Hujan pertama turun pukul sembilan malam, dan pada pukul sepuluh kubah observatorium sudah tertutup rapat, mengunci langit yang seharusnya menjadi milik mereka malam itu. Janari Nawangsih duduk di depan monitor radar cuaca, menatap gumpalan hijau dan kuning yang merayap dari barat daya, menutupi seluruh punggung gunung seperti selimut yang tak diminta. Ini malam kalibrasi ketiga yang batal dalam sepuluh hari terakhir. Jika pola ini berlanjut, jendela pengamatan yang mereka susun dengan susah payah — korda melintang gunung, belasan stasiun kecil menunggu instruksi yang sama — akan kehabisan malam sebelum sempat diuji sungguh-sungguh.
Telepon berdering sebelum ia sempat menutup laporan cuaca. Pak Wignya, suaranya rata dan berhati-hati, jenis rata yang biasanya menyembunyikan sesuatu yang lebih buruk dari nada bicaranya sendiri.
"Dewan memajukan rapat," kata Wignya. "Bukan bulan depan. Tiga minggu lagi."
"Kenapa?"
"Broto menarik pernyataan komitmennya. Bukan resmi, belum, tapi cukup untuk membuat dewan gugup." Jeda, lalu, lebih pelan, seolah kata-kata itu berat ditanggung sendirian. "Mereka ingin melihat sesuatu yang bisa dipegang sebelum memutuskan menutup program astronomi. Kalau tidak ada apa-apa saat rapat itu, Janari, aku tidak bisa menahan mereka lagi."
Ia mengucapkan terima kasih yang terdengar seperti gumaman, lalu meletakkan gagang telepon dengan hati-hati, seakan benda itu bisa pecah jika ia lepaskan terlalu keras. Tiga minggu. Jendela kejadian yang ia dan Prof. Danastri hitung dari gabungan baseline tiga puluh tahun masih berbulan-bulan jauhnya, mengambang di suatu titik yang belum pasti karena ephemeris itu sendiri masih kasar. Tiga minggu tidak akan cukup untuk apa pun kecuali kepanikan.
Ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari Sekar, singkat, tanpa emotikon yang biasa menghiasi pesan-pesan gadis itu: *Malam ini aku nggak bisa ke kubah. Ada urusan kampus. Besok kabari lagi ya.* Tidak ada penjelasan lain, dan itu justru yang membuatnya berdenyut lebih dari sekadar kekecewaan teknis. Tiga hari terakhir Sekar selalu punya alasan, semua masuk akal sendiri-sendiri, dan semuanya bersama-sama membentuk pola yang tidak bisa ia pura-pura tidak lihat. Ia teringat bagaimana Ardhi menyebar pracetaknya, bagaimana nama-nama yang berdekatan dengan Janari mulai dianggap berisiko di forum-forum yang dulu ramah. Ia tidak menyalahkan Sekar. Ia hanya merasa lantai di bawah kakinya makin sempit.
Karu masuk membawa dua cangkir kopi yang mengepul lemah karena udara dingin ruang kontrol. Ia meletakkan satu di depan Janari tanpa berkata apa-apa dulu, memberi jeda yang biasa ia berikan sebelum menyampaikan berita yang tidak enak.
"Osilator di stasiun Cengkir kembali menyimpang," katanya akhirnya, duduk di kursi sebelah. "Bukan besar. Tapi cukup untuk merusak korespondensi waktu kalau tidak dikoreksi manual tiap enam jam. Aku sudah minta relawan di sana melakukannya, tapi dia bilang ini minggu ketiga dia jaga malam tanpa bayaran, dan dia mulai berpikir ulang."
"Berapa banyak yang sudah mundur?"
"Dua dari jaringan amatir. Satu bilang terus terang: mereka tidak mau namanya dikaitkan dengan sesuatu yang, katanya, 'sudah didiskreditkan di pracetak orang lembah sebelah.'" Karu menyesap kopinya, matanya menghindar sejenak dari mata Janari, seolah tidak tega menambahkan lebih banyak. "Aku tidak bilang itu benar. Tapi orang yang tidak mengikuti tiap detail hanya dengar 'diskreditkan' dan berhenti mendengar sisanya."
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun mengenalnya, Janari mendengar sesuatu di suara Karu yang belum pernah ia dengar sebelumnya: keletihan yang tidak berusaha ia sembunyikan lagi. Bukan keraguan pada data — Karu tidak pernah meragukan data, karena data bukan urusannya untuk dipercaya atau tidak, hanya urusannya untuk dijaga tetap jujur pada dirinya sendiri. Tapi keletihan pada beban itu sendiri, pada berapa lama seseorang bisa terus menyalakan sesuatu yang tampaknya diam-diam sedang dipadamkan orang lain dari segala arah.
"Kalau kau ingin berhenti," kata Janari pelan, "aku akan mengerti."
Karu menoleh, dan untuk sesaat wajahnya nyaris tersinggung. "Aku tidak bilang begitu."
"Aku tahu. Aku hanya—" Ia berhenti, tidak yakin apa yang ingin ia katakan, dan membiarkan kalimat itu menggantung di antara mereka bersama uap kopi yang makin dingin.
Ia bangkit dan berjalan ke jendela kecil ruang kontrol, tempat hujan menampar kaca dalam pola yang tak beraturan, seperti isyarat morse yang tidak pernah selesai disandikan siapa pun. Di bawah sana, entah di mana, kotak-kotak instrumen kecil menunggu dalam gelap dan basah, milik orang-orang yang mulai bertanya-tanya apakah kesetiaan mereka pada proyek ini layak ditukar dengan reputasi yang mereka bangun sendiri-sendiri selama ini. Dana menyusut. Sekutu goyah. Langit sendiri menolak bekerja sama. Ia memikirkan ayahnya, kotak sinyal itu, aturan yang begitu sederhana di atas kertas — jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan — tapi malam ini aturan itu terasa seperti kemewahan orang yang masih punya kotak sinyal untuk dijaga. Bagaimana jika yang tersisa untuk dijaga tinggal reruntuhan?
Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri lama di depan kaca yang basah, membiarkan dingin merambat dari kaca ke telapak tangannya, sementara di belakangnya Karu diam-diam menyalakan ulang laporan diagnostik, seolah kebiasaan itu sendiri adalah satu-satunya bentuk doa yang ia tahu caranya. Radar cuaca di layar masih menunjukkan gumpalan hijau yang sama, tidak bergerak ke mana pun, seperti sesuatu yang memutuskan untuk menetap di atas kepala mereka selamanya.