Malam gladi itu Janari memilih target yang paling tidak romantis yang bisa dibayangkan: sebuah bintang katalog HIP bernomor sembilan digit, magnitudo sebelas, akan diokultasi oleh asteroid sabuk utama seukuran kota kecil, pada pukul dua dini hari, di langit yang tidak menyimpan rahasia apa-apa. Semua orang di jejaring sudah tahu jam kejadiannya sampai ke detik, sudah tahu berapa lama gelapnya akan berlangsung, sudah tahu bentuk kurva cahaya yang mestinya muncul di layar. Itulah intinya. Kalau metode ini tidak bisa menangkap sesuatu yang sudah diramalkan orang lain bertahun-tahun sebelumnya, ia tidak berhak memakainya untuk mengejar sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun.
Ia menaruh kertas hitung di atas meja kendali, walau semua angka sudah tersalin ke pipa otomatis Sekar. Kebiasaan lama—dari ayahnya, dari buku catatan kereta—tidak pernah benar-benar hilang: kalau mesin bisa dipercaya, tulis juga di kertas, supaya ada dua saksi yang tak saling kenal.
"Semua stasiun check-in," kata Karu dari kursinya, headset menempel di satu telinga, telinga yang lain terbuka mendengarkan kubah. "Tepi Lereng, siap. Amatir korda utara—dua unit siap, satu masih kalibrasi fokus. Stasiun Danastri—"
Ia menunggu. Radio berdesis.
"Stasiun Danastri siap," jawab suara di ujung sana, dan Janari mengenali iramanya sebelum mengenali kata-katanya: getir, hati-hati, seperti seseorang yang sudah lama tidak memakai suara itu untuk hal-hal yang penting. Danastri, di kaki gunung sebelah, di observatorium yang dulu ditinggalkannya sendiri, kini duduk di depan panel yang baru saja dibersihkan Karu dari tiga puluh tahun debu.
Sekar duduk di sisi Janari, mata terpaku pada tampilan galat waktu-nyata yang baru selesai ia tulis ulang. Ada sesuatu yang berbeda pada caranya duduk sekarang, sesuatu yang lebih tegak. Ia sudah kembali dua minggu, dan sejak itu bekerja seperti orang yang sedang membayar utang tanpa pernah menyebut utang apa.
"Berapa lama sampai kontak pertama?" tanya Janari.
"Enam belas menit," kata Sekar. "Kurva prediksi sudah kumuat. Kalau semua jalan benar, kita akan lihat kedip di semua stasiun dalam jendela dua koma tiga detik."
Dua koma tiga detik. Itu jarak antara kubah-kubah yang tersebar di punggung gunung diterjemahkan menjadi waktu, gara-gara bayangan asteroid itu menyapu tanah pada sudut tertentu, menyentuh satu stasiun sebelum yang lain, seperti tirai ditarik miring melintasi sederet jendela. Kalau perhitungan Janari benar, kalau osilator-terkunci-GPS yang baru diperbaiki Karu benar-benar seragam sampai sub-milidetik di semua titik, mereka akan melihat penggelapan bintang itu menjalar dari utara ke selatan persis seperti model memprediksinya.
Kalau tidak—kalau selisihnya melenceng, kalau satu stasiun mencatat kedip pada waktu yang tak masuk akal—maka semua yang mereka rencanakan untuk malam sesungguhnya, malam yang belum diketahui langit mana pun kecuali perhitungan Janari sendiri, akan runtuh sebelum sempat dimulai.
Ia tidak mengizinkan dirinya memikirkan itu. Malam ini bukan tentang lintang yang padam di jam salah. Malam ini tentang jam itu sendiri—apakah jam-jam itu, di tempat-tempat berbeda, benar-benar bisa dipercaya untuk bicara satu sama lain.
"Sembilan menit," kata Karu.
Ruang kendali menjadi hening dengan cara tertentu yang hanya dikenal orang-orang yang sudah lama menunggu sesuatu bersama. Di luar kubah, angin menampar dinding logam pelan-pelan, dan Janari mendengar derik kipas pendingin detektor 70 cm seperti detak jantung yang terlalu tenang untuk dipercaya.
