Dua kedipan dari satu teropong adalah cerita yang menarik dan tidak meyakinkan siapa pun. Janari tahu ini sekeras ia tahu apa pun. Sains modern tidak mempercayai pengamat tunggal, dan untuk alasan yang baik: mata bisa keliru, alat bisa punya cacat yang sama berulang-ulang, dan otak manusia luar biasa pandai menemukan pola di tempat yang tidak ada polanya. Satu observatorium yang mengaku melihat hantu adalah persis definisi klaim yang tidak bisa direproduksi. Itu yang menjatuhkan Pak Suta. Janari tidak akan jatuh dengan cara yang sama.
Ia butuh saksi kedua. Lebih tepatnya, ia butuh sesuatu yang lebih halus dan lebih indah: ia butuh okultasi yang sama direkam dari tempat yang berbeda di muka bumi pada saat yang sama. Inilah keajaiban metode okultasi yang dulu diajarkan Pak Suta padanya. Kalau sebuah benda menutup bintang, bayangannya jatuh ke bumi seperti bayangan benda kecil yang melintas di depan lampu jauh. Bayangan itu menyapu permukaan bumi sebagai sebuah pita gelap. Kalau beberapa teleskop tersebar di garis tegak lurus terhadap arah bayangan, masing-masing akan melihat bintang padam sedikit berbeda lamanya—yang di tengah pita melihat padam paling lama, yang di tepi paling sebentar, yang di luar pita tidak melihat apa-apa. Dari perbedaan durasi padam di stasiun-stasiun itu, kau bisa menggambar tali busur melintasi benda itu. Beberapa tali busur, dari beberapa stasiun, dan kau bisa mengukur ukuran benda yang tidak pernah kau lihat. Kau menimbang hantu dengan bayangannya.
Satu teleskop hanya bisa berkata 'bintang padam.' Banyak teleskop yang tersebar bisa berkata 'benda itu selebar sekian kilometer, bergerak ke arah sana, sejauh sekian.' Perbedaannya adalah perbedaan antara anekdot dan pengukuran.
Maka Janari mulai menyusun jaringan. Bagian pertama mudah dan menyenangkan: para amatir. Indonesia punya komunitas pengamat langit yang serius, orang-orang dengan teleskop kecil di halaman belakang dan kamera yang dikalibrasi waktu lewat sinyal satelit, yang memburu okultasi sebagai hobi yang nyaris religius. Mereka tersebar di berbagai kota, dan mereka tidak punya reputasi institusi untuk dijaga, jadi mereka tidak takut pada hantu. Janari menghubungi beberapa yang ia kenal lewat milis pengamat. Ia tidak menyebut 'benda gelap raksasa.' Ia hanya berkata ia punya prediksi okultasi oleh benda tak dikatalog, dan ia ingin tahu apakah ada yang mau membantu merekam dari lokasi mereka pada malam yang ia hitung. Ia merancang ramalannya: malam berikutnya benda itu—jika ada—akan menutup sebuah bintang yang lebih terang, di petak yang bisa ia hitung dari dua titik datanya, dan bayangannya akan menyapu sebagian pulau. Ia menggambar pita bayangan ramalan dan meminta para amatir berdiri di sepanjang garis tegak lurus terhadapnya.
Mereka antusias. Itu bagian yang menghangatkan hatinya di tengah semua ketakutan. Tiga pengamat amatir mengiyakan—satu di kota pantai, satu di dataran tinggi tetangga, satu lagi yang bersedia berkendara ke titik yang ia tentukan. Tapi teleskop amatir kecil, dan bintang targetnya, meski lebih terang dari yang pertama, masih redup untuk alat sebesar itu. Ramalan yang lemah pada alat yang lemah; kalau cuma amatir yang merekam dan hasilnya kabur, klaim itu tetap rapuh. Ia butuh satu lagi: sebuah observatorium sungguhan, dengan teropong besar, di lokasi yang berbeda jauh dari Tepi Lereng, untuk memberi tali busur yang panjang dan stempel waktu yang tak terbantah.
Di situlah politik masuk, seperti dingin yang merembes lewat celah pintu.
Observatorium besar terdekat yang bisa membantu adalah Observatorium Cakrabuana, fasilitas modern di gunung lain, dengan teropong satu setengah meter dan pendanaan yang sehat. Dan Cakrabuana dipimpin oleh Profesor Hardjanto Brotoseno—nama yang sudah Janari temukan di arsip, di surat-surat tiga puluh tahun lalu, sebagai salah satu pengamat senior yang menyatakan klaim Sutawijaya 'tidak dapat direproduksi.' Lelaki yang dulu ikut menyimpulkan bahwa gurunya keliru. Lelaki itu kini tua, dihormati, berkuasa di setiap komite pendanaan astronomi di negeri ini, dan memegang salah satu dari sedikit teleskop yang bisa memvalidasi—atau mematahkan—klaim Janari.
Ia menelepon Cakrabuana dengan tangan yang dingin. Profesor Brotoseno sendiri yang menjawab setelah ia menjelaskan, suaranya halus, sopan, dan setajam pisau di balik beludru. 'Okultasi oleh benda tak dikatalog,' ulangnya, pelan, seolah mengecap kata-kata itu. 'Menarik. Kau dari Tepi Lereng, katamu. Tempat lama Sutawijaya.' Hening sebentar. 'Kau tahu cerita itu, tentu.'
'Saya tahu, Prof,' kata Janari, memaksa suaranya rata.
'Maka kau tahu betapa berbahayanya petak langit yang kau kejar.' Profesor itu tidak menolak. Itu yang membuat Janari merinding. 'Aku akan bantu. Cakrabuana akan merekam malam itu. Demi ilmu, dan demi kehati-hatian.' Ia berhenti. 'Tapi kau mengerti, kalau kami merekam dan benda itu ada, maka penemuan ini juga milik Cakrabuana. Dan kalau kami merekam dan tidak ada apa-apa—' suaranya melembut lagi '—maka aku berharap, Nak, demi dirimu sendiri, kau cukup bijak untuk tidak mengulangi kesalahan gurumu di depan publik. Sekali sudah cukup memalukan bagi tempat itu.'
Ia menutup telepon. Janari berdiri lama memegang gagangnya. Ia baru saja menyerahkan kunci validasinya ke tangan orang yang punya alasan untuk tidak ingin ia benar—orang yang reputasinya, tiga puluh tahun lalu, dibangun sebagian di atas keruntuhan Pak Suta. Saksi kedua yang ia butuhkan untuk menjadi sah adalah orang yang dulu ikut memadamkan gurunya. Dan tidak ada jalan lain. Itulah harga dari menuntut kebenaran yang bisa diverifikasi: kadang yang memegang verifikasinya adalah orang yang paling tidak menginginkanmu menemukan kebenaran itu.