Sekar terlambat dua puluh menit untuk sif malam itu, dan ketika akhirnya muncul di ambang pintu ruang kendali, matanya tidak langsung mencari Janari seperti biasa, melainkan jatuh ke lantai, ke sepatunya sendiri, seolah sedang menghitung ubin.
"Macet," katanya, meski jalan menuju Tepi Lereng tidak pernah macet. Yang ada hanya kelokan sunyi dan kabut yang turun lebih awal belakangan ini.
Janari tidak mengejar alasan itu. Ia menggeser kursi, membiarkan Sekar duduk di depan konsol pipa deteksi yang sebagian besar kini adalah buatan tangan mahasiswa itu sendiri—baris-baris kode yang dulu ia tulis dengan mata berbinar, menandai setiap kejadian kandidat dengan warna yang ia pilih sendiri. Malam itu Sekar mengetik lebih lambat. Kursor berkedip lama di satu baris sebelum akhirnya bergerak.
"Ada yang mengganggumu," kata Janari, bukan pertanyaan.
"Enggak." Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang untuk sebuah kata sependek itu, "Bu Janari pernah lihat pracetak Dr. Ardhi yang baru?"
"Aku lihat versinya minggu lalu."
"Ada versi baru. Diunggah tadi sore." Sekar membuka laman di tab lain tanpa diminta, seolah sudah menyiapkannya, menunggu momen yang tepat untuk menunjukkan. Di layar, judul itu tercetak dengan kepercayaan diri yang menyebalkan: sebuah reanalisis yang menyebut nama pipa deteksi Tepi Lereng secara eksplisit, membandingkannya dengan sesuatu yang disebut "protokol validasi standar industri" milik lembaga Ardhi—kalimat yang dirancang untuk terdengar seperti Janari dan timnya masih bermain di halaman belakang sementara yang lain sudah punya laboratorium.
Janari membaca cepat, mencari inti argumen di balik bahasa yang dipoles. Ardhi tidak menyebut nama Sekar. Tapi ia menyebut "seorang anggota tim junior" yang, menurut catatan kaki, telah "mengonfirmasi secara informal" bahwa sebagian pemicu kandidat pipa deteksi belum melewati pemeriksaan silang satelit sebelum dipublikasikan sebagai kejadian bersih.
Ruangan terasa lebih dingin daripada suhu yang ditunjukkan termometer di dinding.
"Sekar." Janari meletakkan tangannya di meja, pelan, seperti menjinakkan sesuatu yang bisa terbang. "Kau bicara dengan orang dari lembaganya?"
Sekar tidak menjawab langsung. Ia memutar pena di antara jari-jarinya, gerakan yang selalu muncul ketika ia gugup sejak bulan pertama magang dulu.
"Ada yang menghubungiku lewat surel kampus," katanya akhirnya. "Bilang mereka sedang menyusun tinjauan metodologi lintas-lembaga. Bertanya soal alur kerja pipa—kapan filter satelit dijalankan, versi berapa, siapa yang menuliskannya. Aku pikir itu wajar. Riset terbuka, katanya."
"Dan kau jawab."
"Aku jawab pertanyaan teknis. Bukan menilai apakah itu palsu atau bukan." Suaranya naik sedikit, membela diri lebih cepat daripada yang biasa ia lakukan di depan Janari. "Aku enggak bilang kejadian itu kotor. Aku cuma bilang urutan prosesnya."
Janari menahan diri untuk tidak langsung menimpali. Ia ingat ayahnya, dulu, tidak pernah memarahi seorang pun karena bertanya—yang berbahaya bukan pertanyaannya, melainkan jawaban yang diberikan tanpa menimbang siapa yang akan memakainya, dan untuk apa.
"Mereka memakainya," kata Janari akhirnya, menunjuk layar. "Bukan sebagai pertanyaan. Sebagai amunisi."
Sekar diam. Rahangnya mengeras sedikit, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, ia menatap balik.
"Aku enggak minta jadi amunisi siapa pun, Bu. Aku cuma... aku takut." Katanya lebih pelan setelahnya, seperti menyesal sudah membuka pintu itu. "Tesisku bergantung pada data pipa ini. Kalau observatorium ditutup tahun depan, kalau nama Ibu jatuh karena ini, siapa yang mau membimbing sisa penelitianku? Siapa yang mau mempekerjakan mahasiswa dari lab yang dituduh mengarang sinyal?"
Ada kejujuran di situ yang menusuk lebih dalam daripada kemarahan mana pun yang bisa Janari tunjukkan. Ini bukan pengkhianatan yang dirancang. Ini ketakutan biasa, ketakutan yang sama yang membuat Wignya menjilat sepatu Broto, yang membuat separuh dewan observatorium ingin cepat-cepat menutup buku sebelum nama mereka ikut tercoreng.
"Aku tidak menyalahkanmu takut," kata Janari. "Tapi ketakutan bukan alasan untuk membocorkan proses kerja kita kepada orang yang jelas mau menghancurkannya."
"Bagaimana aku tahu dia mau menghancurkan? Surelnya sopan sekali."
"Karena aku sudah melihat bagaimana ini berakhir sebelumnya." Janari nyaris mengucap nama Danastri, lalu menahannya—bukan saatnya, dan bukan miliknya untuk dibagi begitu saja. "Orang baik bisa jadi alat orang yang tidak baik, Sekar, tanpa pernah berniat begitu. Itu yang paling berbahaya. Bukan pengkhianatan yang direncanakan. Pengkhianatan yang tidak sadar dirinya sendiri."
Kata-kata itu jatuh lebih keras dari yang ia maksudkan. Sekar berdiri, mendorong kursi sedikit terlalu jauh ke belakang, dan untuk sesaat Janari mengira ia akan pergi. Tapi Sekar hanya berdiri di sana, memeluk map kerjanya di dada seperti perisai.
"Aku enggak menjual apa pun," katanya, suaranya bergetar tipis di ujung. "Aku cuma... enggak mau tenggelam bersama kapal yang mungkin memang bocor."
Lalu ia pergi, meninggalkan pintu terbuka, angin malam dari koridor menyelinap masuk membawa hawa gunung yang tajam.
Janari duduk lama menatap layar yang masih menyala, pracetak Ardhi yang belum ia tutup, kalimat tentang "anggota tim junior" yang kini terasa seperti retakan halus di kaca—tak kentara dari jauh, tapi cukup untuk membuat seluruh permukaan rapuh bila ditekan di titik yang tepat.
Ia memikirkan Danastri, sendirian bertahun-tahun di kota kecilnya, dan bertanya-tanya berapa banyak retakan semacam ini yang dulu tak sempat ia lihat sebelum semuanya runtuh sekaligus. Lalu ia memikirkan dirinya sendiri, bagaimana rasa takut yang sama yang membuat Sekar menjawab surel itu, diam-diam juga menggerayangi dadanya sendiri setiap kali ia membayangkan kontraknya tak diperpanjang.
Ia mematikan layar, tapi tidak mematikan pikirannya. Di luar, kabut sudah turun penuh, menelan garis gunung, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidak yakin siapa saja yang masih benar-benar berdiri di sisinya.