Ia mengingat ayahnya di kotak sinyal, malam-malam ketika kereta yang dinanti belum juga tampak lampunya di kejauhan, dan bagaimana ayahnya tak pernah menutup mata meski tak ada apa-apa untuk dilihat selama berjam-jam. Menunggu bukan kekosongan. Menunggu adalah bagian dari pengukuran.
"Empat menit," kata Sekar, suaranya nyaris berbisik, seakan bisa mengusir kejadian jika bicara terlalu keras.
Layar Janari menunjukkan kurva cahaya bintang HIP itu masih datar, konstan, membosankan seperti seharusnya. Ia menatapnya dengan cara yang sama ia menatap semua kurva selama berbulan-bulan terakhir: menunggu ia berbohong.
"Satu menit."
Karu membuka kanal radio ke semua stasiun sekaligus. "Semua unit, siaga. Sinkronkan jam kalian sekali lagi kalau bisa. Kita cuma dapat satu kesempatan malam ini."
Dari kejauhan, suara Danastri menjawab, datar tapi jelas. "Siaga."
Detik-detik terakhir berjalan seperti biasanya berjalan, yaitu terlalu lambat lalu tiba-tiba selesai. Janari melihat garis pada layarnya menukik—turun, bukan berkedip sekali seperti anomali yang mengejarnya selama ini, melainkan sungguh-sungguh gelap, memanjang, persis sesuai model: bintang itu tenggelam di balik tepi asteroid dan tinggal di sana selama sepersekian detik yang telah dihitung sebelumnya sampai desimal ketiga.
"Kontak di Tepi Lereng," kata Karu, suaranya nyaris datar tapi tangannya sudah menekan tombol pencatat waktu.
Radio berderak. "Kontak di stasiun korda utara," kata suara amatir yang belum pernah ditemui Janari secara langsung, hanya lewat panggilan-panggilan larut malam berbulan-bulan ini.
Lalu, setelah jeda yang menurut model harus persis sekian ratus milidetik: "Kontak," kata Danastri, dan ada sesuatu dalam satu kata itu yang membuat Sekar menoleh cepat ke arah Janari, seperti mendengar sesuatu retak dan sembuh dalam waktu bersamaan.
Sekar sudah menyusun angka-angka itu berdampingan sebelum siapa pun sempat berbicara lagi: waktu kontak di tiga stasiun, selisih antar-stasiun, dan proyeksi geometris yang mestinya keluar dari selisih itu. Ia membandingkannya dengan efemeris yang sudah diketahui untuk asteroid tersebut—ukuran, jarak, kecepatan bayangannya menyapu tanah.
"Selisihnya," kata Sekar pelan, seperti tidak percaya pada suaranya sendiri, "dua koma dua sembilan detik. Model bilang dua koma tiga."
Janari menatap angka itu lama, membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang mendekati lega tanpa benar-benar menjadi lega—karena lega penuh berarti berhenti memeriksa, dan ia belum berhak berhenti memeriksa.
"Itu di dalam galat," katanya akhirnya. "Metodenya bekerja."
Karu tidak tersenyum, tapi tangannya berhenti sejenak di atas panel, seperti orang yang meletakkan alat setelah pekerjaan panjang selesai untuk sementara. Dari radio, suara Danastri terdengar lagi, lebih pelan dari sebelumnya, hampir untuk dirinya sendiri, tapi kanal itu terbuka dan semua orang mendengarnya.
"Tiga puluh tahun," katanya, "dan jam-jam ini akhirnya bicara satu sama lain."
Janari tidak menjawab. Ia menatap kurva cahaya yang sudah kembali datar di layarnya, bukti kecil dan membosankan bahwa jaring yang mereka rentangkan di punggung gunung bisa dipercaya untuk mengukur kegelapan yang sudah dikenal. Yang belum dikenal masih menunggu di suatu tempat pada langit, pada jam sidereal yang sama, tak peduli berapa lama mereka bersedia menunggunya.