Stasiun itu berdiri di punggung bukit yang lebih rendah dari Tepi Lereng, dikepung cemara yang menahan kabut sejak sore. Ketika Janari memarkir mobil di tanah becek dekat pagar besi berkarat, ia melihat cahaya sudah menyala di jendela kubah kecil itu — bohlam tunggal, kuning tua, seperti mata yang baru dibuka setelah tidur panjang.
Danastri berdiri di ambang pintu, mengenakan mantel yang kebesaran, tangannya sudah kotor oleh gemuk pelumas.
"Aku sudah membuka kuncian kubah sejak siang," katanya, tanpa basa-basi. "Motornya masih hidup. Aku sendiri hampir tak percaya."
Di dalam, bau logam dan minyak tua bercampur dengan debu yang terbakar perlahan oleh panas lampu pemanas ruangan. Teleskop reflektor 40 sentimeter — jauh lebih kecil dari milik Janari di Tepi Lereng — berdiri di tengah, tabungnya dilapisi cat hijau tentara yang mengelupas di beberapa sudut. Di sampingnya, meja kayu penuh buku log berjilid kanvas, dan sebuah fotometer foto-pengganda yang bagi Janari terasa seperti melihat museum yang masih bernapas.
"Ini yang dulu kaupakai," ujar Janari, bukan pertanyaan.
"Ini yang dulu memberitahuku ada sesuatu di langit yang tak seharusnya ada," jawab Danastri. Ia mengelap tangan ke mantelnya. "Dan ini juga yang membuat orang bilang aku hanya membaca derau instrumen tua yang tak bisa dipercaya."
Janari meletakkan tasnya di lantai, mengeluarkan laptop, kotak penerima GPS, dan kabel-kabel yang sudah ia gulung rapi malam sebelumnya. Rencananya sederhana di atas kertas: menyambungkan penerima waktu terkunci-GPS ke fotometer tua itu, sehingga setiap kali cahaya bintang kalibrasi jatuh pada detektor, waktunya tercatat dalam kerangka yang sama dengan detektor 70 sentimeter di Tepi Lereng. Dua metode, satu jam.
"Kau yakin alat kotak kecil itu bisa bicara dengan mesin sebesar ini?" Danastri menunjuk fotometer dengan dagu, nada skeptis yang menyembunyikan sesuatu yang lebih dekat dengan harap.
"Ia tidak peduli umur alatnya," kata Janari sambil membuka penutup port lama di sisi fotometer, mencari celah untuk menyisipkan relai sinyal. "Ia hanya butuh pulsa listrik setiap kali cahaya terdeteksi. Waktu, ia yang urus."
Mereka bekerja dalam diam untuk sementara, hanya suara obeng beradu dengan sekrup berkarat, napas yang mengembun di udara dingin kubah. Danastri menyalakan drive jam sideris manual — roda gigi tua yang berputar mengikuti bintang, bukan matahari, benda yang dulu ia percayai bisa membawanya lebih dekat kepada kebenaran sebelum kebenaran itu berbalik menggigitnya. Janari mendengar dengus mesin itu, detak yang tidak sepenuhnya rata, dan merasakan sesuatu yang aneh: bahwa jam ini, jam sidereal tua ini, adalah saudara dari jam yang berdetak di kubahnya sendiri, hanya terpisah tiga puluh tahun karat.
"Aku dulu menyetel jam ini dengan telinga," kata Danastri tiba-tiba, tanpa menoleh dari panelnya. "Mendengarkan detak roda gigi, membandingkannya dengan sinyal waktu radio. Kesalahan sepersekian detik kuanggap sudah bagus sekali."
"Sekarang kita butuh kesalahan di bawah semilidetik," jawab Janari, "kalau mau membandingkan kejadian di sini dengan kejadian di Tepi Lereng dan menyimpulkan itu benda yang sama."
Danastri berhenti. Ia menatap layar laptop Janari, angka-angka yang berkedip menandai stempel waktu satelit yang mengunci ke jaringan penentu posisi global, presisi yang tiga dekade lalu tak terbayangkan olehnya.
"Kalau dulu aku punya ini," katanya pelan, "mungkin tak ada yang bisa menuduhku mengarang."
Janari tidak menjawab langsung. Ia menyambungkan kabel terakhir, menyalakan penerima, menunggu lampu hijau kecil berkedip stabil — tanda kunci terhadap konstelasi satelit sudah didapat.
"Kita coba dulu pada bintang yang kita kenal," katanya. "Sesuatu yang sudah pasti waktunya, supaya kita tahu berapa jauh dua jam kita meleset satu sama lain."
Mereka mengarahkan kedua instrumen — satu di sini, satu lewat sambungan jarak jauh yang sudah disiapkan Karu di Tepi Lereng — pada bintang terang yang okultasinya oleh bulan sudah diprediksi hingga sepersekian detik oleh almanak astronomi. Danastri duduk di kursi kayu depan fotometer, jarinya melayang di atas sakelar pencatat seperti dulu, seakan tiga puluh tahun tak pernah lewat.
Ketika bulan mulai menutupi tepi bintang itu, cahaya meredup di kedua layar hampir bersamaan — hampir. Janari menahan napas, menatap dua kolom angka yang muncul berdampingan di laptopnya: stempel waktu dari kubah tua ini, dan stempel waktu yang dikirim Karu dari Tepi Lereng.
Selisihnya empat puluh tujuh milidetik.
Bukan nol. Belum cukup baik untuk klaim apa pun yang berarti. Tapi juga bukan detik, bukan menit — jarak yang, tiga puluh tahun lalu, tak akan pernah bisa diukur sekecil itu sama sekali.
Danastri menatap angka itu lama sekali, lalu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti sesuatu yang berkarat ikut bergerak untuk pertama kalinya.
"Empat puluh tujuh milidetik," katanya. "Dulu aku akan membunuh untuk kesalahan sekecil itu."
"Belum cukup," Janari mengingatkan, meski suaranya tak sekeras biasanya. "Kita masih perlu menutup selisih itu sebelum data dari dua stasiun bisa disatukan jadi satu korda yang bisa dipertanggungjawabkan."
"Aku tahu." Danastri melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung mantel. "Tapi coba pikirkan, Janari. Metode yang menghancurkanku, dan metode yang mungkin menyelamatkanmu — malam ini keduanya menunjuk jam yang sama, sampai empat puluh tujuh milidetik. Itu bukan kebetulan kecil bagiku."
Di luar, kabut mulai turun lebih tebal, menelan cahaya kubah kecil itu perlahan-lahan. Janari mencatat angka selisih itu di buku lognya sendiri, di halaman yang sama tempat ia sudah menyalin sebagian isi buku catatan Danastri yang berdebu — dua tulisan tangan, dua zaman, sekarang berbagi satu kolom waktu yang belum sempurna, tapi untuk pertama kalinya, berbicara bahasa yang sama.