Angin malam turun dari punggung gunung dengan bau logam dingin, khas ketinggian yang belum sempat menyerap panas matahari. Janari masih di depan layar ketika pintu kubah berderit dan seseorang berdiri ragu di ambang, membiarkan udara luar ikut masuk sebelum akhirnya menutupnya sendiri.
"Aku boleh masuk?"
Sekar. Sudah dua minggu ia tak menampakkan diri di ruang kendali, sejak rapat kelompok riset Ardhi Renjani mengundangnya "sekadar berdiskusi metode." Janari tidak bertanya waktu itu. Ia hanya mencatat kekosongan di jadwal piket, seperti mencatat gangguan pada kurva cahaya — ada, tanpa buru-buru menuduhnya derau atau sinyal.
"Karu baru saja menyelesaikan sinkronisasi," kata Janari, tidak menoleh penuh, membiarkan Sekar memilih sendiri seberapa dekat ia mau berjalan. "Semua stasiun sekarang berbagi stempel waktu yang sama sampai sub-milidetik. Kita bisa membandingkan kedipan dari titik mana pun di jaring dan tahu persis apakah itu detik yang sama atau bukan."
"Aku dengar." Sekar melangkah, berhenti di dekat meja, tangannya menggenggam tali ransel seolah itu satu-satunya hal yang menahannya berdiri tegak. "Karu yang cerita. Katanya kau tidak tidur tiga malam."
"Dua." Janari akhirnya berputar di kursinya. Wajah Sekar tampak lebih kurus, matanya menghindar seperti orang yang sudah menyusun kalimat berkali-kali dan masih tidak yakin urutan yang benar.
Diam berlangsung cukup lama sampai suara kipas pendingin server jadi satu-satunya bunyi di ruangan.
"Aku sempat menyerahkan salinan catatan pipa deteksi ke tim Pak Ardhi," kata Sekar akhirnya, cepat, seperti melompat dari tepi sebelum sempat berpikir ulang. "Bukan data mentah. Bukan kejadian. Cuma — cara kerja filternya. Logikanya. Dua minggu lalu, sebelum pracetak itu terbit."
Janari tidak menjawab dulu. Ia membiarkan kalimat itu mengendap, mencoba mendengarnya sebagai data, bukan sebagai luka.
"Kenapa?"
"Karena mereka bilang aku akan dapat nama di publikasi kolaborasi. Karena skripsiku butuh pembimbing kedua dan pembimbingku sekarang—" Sekar berhenti, menelan sesuatu yang lebih pahit dari sekadar kata. "Karena aku takut. Kalau observatorium ini tutup tahun depan, aku tidak tahu harus lanjut di mana. Pak Ardhi menawarkan itu seolah gratis. Aku hampir percaya."
"Hampir."
"Aku memberi mereka logika filter, lalu pulang, dan tidak bisa tidur. Bukan karena takut ketahuan." Sekar akhirnya menatap Janari langsung, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, suaranya tidak gemetar. "Karena aku ingat kau pernah bilang, kalau kita mengukur sesuatu dengan cara yang kita sembunyikan dari orang yang berhak tahu, itu bukan sains lagi, itu cuma... pertunjukan yang kebetulan pakai angka."
Janari mengenali kalimatnya sendiri, dikembalikan dengan aksen yang lebih muda, lebih takut, tapi tidak kurang jujur.
"Aku menelepon mereka besoknya," lanjut Sekar. "Bilang aku salah, minta supaya tidak dipakai di mana pun. Mereka bilang sudah terlambat, sudah masuk draf internal. Aku tidak tahu apa itu benar atau gertakan. Makanya aku tidak berani datang. Aku pikir kau akan—" ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
"Mengusirmu?"
Sekar mengangguk kecil, seperti mengaku pada dirinya sendiri lebih dari pada Janari.
Janari berdiri, berjalan ke meja tempat cetakan kurva cahaya tergeletak — hasil validasi malam itu, garis lurus rapi yang menandakan dua stasiun kini berdetak dalam satu napas yang sama. Ia menyodorkannya, bukan sebagai pengalih perhatian, tapi sebagai sesuatu yang perlu dilihat bersama.
"Waktu aku hampir menaikkan angka signifikansi minggu lalu," kata Janari pelan, "aku sudah duduk di depan lembar kerja, jari di atas tombol. Bukan berbohong penuh. Cuma—melebih-lebihkan sedikit. Cukup supaya Wignya berhenti menekan, cukup supaya Broto senang, cukup supaya semuanya berhenti sebentar." Ia menghela napas. "Aku tahu persis rasa hampir itu. Rasanya seperti pintu yang kelihatan gampang dibuka, dan semua orang di sisi lain seolah menunggumu membukanya."
"Tapi kau tidak membukanya."
"Karena aku ingat ayahku bilang sinyal yang kau ragukan, kau sebut merah. Bukan karena aku lebih baik darimu." Janari menatapnya lurus. "Aku cuma lebih dulu diberi tahu aturan itu. Kau baru menemukannya sendiri, dengan cara yang lebih menyakitkan."
Sekar menunduk, dan untuk sesaat bahunya berguncang tanpa suara. Janari tidak mendekat memeluknya — ia bukan orang yang begitu — tapi ia menarik kursi kedua ke dekat meja, mengetuknya pelan sebagai isyarat, dan Sekar duduk.
"Kalau mereka pakai logikamu itu untuk mengklaim sesuatu," kata Janari, "kita akan hadapi nanti, dengan data, bukan dengan menyembunyikanmu. Yang penting sekarang: kau kembali, dan kau bilang sendiri, bukan menunggu ketahuan."
"Itu penting?"
"Itu satu-satunya yang penting."
Sekar mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu menatap layar di depan mereka — angka-angka pewaktuan yang kini serasi hingga digit terakhir, hasil kerja keras Karu semalam suntuk.
"Aku masih boleh ikut menjalankan pipa untuk jendela prediksi nanti?"
"Kau yang menuliskan separuh kodenya," jawab Janari. "Tentu saja."
Di luar, angin gunung mereda sedikit, dan bintang-bintang yang tampak dari kubah terbuka berkedip stabil, satu per satu, tak satu pun di antaranya menunjukkan tanda akan padam pada jam yang salah. Sekar menarik napas panjang, seolah baru sekarang udara dingin itu terasa bisa dihirup penuh, dan mulai membuka laptopnya, kembali bekerja seperti sebelum semuanya nyaris retak.