Hujan reda sekitar pukul tiga, tapi Janari baru menyadarinya ketika jarinya berhenti di atas papan ketik dan ia mendengar betapa sunyi kaca jendela itu sekarang, tanpa rintik yang menamparnya sejak senja. Layar laptop masih menyala, memuat lembar kerja yang sudah dibukanya sejak sore: daftar stasiun, koordinat, jendela waktu, dan barisan nama yang belum membalas pesannya. Beberapa kotak di kolom "konfirmasi" masih kosong. Ia sudah terlalu lama menatapnya seolah kekosongan itu bisa terisi sendiri kalau ia cukup sabar.
Malam sebelumnya semuanya runtuh berurutan, satu demi satu, seperti kartu domino yang memang sudah ditata untuk jatuh: anggaran cadangan yang ditolak rapat dewan, dua sukarelawan amatir yang mundur karena cuaca, dan pesan singkat dari Sekar yang hanya berbunyi maaf, aku belum bisa memutuskan, tanpa penjelasan lain. Janari sudah membalasnya, lalu menghapus balasannya, lalu menulis ulang sesuatu yang lebih pendek dan lebih sabar dari yang sebenarnya ia rasakan. Ia tidak menyalahkan Sekar. Ia hanya lelah menopang keyakinan orang lain sementara keyakinannya sendiri diuji tiap malam oleh cuaca, birokrasi, dan wajah-wajah yang mulai memandangnya seperti orang yang mengejar sesuatu yang tak ada.
Ia menutup laptop sebentar, hanya untuk mendengar bunyi kipas prosesor mereda, dan menyandarkan punggung ke kursi kantor yang sudah terlalu tua untuk menahan berat siapa pun dengan nyaman. Di meja, di antara tumpukan cetakan kurva cahaya, ada buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah retak di sudut-sudutnya — bukan miliknya, melainkan salinan yang ia buat dari catatan Danastri, tulisan tangan yang rapat dan hati-hati, seolah sang penulis tahu suatu hari nanti kata-katanya akan diperiksa oleh orang yang tidak percaya. Ia membuka halaman yang sudah ia lipat sudutnya, tempat Danastri menulis satu kalimat yang tak ada hubungannya dengan data: yang membunuh penemuan bukan cuaca, bukan saingan, tapi menunggu izin dari orang yang tidak akan pernah memberimu izin.
Janari membaca kalimat itu dua kali, lalu meletakkan buku catatan kembali, persis di sudut yang sama.
Ia teringat kotak sinyal ayahnya — bukan sebagai kilas balik yang runtuh dan detail, hanya sebagai bentuk yang samar di benaknya: papan pengumpil yang berat, lampu merah dan hijau yang tak boleh tertukar, dan satu aturan yang tak pernah dijelaskan dua kali karena tak perlu. Sinyal aman yang kau ragukan, kau sebut merah. Tapi ada satu hal lagi yang jarang diucapkan ayahnya, sesuatu yang baru sekarang terasa relevan: bahwa memasang sinyal, aman atau merah, adalah tanggung jawab orang yang berdiri di depan tuas itu, bukan tanggung jawab orang yang menunggu di kantor pusat untuk memberi restu. Kejujuran sinyal tidak butuh persetujuan atasan. Ia butuh orang yang bersedia menariknya sendiri, dan menanggung akibatnya sendiri.
Ia membuka laptop lagi.
Bukan untuk memeriksa data — untuk itu semua sudah selesai diperiksa berkali-kali sampai matanya perih. Ia membuka surel baru, kosong, dan mulai mengetik ke alamat Wignya, lalu berhenti di kalimat kedua. Ini bukan surel yang meminta izin. Ia menghapusnya, dan menulis yang lain: pemberitahuan, bukan permohonan. Dua baris, memberitahu bahwa ia akan mengambil cuti pribadi untuk minggu-minggu jendela kejadian, menggunakan hari cuti yang memang menjadi haknya, dan bahwa observasi tambahan di luar jam resmi teleskop 70 cm akan ia jalankan atas nama pribadinya sendiri, bukan atas nama observatorium. Ia membaca ulang, memastikan tak ada kata yang bisa disalahtafsirkan sebagai klaim resmi lembaga, karena kalau ini gagal — dan mungkin memang akan gagal — ia tak mau observatorium ikut jatuh bersamanya. Ia menekan kirim sebelum keraguan sempat menyusul.
Setelah itu ia membuka daftar kontak jaringan amatir, satu per satu, tidak lagi menunggu balasan sopan yang mengambang, melainkan menulis pesan yang lebih tegas: jendela kejadian, koordinat, jam sidereal, dan permintaan yang jujur bahwa ini di luar dukungan resmi mana pun, bahwa ia tak bisa menjanjikan kredit institusional atau bahkan jaminan hasilnya berarti apa-apa. Ia menawarkan satu-satunya hal yang benar-benar ia miliki: metode yang sudah diuji, data yang sudah diperiksa bersih dari kontaminasi yang bisa ia periksa, dan namanya sendiri yang ia pertaruhkan di setiap baris.
Ia menelepon Karu terakhir, meski jam sudah lewat tengah malam, karena tahu Karu masih akan terjaga memeriksa jurnal instrumen seperti biasa.
"Aku jalan terus," katanya, tanpa basa-basi, begitu Karu mengangkat. "Dengan atau tanpa Pak Wignya. Cuti pribadi, teleskop yang bisa kupinjam sendiri, jejaring amatir yang masih mau. Kalau kau tak bisa ikut karena posisimu, aku mengerti."
Ada jeda di ujung telepon, bunyi kursi berderit, lalu suara Karu yang datar seperti biasa, tak pernah berlebihan dalam apa pun. "Aku sudah dua puluh tahun menjaga jam di gunung ini, Nari. Aku tak akan berhenti sekarang hanya karena kertas di atas meja bilang aku harus berhenti."
Janari menutup telepon dan duduk sebentar dalam gelap, mendengarkan generator lama observatorium berdenging pelan di kejauhan, suara yang selama ini selalu ia anggap sebagai latar belakang, tapi malam ini terasa seperti detak jantung yang masih berjalan meski segala sesuatu di sekitarnya berusaha mematikannya. Ia tidak tahu apakah jendela kejadian yang mereka kejar akan memberi apa pun selain kegelapan kosong dan kelelahan yang sia-sia. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti, cara ia tahu ketika masih kecil dan menonton ayahnya menarik tuas di bawah lampu minyak: bahwa memilih untuk tidak menyalakan sinyal sama sekali, hanya karena tak ada yang mengizinkan, adalah kebohongan tersendiri.
Ia membuka lembar kerja sekali lagi, mengisi kolom yang tadinya kosong satu per satu dengan nama-nama yang baru saja menjawab ya, dan menyimpan berkas itu dengan nama baru — bukan proposal, bukan draf, melainkan jadwal. Di luar, langit masih tertutup awan tipis yang belum sepenuhnya pergi, tapi untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu ia tidak menunggu langit itu membersihkan diri sebelum ia sendiri memutuskan untuk bergerak.