Malam pertama, tidak ada apa-apa. Bintang-bintang di pita ramalannya menyala mantap dari senja sampai fajar, dan teropong tua itu merekam ribuan detik kebosanan yang sempurna. Malam kedua, sama. Malam ketiga, awan datang dari lembah dan menelan seluruh langit, dan Janari duduk menatap kamera langit-seluruh yang putih kelabu sampai pagi, merasa konyol. Malam keempat, jernih lagi, dan lagi-lagi tidak ada apa-apa. Malam kelima, kubah macet di tengah dan Karu harus memukul sambungan engsel dengan palu karet sampai mau berputar, dan mereka kehilangan dua jam terbaik.
Setiap pagi Janari pulang dengan rasa yang makin akrab: campuran lega dan kecewa yang aneh. Lega karena tidak menemukan kedipan berarti ia tidak harus menghadapi konsekuensi menemukannya. Kecewa karena setiap malam kosong adalah satu malam lebih dekat ke batas waktu uang, dan satu malam lebih jauh dari bukti. Ia mulai meragukan perhitungannya. Mungkin pita ramalannya salah. Mungkin asumsinya tentang jarak benda itu meleset, dan ia memasang perangkap di tempat yang salah. Mungkin Bu Halimah benar, dan ia memburu hantu yang cuma ada di kepalanya, persis seperti gurunya.
Keraguan itu sehat, ia tahu. Keraguan itu yang membedakan ilmuwan dari orang fanatik. Tapi keraguan juga melelahkan, dan pada malam kedelapan Janari hampir menyerah. Ia hampir mengarahkan teropong kembali ke target-target yang berguna, yang bisa dijual, yang masuk akal. Tangannya sudah di papan ketik untuk membatalkan jadwal perburuan. Lalu ia menariknya kembali. Satu malam lagi, katanya pada dirinya. Cuma satu.
Malam kesembilan jernih sempurna. Suhu turun, udara mengering, dan bintang-bintang berdiri tajam seperti dipotong dari logam. Janari merekam petak demi petak di sepanjang pitanya, memindah teropong tiap setengah jam, memantau kurva-kurva cahaya yang mengalir di banyak jendela kecil di layarnya. Karu tertidur di kursi lipat menjelang dini hari. Generator berdengung. Kubah berderit.
Pukul empat lewat dua puluh tujuh menit, di salah satu jendela kecil, sebuah garis hijau jatuh.
Janari hampir tidak percaya matanya. Ia membekukan layar. Sebuah bintang redup—bintang yang berbeda dari yang pertama, bintang di petak yang lain, petak yang justru terletak di sepanjang pita ramalannya—padam. Tepinya tajam, jatuh tegak lurus, datar di dasar selama hampir setengah detik, lalu memantul naik persis ke tingkat semula. Bentuknya sama seperti yang pertama. Saudara kembar dari kedipan yang sudah ia putar berpuluh kali di kepalanya.
Ia membangunkan Karu dengan suara yang ia paksa tenang tapi gagal. 'Karu. Karu, bangun. Dia datang lagi.'
Lalu ia mengerjakan bagian yang penting, bagian yang membedakan penemuan dari khayalan: ia memeriksa waktunya. Kedipan itu terjadi lebih awal dari pertengahan malam pengamatan—tapi 'awal' di sini punya arti yang lebih dalam. Kalau ia mengambil posisi kedipan pertama, dan menarik garis lintasan dengan kecepatan yang ia perkirakan untuk benda di tepi tata surya, lalu memperpanjang garis itu ke malam ini, garis itu mengarah ke petak langit ini. Bukan ke tempat lain. Ke sini. Dan benda itu telah bergeser persis sejauh yang diramalkan oleh kecepatan lintasannya—sedikit lebih jauh ke arah yang ia hitung, persis di jam yang konsisten dengan gerak lambat melintasi latar bintang.
Kedipan ini tidak terjadi di jam yang salah. Untuk pertama kalinya, kedipan terjadi di jam yang benar—jam yang diramalkan oleh hipotesis. Dan itu, bagi Janari, lebih menakutkan daripada salah.
Ia duduk diam, menatap dua titik data: kedipan pertama dan kedipan kedua, dihubungkan oleh sebuah garis yang ia gambar dari fisika, bukan dari harapan. Karu memandanginya, tidak paham angka tapi paham wajah.
'Ini bagus, kan?' tanya Karu pelan. 'Kau benar.'
'Mungkin,' kata Janari, dan suaranya bergetar. Ia memaksa dirinya berhitung dengan dingin. Dua titik. Dua titik bisa dihubungkan oleh garis apa pun; dua titik selalu cocok dengan sebuah garis lurus, itu matematika dasar, bukan bukti. Statistiknya tipis—peluang menemukan dua kedipan kebetulan di sepanjang pita yang dipersempit memang kecil, tapi tidak nol. Ia menghitung kemungkinan ini hanya keberuntungan buruk, dan angkanya rendah, cukup rendah untuk membuatnya bergidik, tapi tidak cukup rendah untuk meyakinkan dunia. Dunia akan menuntut lebih.
Dan justru karena statistiknya mulai berpihak padanya, rasa takut itu tumbuh, bukan euforia. Karena ini—dua kedipan, lintasan yang konsisten, seorang pengamat tunggal di teropong tua—ini persis bentuk klaim yang menghancurkan gurunya tiga puluh tahun lalu. Pak Suta juga punya kedipan yang konsisten. Pak Suta juga melihat polanya. Dan pola itu tidak menyelamatkannya; pola itu membunuh kariernya, karena tidak seorang pun bisa mengulangnya.
Janari menyandar di kursinya saat fajar mulai mengelabui langit timur. Di luar, bintang-bintang padam satu per satu di jam yang benar. Ia telah menemukan kedipan keduanya. Dan untuk pertama kali ia mengerti, dengan kejernihan yang dingin, bahwa menemukan kedipan kedua bukanlah akhir dari ketakutannya. Itu baru awalnya. Karena sekarang ia harus memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan sesuatu yang ia percayai tapi belum bisa ia buktikan—pilihan yang sama yang dulu dihadapi gurunya, di kursi yang mungkin sama, di gunung yang sama, di bawah langit yang sama.