Cermin di kamar mandi observatorium sudah lama tidak jujur padanya. Janari baru menyadarinya malam itu, ketika air keran yang ia percikkan ke wajah tidak juga mengusir kunang-kunang di tepi penglihatannya, dan ia terpaksa berpegangan pada wastafel selama beberapa detik sebelum berani mengangkat kepala. Wajah yang menatap balik dari kaca itu bertulang lebih tajam daripada yang ia ingat. Tulang pipinya menonjol seperti singkapan batu yang tersapu air lama. Di bawah mata, warna keunguan yang dulu hilang setelah tidur semalam, kini menetap seperti noda yang tak lagi bisa dicuci.
Ia mengangkat lengan bajunya dan melihat pergelangan tangan sendiri—lebih kurus dari yang pantas untuk perempuan yang makan tiga kali sehari, andai ia memang makan tiga kali sehari. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali menghabiskan satu piring penuh tanpa berhenti di tengah untuk memeriksa notifikasi pipa deteksi, dan tidak menemukan jawabannya. Yang ia temukan hanya barisan cangkir kopi dingin berjajar di meja kerja, sisa tiga hari, dan sebungkus biskuit yang sudah melempem karena dibuka lalu dilupakan.
Tangannya sendiri yang membuatnya paling waspada. Ketika ia mengetik ulang parameter korda untuk kesekian kali malam itu, jarinya gemetar sedikit di atas papan ketik—getaran halus yang bisa saja ia abaikan sebagai efek dingin gunung, andai getaran itu tidak juga muncul ketika ia memegang gelas air di ruang makan, atau ketika ia mencoba menulis catatan tangan di buku lapangan dan huruf-hurufnya keluar lebih miring dari biasa, seperti tulisan orang yang terburu-buru padahal ia sedang duduk diam.
Ponselnya bergetar di sudut meja, layarnya menyala lalu padam sendiri tanpa ia sentuh. Ada tujuh pesan yang belum dibaca dari nomor yang sudah lama tak ia balas—teman kuliahnya dulu, yang pernah satu asrama dengannya waktu masih sama-sama mahasiswa gugup di jurusan fisika, sekarang mengirim undangan pernikahan dua bulan lalu dan sejak itu tak pernah mendapat jawaban selain satu emoji hati yang Janari kirim tergesa-gesa di sela rapat. Ia tahu ia seharusnya menelepon, meminta maaf, menjelaskan bahwa ia sedang mengejar sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan barang semalam. Tapi setiap kali ia membuka aplikasi itu, matanya lebih dulu jatuh ke notifikasi pipa deteksi, dan jarinya bergerak ke sana, bukan ke kolom pesan.
Ibunya menelepon dua kali minggu itu. Panggilan pertama terjawab, sepuluh menit yang penuh jeda karena Janari separuh mendengarkan, separuh membaca layar kedua yang menampilkan kurva cahaya mentah. Panggilan kedua tidak sempat ia angkat sama sekali; ia baru melihatnya jam tiga pagi, lampu ikon merah kecil di sudut layar, dan ketika ia membalas dengan pesan singkat—maaf, Bu, sedang di observatorium—balasannya datang tanpa marah, hanya, tidak apa, Nari, jaga makan, yang justru membuatnya menahan napas lebih lama daripada tegur menegur biasa.
Karu menemukannya begitu, terduduk di kursi putar dengan kepala bersandar ke meja dan mata terbuka menatap kosong ke arah layar yang sudah gelap karena mode hemat daya. Ia tidak buru-buru membangunkannya, hanya meletakkan termos di sisi lengan Janari, cukup dekat agar uapnya tercium.
"Makan," kata Karu, bukan pertanyaan.
"Sudah," jawab Janari, meski keduanya tahu jawaban itu bohong yang sudah basi karena terlalu sering diucapkan.
Karu menarik kursi lain, duduk tanpa buru-buru pergi seperti biasanya ketika giliran jaganya usai. Ia menuang isi termos ke tutupnya sendiri, semacam soto bening yang baunya mengingatkan Janari pada dapur yang sudah lama tak ia kunjungi, dan mendorongnya pelan ke depan Janari.
"Aku bukan menyuruhmu berhenti," katanya, matanya tidak menuduh, hanya lelah dengan cara yang berbeda dari lelahnya Janari. "Cuma menyuruhmu tetap ada, sampai selesai. Kalau kau roboh duluan, siapa yang membaca hasilnya nanti?"
Janari tidak menjawab segera. Ia menatap kepulan uap yang naik dari cangkir, lalu menatap tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar saat mengangkatnya. Ia pikir tentang berapa banyak yang telah ia tukar untuk deretan angka di layar itu—bukan hanya waktu, yang murah dibicarakan, tapi tidur yang sungguh-sungguh, tubuh yang percaya pada dirinya sendiri, orang-orang yang dulu tahu wajahnya sebelum tahu pekerjaannya. Ia memikirkan sahabatnya yang menikah tanpa dirinya, ibunya yang belajar untuk tidak berharap ditelepon balik tepat waktu, dan dirinya sendiri yang tidak lagi ingat rasanya bangun tanpa langsung menghitung berapa jam sebelum jendela pengamatan berikutnya.
Ia menyesap sup itu perlahan, dan untuk sesaat rasa hangatnya terasa asing, seperti sesuatu yang datang dari kehidupan lain yang sudah lama ia tinggalkan di pintu observatorium.
"Aku tidak menyesal," katanya akhirnya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Karu.
"Aku tahu," jawab Karu. "Itu yang membuatku khawatir."
Di luar jendela, langit gunung sudah gelap sempurna, bintang-bintang berkelip dengan ketenangan yang tak peduli pada berapa banyak yang telah dikorbankan untuk memahaminya. Janari menatapnya sebentar, lalu menunduk kembali ke layar, ke barisan angka yang menuntutnya kembali—dan tangannya, meski gemetar, tetap terulur ke papan ketik, karena ia sudah memilih harga itu jauh sebelum tahu berapa besarnya, dan tidak ada jalan untuk membatalkan pilihan yang sudah lama berjalan sejauh ini.