Ruang kerja kecil di sayap barat observatorium hanya diterangi layar. Di luar, angin menampar kubah dengan suara yang sudah dikenalnya sejak bertahun-tahun, tapi malam itu bunyinya terdengar seperti sesuatu yang menghitung mundur. Jam di sudut layar menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit. Karu sudah pulang sejak sore, menitipkan pesan lewat catatan tempel di pintu: osilator sudah stabil, jangan sentuh kabel biru sampai aku periksa lagi besok. Sekar tidak datang. Kursinya di sudut ruangan kosong, dan kekosongan itu terasa lebih keras daripada seandainya ada yang duduk di sana dan menatapnya dengan ragu.
Janari membuka berkas yang sudah ia tunda dua hari: rancangan memo untuk Pak Wignya, yang akan dibawanya ke rapat dewan sebelum gala. Bukan makalah, bukan publikasi — hanya ringkasan status, tiga halaman, ditujukan untuk meyakinkan sepuluh orang yang tidak paham kurva cahaya bahwa uang yang mereka pertaruhkan belum sia-sia. Ia sudah menulis bagian metode, bagian tentang jaring stasiun, bagian tentang bagaimana kejadian-kejadian yang tercemar kilau satelit telah disingkirkan satu demi satu. Yang tersisa hanya satu paragraf, dan paragraf itu tentang angka.
Ia menatap tabel di jendela kedua layarnya. Signifikansi statistik dari kejadian-kejadian bersih — yang sudah lolos dari pemeriksaan elemen orbit, bentuk titik-sebar, waktu tempuh cahaya — bertengger di angka yang, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, cukup meyakinkan untuk terus bekerja, tapi jauh dari cukup untuk disebut temuan. Ambang yang disepakati komunitasnya untuk kata "penemuan" adalah lima-sigma, batas di mana peluang itu semua kebetulan nyaris nihil. Angkanya sendiri masih di bawah tiga koma dua. Bagus. Menjanjikan. Bukan bukti.
Kursor berkedip di ujung kalimat yang belum selesai: *Analisis awal menunjukkan signifikansi statistik pada tingkat...*
Ia bisa menulis "tinggi." Ia bisa menulis "mendekati ambang konfirmasi." Kata-kata itu tidak sepenuhnya dusta — bukan angka yang dipalsukan, hanya kabut yang dipilih dengan sengaja di atas angka yang sebenarnya. Dewan tidak akan memeriksa lampiran perhitungan. Broto tidak akan tahu beda tiga-sigma dan lima-sigma; yang ia dengar hanyalah kata "signifikan," dan kata itu cukup untuk membeli beberapa bulan lagi waktu teleskop, cukup untuk Sekar tetap punya alasan datang, cukup untuk Karu tidak perlu mencari kerja lain di usianya yang sudah tak muda.
Jarinya melayang di atas papan ketik. Ia mengetik satu kata — "signifikan" — lalu berhenti sebelum titik.
Bukan berbohong, katanya dalam hati, mencoba kalimat itu seperti mencoba pakaian yang tak pas. Hanya menekankan bagian yang menjanjikan. Semua orang menekankan bagian yang menjanjikan.
Di layar, kursor tetap berkedip, seolah ikut menghitung sesuatu yang bukan waktu.
Ia teringat kotak sinyal, dulu, ketika ia masih sebahu meja kerja ayahnya. Sebuah malam ketika sinyal di jalur utara berkedip ragu — bukan merah penuh, bukan hijau penuh, semacam warna di antara yang membuat kereta barang menunggu di rel samping selama empat puluh menit sementara ayahnya memeriksa ulang setiap sambungan kabel. Seorang pengawas dari kantor pusat menelepon, marah karena keterlambatan, bertanya kenapa tidak dijalankan saja, toh kemungkinan besar aman. Ayahnya menjawab lewat gagang telepon dengan suara yang sama datarnya seperti saat mengajari Janari mengikat tali sepatu: "Kalau saya ragu, saya sebut merah. Bukan karena saya yakin itu bahaya. Karena saya tidak yakin itu aman. Itu bedanya."
Kereta menunggu. Sambungan yang rusak akhirnya ditemukan — retak kecil di isolator, yang mungkin tak apa-apa selama berbulan-bulan, atau mungkin tidak. Tak seorang pun pernah tahu yang mana, karena ayahnya tidak membiarkan kemungkinan itu diuji dengan nyawa penumpang.
Janari menutup mata sebentar. Ruangan itu berbau kopi dingin dan debu elektronik, jauh dari bau minyak rel dan besi panas, tapi rasa di dadanya sama persis: bukan takut ketahuan, melainkan takut menjadi orang yang, diam-diam, memilih mengatakan hijau untuk sesuatu yang sebenarnya masih ia ragukan.
Ia membuka lagi berkas Danastri yang sudah ia pindai dan simpan berdampingan dengan datanya sendiri. Di salah satu halaman, dengan tulisan tangan yang mulai pudar, mantan mentornya pernah mencoret sebuah angka dan menuliskan yang baru di sebelahnya, lebih kecil, lebih jujur. Tiga puluh tahun lalu seseorang membiarkan kabut menutupi angka semacam itu — entah Danastri sendiri, entah orang di atasnya, sejarah tidak mencatat siapa yang pertama kali memutuskan untuk menekankan bagian yang menjanjikan. Yang tercatat hanya akibatnya: karier yang padam, nama yang dicoret dari makalah, dan seorang perempuan yang menghabiskan tiga dekade sendirian di sebuah stasiun yang nyaris tak pernah menyala lagi.
Janari menghapus kata "signifikan" dari layarnya, huruf demi huruf, sampai kursor kembali berkedip sendirian di ujung kalimat kosong.
Ia menulis ulang, pelan-pelan, seakan setiap kata harus melewati pemeriksaan yang sama ketatnya dengan bingkai data mentah: *Analisis awal menunjukkan signifikansi statistik pada tingkat tiga koma dua sigma untuk himpunan kejadian yang telah dibersihkan dari kontaminasi satelit — menjanjikan, namun di bawah ambang yang lazim disyaratkan untuk klaim penemuan. Diperlukan konfirmasi independen dari lebih dari satu stasiun sebelum kesimpulan apa pun dapat ditarik.*
Ia membacanya dua kali. Kalimat itu tidak akan menyelamatkan siapa-siapa malam ini. Kalimat itu mungkin justru memberi Broto alasan menarik dananya lebih cepat, memberi Wignya alasan menyerah lebih dulu daripada bertahan. Tapi kalimat itu benar, dan untuk pertama kalinya sejak duduk di kursi itu, Janari merasa dadanya lega — bukan karena masalah selesai, melainkan karena ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, ia tidak akan jadi orang yang harus menjelaskan kepada dirinya sendiri kenapa ia pernah menyebut sesuatu hijau padahal ragu.
Ia menyimpan berkas itu, mematikan layar, dan duduk sebentar dalam gelap, mendengarkan angin yang masih menampar kubah seperti jam yang tak sabar menghitung sesuatu yang belum tiba.