Malam itu layar kerja Janari menampilkan tiga kolom angka yang telah ia periksa sampai empat kali: waktu sidereal prediksi, ketidakpastian dalam detik, dan lebar jalur bayangan yang akan menyapu punggung gunung. Semua berasal dari gabungan baseline—data lamanya sendiri, dijahit dengan buku catatan Danastri yang berdebu, dikoreksi gerak orbit lambat yang mereka simpulkan bersama. Ephemeris itu bukan tebakan lagi. Itu jam yang berdetak menuju satu malam tertentu, tiga bulan dari sekarang, dan siapa pun yang memegangnya bisa mengarahkan teleskop ke titik yang sama pada detik yang sama.
Termasuk Dr. Ardhi Renjani.
Ia sudah menuliskan draf pengumuman tiga kali, dan tiga kali menghapusnya. Draf pertama menyertakan koordinat lengkap, jendela waktu, dan ajakan kolaborasi ke seluruh jejaring astronomi amatir kawasan itu—termasuk kanal yang biasa dipakai lembaga besar untuk memantau prediksi okultasi. Draf kedua ia potong separuh, menyisakan hanya perkiraan kasar, cukup untuk Sekar dan tim relawan tapi terlalu kabur untuk siapa pun menyusun rencana pengamatan serius. Draf ketiga ia hapus tanpa sempat dibaca ulang.
"Kau menatap layar itu seperti menatap sinyal yang tak yakin warnanya," kata Karu, muncul dari balik pintu ruang kendali dengan dua cangkir kopi yang sudah dingin separuh perjalanan dari dapur.
"Karena memang begitu." Janari menerima cangkirnya tanpa meminumnya. "Kalau aku bagikan ini penuh—koordinat, jendela waktu, semuanya—Ardhi bisa memesan waktu teleskop di lembaganya sendiri malam itu juga. Dia punya cermin lebih besar, detektor lebih baru. Kalau dia menangkap kejadian yang sama, dia bisa menerbitkan lebih cepat dariku. Dengan namanya di depan."
"Dan kalau kau tidak membagikannya?"
"Aku sendirian dengan jejaring amatir dan stasiun tua Danastri. Kalau awan menutup satu titik penting malam itu, korda bisa gagal. Aku butuh sebanyak mungkin mata di langit yang sama." Ia meletakkan cangkir itu, jarinya masih di atas trackpad, kursor melayang di atas tombol kirim yang belum pernah ia tekan. "Tapi kalau aku sembunyikan sebagian supaya cuma timku yang bisa memakainya penuh—itu bukan lagi ilmu terbuka. Itu perlombaan yang aku curangi supaya menang."
Karu duduk di kursi sebelah, tidak buru-buru menjawab. Itu salah satu hal yang membuat Janari memercayainya sejak dulu: ia tidak pernah terburu memberi pendapat sebelum benar-benar menimbangnya.
"Ayahmu," katanya akhirnya, "kalau ia tahu ada kereta lain di jalur yang sama, ditahannya sinyal itu supaya masinis satu lagi tak bisa lewat duluan?"
Pertanyaan itu menohok tepat di tempat yang Karu maksudkan. Janari memejamkan mata sebentar. Ayahnya tidak pernah menahan informasi demi keuntungan siapa pun—sinyal yang ia berikan selalu untuk semua kereta yang lewat, bukan hanya yang ia sukai.
"Bukan itu yang kutakutkan," katanya pelan. "Yang kutakutkan bukan kalah cepat. Yang kutakutkan, kalau dia menangkap kejadian itu duluan dengan datanya sendiri, dia yang menentukan bagaimana ceritanya diceritakan. Dan aku sudah lihat bagaimana ia suka membesar-besarkan sesuatu yang belum pasti."
"Maka biarkan dia menangkapnya," kata Karu. "Kalau kejadian ini nyata, korda tidak peduli siapa yang melihatnya duluan. Ia hanya peduli apakah kau mengukurnya dengan jujur. Kalau kau menyembunyikan ephemeris supaya cuma kau yang menang, dan ternyata kau salah, kau juga yang sendirian menanggungnya. Kalau kau membagikannya, dan Ardhi menangkap kejadian yang sama di stasiunnya, itu bukan kekalahanmu. Itu konfirmasi independen. Itu justru yang paling sulit dibantah siapa pun."
Kalimat itu diam-diam mengubah bentuk masalah di kepala Janari. Ia selama ini menganggap ephemeris sebagai aset yang bisa dicuri. Tapi kalau dilihat dari sisi lain—semakin banyak teleskop yang mengarah ke titik dan detik yang sama, semakin sulit hasilnya disangkal sebagai kebetulan atau artefak instrumen tunggal. Itulah justru yang selama ini ia perjuangkan sejak kasus Danastri: bukti yang tak bisa dipatahkan satu sanggahan pun, karena berdiri di atas banyak saksi independen, bukan satu.
Sekar masuk sesaat kemudian, membawa hasil kalibrasi terbaru dari stasiun Danastri, dan mendapati keduanya diam menatap layar yang sama.
"Kalian menatap apa?"
"Keputusan," kata Janari. Ia menoleh ke gadis itu, murid yang sudah pernah goyah dan kembali, dan merasa aneh betapa jujurnya ia ingin bersikap di depan Sekar, seolah setiap pilihannya sekarang sedang direkam untuk diteruskan. "Kalau aku umumkan prediksi ini terbuka, siapa pun—termasuk Ardhi—bisa memakainya. Menurutmu aku harus bagaimana?"
Sekar menimbang sebentar, lalu menjawab tanpa keraguan yang biasanya menghinggapinya belakangan ini. "Bagikan. Kalau kita benar, semakin banyak yang melihatnya, semakin ia tak bisa dibantah. Kalau kita salah, lebih baik banyak orang tahu lebih awal daripada kita menyembunyikannya sampai terlambat."
Itu jawaban yang sama seperti Karu, dari mulut yang berbeda, dan mendengarnya dua kali membuat sesuatu di dada Janari mengendur.
Ia menarik napas, membuka kembali draf pertama yang sudah ia hapus dua kali, menulisnya ulang dari nol—koordinat penuh, jendela waktu, ketidakpastian yang jujur ia cantumkan sampai ke desimal terakhir, dan permintaan terbuka kepada siapa pun yang punya akses teleskop di garis lintang yang tepat untuk turut mengamati. Ia menyertakan nama Danastri sebagai kontributor data baseline, karena itu memang haknya. Ia tidak menyertakan permintaan supaya hasil dibagi dulu dengannya sebelum diumumkan ke publik—itu akan membuat keterbukaan ini setengah hati, dan setengah hati bukan yang ia mau.
Kursor melayang di atas tombol kirim untuk terakhir kalinya. Ia mengingat kotak sinyal ayahnya, aturan yang sederhana dan tak pernah berubah: sinyal yang benar diberikan untuk semua kereta, bukan hanya yang ingin kau menangkan.
Ia menekan kirim.
Balasan pertama datang dalam dua jam, dari sebuah alamat surel yang ia kenal—milik laboratorium Ardhi Renjani—hanya berisi satu baris konfirmasi bahwa jendela waktu telah dicatat. Tidak ada nada mengejek di dalamnya, tidak ada apa-apa selain fakta dingin bahwa sekarang mereka berdua akan menatap langit yang sama, pada detik yang sama, dan apa pun yang muncul di sana akan menjadi milik siapa pun yang cukup jujur untuk melaporkannya apa adanya.