Malam itu Karu tidak tidur, dan Janari tahu sebabnya sebelum ia sempat bertanya: layar di ruang kendali menyala dengan grafik gerigi yang tak mau diam, garis merah yang harusnya lurus tapi melompat-lompat seperti detak jantung yang gugup.
"Sudah tiga jam begini," kata Karu tanpa menoleh. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena kurang tidur yang dipilihnya sendiri. "Osilator di stasiun Danastri dan punya kita sepakat sampai satu milidetik. Tapi begitu kumasukkan data dari jaringan amatir, semua berantakan lagi."
Janari menarik kursi, duduk di sampingnya. Di meja, tiga laptop menyala berdampingan, masing-masing menampilkan cap waktu dari stasiun yang berbeda—observatorium utama, stasiun tua milik Danastri yang baru bangkit dari tidur panjangnya, dan simpul-simpul kecil milik para pengamat langit amatir yang tersebar di punggung gunung. Semuanya seharusnya berdetak dari sumber yang sama: sinyal satelit navigasi yang mengalir dari langit tanpa peduli siapa yang menangkapnya. Tapi kenyataan, seperti biasa, lebih berantakan daripada teorinya.
"Berapa selisihnya sekarang?" tanya Janari.
"Kadang dua milidetik, kadang delapan." Karu mengetuk layar dengan buku jarinya, seolah itu bisa memaksa angka-angka itu mengaku. "Untuk korda, itu bencana. Kau tahu sendiri—kalau dua stasiun mencatat kedipan yang sama tapi jamnya meleset delapan milidetik, kita tak bisa bilang itu kejadian yang sama. Kita cuma akan bilang 'mungkin.' Dan 'mungkin' tak akan menyelamatkan siapa pun."
Kata itu—menyelamatkan—menggantung sebentar di udara, dan keduanya membiarkannya lewat tanpa disentuh. Ada terlalu banyak hal yang bergantung pada presisi ini untuk dibicarakan setiap malam.
Janari memandangi grafik itu lebih lama. Ia tahu prinsipnya luar kepala: osilator terkunci-GPS seharusnya menjaga setiap stasiun berdetak pada frekuensi yang sama, disiplinkan oleh pulsa-per-detik yang dipancarkan satelit navigasi. Di atas kertas, itu sempurna—semua jam di bumi bisa disinkronkan ke sumber tunggal yang mengorbit di luar jangkauan gempa, listrik padam, atau perangkat yang menua. Tapi kertas tidak punya kabel sepanjang delapan puluh meter yang menghantarkan pulsa itu dari antena ke penerima, dan kabel punya kelambatan sendiri, sekecil apa pun.
"Coba kutebak," kata Janari pelan. "Jaringan amatir pakai penerima murah. Firmware-nya menghitung pulsa-per-detik dengan cara yang beda dari milik kita."
Karu menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu ada sesuatu yang mendekati senyum di wajahnya yang lelah. "Kau belajar cepat. Tapi bukan cuma itu. Coba lihat ini."
Ia menggeser salah satu laptop mendekat, membuka log mentah penerima GPS milik salah satu pengamat amatir. Deretan angka berbaris turun, dan di antaranya, sesekali, ada lonjakan kecil—bukan derau acak, tapi pola yang berulang setiap beberapa menit.
"Ini bukan derau," kata Karu. "Ini kesalahan yang konsisten. Penerima murah ini mengoreksi jamnya sendiri tiap kali menangkap satelit baru—setiap kali konstelasi di atas kepala berubah, ia menggeser sedikit referensinya. Perangkat mahal kita punya osilator kristal yang menjaga kestabilan di antara koreksi. Yang murah ini tidak. Ia goyah setiap kali langit bergeser."
Janari merasakan sesuatu yang dingin dan jernih menjalar di dadanya—bukan kegembiraan, belum, tapi pengenalan. Ini jenis masalah yang bisa dipecahkan, karena punya bentuk. Bukan hantu, bukan keraguan filosofis tentang apakah matanya sendiri bisa dipercaya. Ini kabel, firmware, dan matematika koreksi.
"Kalau begitu kita tidak butuh penerima yang lebih mahal," katanya. "Kita butuh cara menghitung mundur kesalahannya."
"Sudah kupikirkan." Karu menarik napas panjang, lalu mulai mengetik, jarinya yang kasar bergerak dengan kelenturan yang selalu mengejutkan Janari—dua puluh tahun lebih pengalaman tersimpan di ujung-ujung jari itu. "GPS pandangan-bersama. Kita tidak percaya jam mutlak dari tiap penerima. Kita bandingkan dua penerima yang menangkap satelit yang persis sama, pada saat yang sama, lalu kita hitung selisihnya relatif satu sama lain. Kesalahan sistemik pada tiap unit—termasuk yang goyah tadi—saling meniadakan kalau kita bandingkan dengan benar."
"Itu butuh log mentah dari semua stasiun. Bukan cuma cap waktu akhirnya."
"Sudah kuminta semua orang mengirimkannya." Karu menunjuk map berisi berkas yang sudah menumpuk di layar sebelah. "Sekar yang mengumpulkan dari jaringan amatir. Danastri kirim sendiri, tanpa banyak tanya—wanita itu makin gampang dipercaya belakangan ini."
Mereka bekerja tanpa banyak bicara setelah itu. Janari menulis ulang bagian dari kode penyelarasan, memasukkan koreksi pandangan-bersama yang dirumuskan Karu di atas kertas dengan tulisan tangan yang nyaris tak terbaca kecuali oleh dirinya sendiri. Jendela demi jendela dibuka dan ditutup, angka-angka diperiksa, dibuang, dihitung ulang. Di luar, langit gunung sudah mulai memucat di ufuk timur sebelum salah satu dari mereka mengangkat kepala lagi.
Ketika grafik itu akhirnya muncul—garis merah yang tadinya bergerigi, kini rata, hampir seperti digambar dengan penggaris—Karu tidak bersorak. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sebentar, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terlihat.
"Sub-milidetik," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik, seperti tak percaya kata-katanya sendiri. "Di semua stasiun. Bahkan yang di jaringan amatir."
Janari memeriksa angka itu tiga kali sebelum mengizinkan dirinya percaya. Sembilan stasiun, sembilan jam yang berbeda dunia dan anggaran, kini berdetak sebagai satu jam tunggal, terikat bukan oleh kepercayaan tapi oleh matematika yang bisa diperiksa siapa saja.
"Ini artinya," kata Janari pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "kalau sesuatu berkedip di dua tempat pada instan yang sama, kita akan tahu itu instan yang sama. Bukan mungkin. Tahu."
Karu mengangguk, matanya masih tertutup. "Ayahmu akan suka ini," katanya, dan Janari tidak bertanya bagaimana ia tahu tentang ayahnya sampai sedetail itu—hanya menerima bahwa Karu, seperti biasa, memperhatikan lebih banyak daripada yang pernah ia perlihatkan. "Jam yang tak bisa dibantah. Itu yang selalu ia mau, bukan?"
Janari tidak menjawab. Ia hanya menatap garis lurus di layar itu lama-lama, membiarkan dirinya, untuk sesaat yang singkat dan hati-hati, merasa seperti sesuatu yang mustahil baru saja menjadi mungkin.