Peta awan itu berputar di layar seperti sesuatu yang hidup: dua belas jam terakhir dimampatkan jadi animasi lima detik, gumpalan putih merayap dari barat laut, menebal tepat di atas punggung gunung tempat kubah observatorium berdiri, lalu—untuk sesaat, hanya sesaat—menipis, sebelum menebal lagi. Janari menonton putaran itu untuk ketiga kalinya, seakan pengulangan bisa mengubah apa yang ditunjukkannya.
Tiga malam lagi. Jendela yang mereka hitung dari gabungan baseline tiga puluh tahun—miliknya dan Danastri—menunjuk satu rentang beberapa jam pada satu malam tertentu, dan malam itu, menurut dua model yang saling bersilangan di layarnya, kemungkinan besar akan tertutup.
Ia membuka model kedua di jendela sebelah, lalu yang ketiga. Ensemble global bilang tujuh puluh persen tertutup awan menengah di sisi barat punggung gunung, hanya tiga puluh di sisi timur. Model lokal, yang biasanya lebih tajam untuk topografi seperti ini, bilang sebaliknya—front hujan datang lebih lambat, sisi timur yang justru basah dulu. Dua model, dua cerita. Ia menuliskan keduanya di buku catatan tanpa mencoret satu pun, persis seperti diajarkan ayahnya bertahun-tahun lalu tentang laporan yang berbeda dari dua pos yang sama: jangan pilih yang enak didengar, catat keduanya, lalu tunggu yang ketiga.
“Sudah lihat citra satelit jam tiga tadi?” Karu masuk membawa kotak alat, meletakkannya di lantai dengan bunyi berat logam beradu logam. Di dalamnya, dua unit osilator cadangan dan satu gulungan kabel antena GPS yang baru ia solder ulang semalaman. “Awan itu bukan lapisan tipis. Itu sistem. Datang dari laut.”
“Aku tahu.” Janari menggeser kursor, membandingkan dua panel berdampingan. “Pertanyaannya bukan datang atau tidak. Pertanyaannya di mana celahnya, dan berapa lama celah itu bertahan.”
Karu berjongkok di sampingnya, menatap layar dengan alis berkerut, cara seorang teknisi menatap sesuatu yang tak bisa ia perbaiki dengan tangan. “Kalau kubah utama tertutup saat detik prediksi lewat, kita cuma dapat satu titik korda yang hilang. Semua perhitungan Ardhi—dan bantahannya nanti—akan bilang kita tak pernah benar-benar melihat apa-apa.”
“Makanya kubah utama bukan satu-satunya titik.” Janari menarik peta topografi yang sudah ditandai spidol merah sejak dua bulan lalu—garis korda yang mereka rancang melintang punggung gunung, dari kubah observatorium ke stasiun-stasiun amatir yang dikoordinasi Sekar, turun ke lembah, sampai ke stasiun tua Danastri di sisi yang berlawanan. “Kita sebar. Bukan cuma demi baseline yang lebih panjang. Demi peluang salah satu dari kita punya langit cerah.”
Sekar muncul dari pintu dengan telepon menempel di telinga, menutup mikrofon sebentar dengan telapak tangan. “Kelompok amatir di Cangkring bilang mereka mau pindah ke bukit sebelah kalau memang perkiraan barat lebih buruk. Tapi mereka minta koordinat baru paling lambat besok siang, biar sempat izin lahan.”
“Beri mereka dua set koordinat,” kata Janari. “Satu untuk skenario front datang cepat, satu untuk skenario front datang lambat. Suruh mereka siapkan keduanya malam ini juga, putuskan besok sore setelah citra satelit terbaru masuk.”
“Ada satu hal lagi,” tambah Sekar, menurunkan telepon dari telinga. “Salah satu anggota grup amatir bilang dia juga dihubungi tim Dr. Ardhi Renjani. Menanyakan koordinat prediksi kita—katanya untuk ‘verifikasi independen.’”
Janari tidak terkejut. Ia sendiri yang membagikan ephemeris itu secara terbuka, sadar betul siapa saja yang bisa memanfaatkannya. “Biarkan. Kalau lembahnya cerah dan kubah kita tertutup, lebih baik ada yang merekam kejadian itu daripada tidak ada sama sekali—siapa pun dia.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan, “Tapi itu juga berarti kita tak bisa berharap cuaca buruk menutupi kesalahan siapa pun. Kalau kita meleset malam itu karena awan, dia akan bicara di depan umum seolah kita memang tak pernah punya apa-apa.”
Sekar mengangguk, lalu ragu sebentar sebelum bertanya, “Kalau semua titik tertutup malam itu?”
Tak ada yang menjawab segera. Itu pertanyaan yang sudah lama mengambang di ruangan tapi baru sekarang diucapkan keras-keras, dan mendengar suaranya sendiri di ruangan ini rasanya berbeda dari sekadar memikirkannya sendirian di depan layar jam dua pagi.
“Maka kita tunggu ulangannya,” kata Janari akhirnya. Bukan jawaban yang menenangkan, tapi jawaban yang jujur, dan ia sudah lama berhenti berpura-pura kedua hal itu selalu sama. “Kita punya ephemeris. Kalau bukan malam ini, ada perhitungan untuk kesempatan berikutnya. Lebih lama menunggu, ya. Tapi bukan tamat.”
Karu berdiri, menepuk debu dari lututnya. “Aku akan bawa satu set osilator cadangan ke stasiun lembah besok pagi. Kalau GPS di sana lagi rewel, aku tak mau tahu di malam kejadian.”
“Bawa dua,” kata Janari. “Yang satu untuk stasiun Danastri. Aku sudah telepon dia tadi—unitnya masih yang lama, belum kau perbarui firmware-nya.”
Karu mendengus, setengah keluhan, setengah kepuasan seorang tukang yang tahu pekerjaannya belum selesai dan justru menyukainya begitu. Ia mengangkat kotak alat lagi dan keluar tanpa membalas.
Janari menutup laptop pelan-pelan, bukan karena sudah selesai, tapi karena matanya mulai membaca gumpalan piksel sebagai bentuk yang tak lagi ada di sana—tanda ia sudah terlalu lama menatap. Di luar jendela, langit malam itu sendiri masih jernih, bintang-bintang tergantung diam seolah tak ada yang sedang dipertaruhkan atas mereka. Tiga malam lagi langit yang sama bisa saja tertutup rapat, dan tak ada jumlah kehati-hatian yang bisa memaksa awan untuk sopan.
Yang bisa ia lakukan hanyalah menyebar taruhannya cukup lebar—cukup banyak titik, cukup banyak mata—sehingga keberuntungan cuaca, kalau pun jahat di satu tempat, mungkin masih murah hati di tempat lain. Itu bukan kepastian. Itu hanya cara terbaik yang ia punya untuk membuat ketidakpastian bekerja untuknya, bukan melawannya, dan malam ini itu harus cukup.
Ia membuka buku catatan sekali lagi, menuliskan kedua prakiraan yang saling bertentangan berdampingan, dan di bawahnya satu baris yang lebih terasa seperti doa daripada catatan lapangan: sebarkan stasiun, gandakan kesempatan, tunggu langit memutuskan.