Malam itu kotak masuk suratnya menyimpan satu pesan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat daripada seharusnya untuk sebuah surel administratif.
*Perihal: Permohonan Waktu Pengamatan Prioritas — Komite Alokasi Jaringan Teleskop Regional.*
Nama pemohon tercantum di baris kedua, dengan huruf tebal yang seolah sengaja menyorot dirinya sendiri: Dr. Ardhi Renjani, Lembaga Astronomi Lembah Windu. Koordinat yang diminta hampir sama persis dengan yang telah dihitung Janari bersama Danastri selama tiga minggu terakhir—selisihnya hanya beberapa menit busur, jarak yang bisa dijelaskan oleh pembulatan, bukan oleh kebetulan. Jendela waktu yang diminta pun berhimpit: malam yang sama yang telah ia tandai di kalender dengan tinta merah, malam yang menurut ephemeris gabungan tiga puluh tahun itu adalah kesempatan berikutnya benda gelap itu lewat.
Ia membaca surel itu tiga kali sebelum memanggil Sekar.
"Lihat ini," katanya, memutar layar.
Sekar membungkuk, matanya menyipit membaca koordinat. "Itu... itu jendela kita. Bagaimana dia bisa tahu?"
"Bukan tahu persis. Menghitung ulang." Janari menyandarkan punggung ke kursi, memandang langit-langit kubah yang gelap di luar cahaya monitor. "Kita menerbitkan analisis artefak waktu Bab lima puluh dua—yang menunjukkan bagaimana kita menyaring kejadian bersih dari yang terkontaminasi satelit. Kita tidak mempublikasikan ephemeris penuh. Tapi kita menyebutkan periode sidereal, dan siapa pun yang cukup teliti bisa merekonstruksi jendela kasarnya dari situ."
"Jadi dia menghitung ulang dari remah-remah yang kita tinggalkan."
"Remah yang harus kita tinggalkan, kalau mau disebut jujur." Kalimat itu keluar lebih pahit dari yang ia niatkan.
Telepon di meja berdenting sebelum Sekar sempat menjawab. Karu, dari ruang kendali osilator, suaranya datar seperti biasa tapi bergegas. "Kau sudah baca suratnya?"
"Sudah."
"Komite mau memberi waktu ke siapa yang mengajukan lebih dulu secara resmi, atau membagi dua kalau permintaannya tumpang tindih dan alasannya kuat. Renjani menyebut ini 'peninjauan independen atas anomali yang diklaim lembaga tetangga'—dia tidak menyebut namamu, tapi semua orang di komite tahu siapa yang dimaksud."
Janari menutup mata sebentar. Peninjauan independen. Kata-kata itu terdengar mulia di kertas, seperti sains yang sedang menjalankan fungsinya yang paling sehat—memverifikasi, tidak sekadar memercayai. Tapi ia tahu persis apa maksudnya: bila Ardhi berhasil mengamati jendela yang sama dari teleskopnya sendiri, dan mendapati langit kosong—atau, lebih buruk, mendapati sesuatu yang bisa ia tafsirkan sebagai artefak—ia akan menerbitkannya lebih cepat daripada Janari bisa menyelesaikan analisis korda multi-stasiunnya sendiri. Dan siapa pun yang berbicara duluan, di panggung publik yang sudah dipanaskan oleh pracetak dan liputan Larasati, akan dianggap benar lebih dulu, terlepas dari kualitas datanya.
"Dia tidak butuh menemukan apa-apa," kata Janari pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia hanya butuh mengatakan bahwa dia mencoba, dan tidak menemukan. Itu sudah cukup untuk menabur keraguan sebelum kita sempat bicara."
"Atau," sela Karu, "dia menemukan sesuatu yang mirip, dari instrumen yang tidak sekalibrasi dengan kita, dan mengklaimnya sebagai temuannya sendiri."
Sekar berdiri dari kursinya, gelisah. "Bisa kita ajukan keberatan ke komite? Bilang dia memakai perhitungan turunan dari kerja kita?"
"Dan mengaku di depan komite bahwa kita punya ephemeris yang jauh lebih presisi dari yang pernah kita akui di makalah?" Janari menggeleng. "Itu sama saja membuka semua kartu sebelum waktunya."
Ia berdiri, berjalan ke jendela kubah yang menghadap ke lereng gelap. Di bawah, lampu-lampu kota kecil di kaki gunung berkedip lemah, seragam, tidak seperti bintang yang berkedip karena turbulensi udara. Ia pernah diajari membedakan keduanya sejak kecil—cahaya buatan tidak pernah benar-benar tenang, katanya ayahnya dulu, karena manusia yang menyalakannya juga tidak pernah benar-benar tenang.
"Berapa lama sebelum komite memutuskan?" tanyanya akhirnya.
"Dua minggu," jawab Karu. "Mereka bisa membagi waktu kalau dua fasilitas ingin mengamati objek yang sama untuk tujuan berbeda. Tapi kalau salah satu pihak menyatakan ini investigasi independen atas klaim yang belum terverifikasi, biasanya diberi prioritas—supaya tidak ada kesan satu lembaga menjaga monopoli atas datanya sendiri."
"Jadi dia menang dua kali," gumam Sekar. "Kalau kita menolak berbagi, dia terlihat seperti pihak yang jujur dan kita yang bersembunyi. Kalau kita berbagi, dia bisa mendahului mengumumkan."
Tak seorang pun menjawab untuk sesaat. Di layar, kursor berkedip di ujung surel yang belum dibalas, seolah menagih keputusan yang belum bisa diberikan malam itu juga.
Janari memikirkan Danastri, tiga puluh tahun lalu, menghadapi versi lain dari pertanyaan yang sama—bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi tentang seberapa banyak yang boleh ia percayai pada datanya sendiri sebelum dunia memutuskan untuk tidak memercayainya sama sekali. Ia tidak ingin mengulang kesalahan itu. Tapi ia juga tidak ingin membiarkan ketakutan akan pengulangan membuatnya menyembunyikan sesuatu yang seharusnya terbuka.
"Aku tidak akan menjawab malam ini," katanya akhirnya, menutup laptopnya. "Tapi aku juga tidak akan berpura-pura ini bukan perlombaan. Kalau dia mau mengamati langit yang sama, biarkan. Yang jadi soal bukan siapa yang sampai duluan ke sana." Ia menatap Sekar dan Karu bergantian. "Soalnya siapa yang berani mengatakan apa yang sebenarnya dilihatnya, apa pun itu."
Di luar, awan tipis melintas pelan di depan bulan sabit, dan untuk sesaat kubah observatorium gelap sepenuhnya, seakan langit sendiri sedang menimbang siapa yang layak dipercaya menatapnya lebih dulu.