orang yang membantah kau dulu—membuktikan sebagian kejadianmu cuma kilau satelit. Dan semuanya runtuh setelah itu."
"Itu benar."
"Tapi bukan cuma itu, kan?"
Danastri diam cukup lama sehingga Janari mendengar generator di luar berubah nada, seperti kelelahan menahan beban yang sama terlalu lama.
"Sebelum makalah pembantahnya terbit," kata Danastri akhirnya, "direkturku memanggilku ke ruangannya. Bukan karena data. Karena jadwal. Tinjauan hibah lembaga jatuh enam minggu lagi, dan seorang anggota dewan sudah dengar desas-desus bahwa aku 'mengejar sesuatu yang aneh di langit'. Kata-kata itu sudah cukup untuk membuat wajahnya pucat."
"Dia menyuruhmu menarik."
"Dia menyuruhku 'mengklarifikasi'. Kata itu yang dia pakai. Dia bilang lebih baik kami yang mengaku duluan—bahwa sebagian kejadian kemungkinan besar artefak instrumen—daripada menunggu orang luar yang menemukannya dan mempermalukan lembaga di depan publik." Danastri menaruh cangkirnya di ambang jendela, pelan-pelan, seperti takut suara logam beradu porselen akan membuatnya kehilangan kalimat berikutnya. "Yang tidak dia katakan, tapi kutahu, adalah: kalau aku menolak, dan ternyata sebagian memang artefak—yang memang benar, sebagian memang begitu—maka bukan cuma aku yang jatuh. Seluruh program observasi ikut dipangkas. Tiga orang lain kehilangan pekerjaan mereka gara-gara aku."
Janari merasakan sesuatu yang dingin merayap naik dari perutnya, bukan karena udara malam.
"Jadi kau menandatangani."
"Aku menandatangani pernyataan bahwa deteksiku 'belum bisa dibedakan dari derau instrumen dan kontaminasi satelit'—kalimat yang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Sebagian kejadianku memang bersih. Aku tahu itu waktu menandatanganinya. Aku menghitungnya sendiri, tiga kali, seperti kau tadi." Danastri menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu matanya benar-benar bertemu mata Janari. "Aku pikir kalau aku mengalah dulu, aku bisa menyelamatkan yang lain, dan nanti, di lain waktu, dengan data lebih baik, aku bisa membuktikannya lagi. Aku pikir itu penundaan, bukan penyerahan."
"Lalu Ardhi—orang itu—tetap menerbitkan pembantahannya."
"Tiga minggu kemudian. Dan lembaga yang tadinya menyuruhku diam-diam ikut menandatangani, tiba-tiba berdiri jauh dariku, seolah aku bertindak sendirian. Tak ada yang membela penundaanku sebagai kehati-hatian. Semua orang membacanya sebagai pengakuan bahwa aku memang mengarang." Danastri tertawa pendek, tanpa nada geli sama sekali. "Yang paling menyakitkan bukan direkturku menyuruhku menarik, Janari. Yang paling menyakitkan adalah aku menurut. Aku tahu sebagian datanya bersih, dan aku tetap menandatangani kalimat yang mengatakan sebaliknya, karena aku pikir itu jalan yang lebih bijaksana."
Angin menampar kubah sekali lagi, dan kali ini keduanya membiarkan derit itu berlalu tanpa memeriksa layar.
"Kau pikir aku akan diminta hal yang sama," kata Janari pelan.
"Aku pikir kau sudah diminta hal yang sama, hanya belum dengan kata-kata setegas itu." Danastri mengambil map berdebu itu, membukanya di halaman yang digarisbawahi, lalu mendorongnya ke seberang meja tanpa benar-benar melihatnya lagi. "Kalau nanti seseorang menyodorkan kertas dan bilang tanda tanganmu akan menyelamatkan orang lain, tanyakan dulu untuk siapa sebenarnya penyelamatan itu. Untuk kebenaran yang belum selesai kau buktikan, atau untuk mereka yang takut menunggu sampai selesai."
Janari tidak menjawab. Ia menatap kalimat bergaris di kertas itu, kalimat yang ditulis oleh seseorang yang tiga puluh tahun lalu sudah pernah berdiri di persimpangan yang sama, dan memilih jalan yang tampak lebih aman—lalu menemukan bahwa jalan itu sama sekali tidak aman untuknya sendiri.
Di luar, generator akhirnya menemukan iramanya, mendengung stabil, seolah sudah lelah menahan napas.