Memo itu tergantung di papan pengumuman kubah utama sebelum Janari sempat membaca surel yang mengirimkannya. Kertas putih, font resmi, cap tanda tangan Pak Wignya yang biasanya ia kenali dari coretan tergesa di lembar-lembar izin observasi tengah malam—kini rapi, diketik, seolah sengaja dibuat tak bisa dibantah karena tak ada yang bisa ditanyakan pada selembar kertas.
"Realokasi Waktu Teleskop 70 cm—Triwulan Berjalan." Ia membaca tiga baris pertama dua kali sebelum isinya benar-benar masuk. Blok malam yang biasa ia pakai untuk memantau kandidat kejadian—ketiga, keempat, kelima Selasa tiap bulan, jadwal yang sudah ia susun sejak jaringan korda mulai terbentuk—dipotong lebih dari separuh. Sisanya diberikan kepada "Program Malam Publik & Kunjungan Donor," dua kata terakhir yang membuat lambungnya terasa dingin.
Ia menemukan Wignya di ruangannya, pintu terbuka, tapi lelaki itu tidak mendongak ketika Janari masuk. Ia sedang menyusun map, memasukkan kertas ke folder dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk seseorang yang benar-benar sibuk.
"Saya lihat papan jadwal," kata Janari.
"Duduklah kalau mau."
Ia tidak duduk. "Dua per tiga blok saya diambil untuk kunjungan donor."
"Bukan diambil." Wignya akhirnya menatapnya. Ada sesuatu yang lelah di wajahnya, lelah yang sudah terlalu lama untuk disebut baru. "Dibagi ulang. Dewan minta bukti bahwa fasilitas ini masih relevan untuk publik, bukan cuma untuk—" ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati, "—penelitian yang belum jelas arahnya."
"Penelitian saya arahnya jelas. Sudah saya tunjukkan lima kejadian bersih, dua korda serentak dari dua stasiun berbeda dengan galat pewaktuan di bawah semili—"
"Saya sudah baca laporannya, Janari." Suaranya tidak keras, tapi memotong. "Dan saya juga sudah baca pracetak Ardhi Renjani, yang entah bagaimana sampai di meja tiga anggota dewan sebelum sampai ke meja saya."
Janari diam. Di luar jendela, kubah sekunder berputar pelan untuk kalibrasi rutin, derik motornya teratur seperti detak yang tak peduli pada apa pun yang terjadi di dalam ruangan ini.
"Broto menelepon saya kemarin malam," lanjut Wignya. "Bukan mengancam. Dia terlalu sopan untuk itu. Dia cuma bertanya, dengan nada yang sangat ramah, apakah ada 'perkembangan yang bisa ia bagikan pada rekan-rekannya' sebelum gala. Saya bilang belum. Dia bilang dia mengerti. Lalu dia bertanya berapa lama lagi observatorium ini bisa berjalan tanpa perkembangan itu."
"Jadi jawabannya memotong jam saya."
"Jawabannya menjaga agar ada sesuatu untuk dipotong tahun depan." Wignya menutup map itu, meletakkan kedua tangannya di atasnya seperti menahan sesuatu di bawahnya. "Kau pikir aku senang menandatangani ini?"
"Aku pikir kau tak berhenti untuk bertanya apakah ini benar sebelum menandatanganinya."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia rencanakan. Wignya tidak membalas dengan kemarahan—itu yang justru membuatnya terasa lebih buruk. Ia hanya mengangguk kecil, seolah menerima tuduhan itu sebagai sesuatu yang sudah lama menempel padanya dan tak lagi bisa dikelupas.
"Kau boleh mengajukan banding minggu depan, setelah rapat komite," katanya. "Sampai saat itu, jadwalmu seperti di papan."
Janari keluar tanpa menutup pintu.
Di ruang kendali bersama, percakapan berhenti sesaat ketika ia lewat—tidak dramatis, tidak seperti di film, hanya jeda setengah detik yang cukup untuk ia sadari bahwa mereka sedang membicarakannya. Dua asisten teknis dari divisi optik, yang biasa menyapanya lebih dulu, kini menunduk ke layar masing-masing. Seseorang di ujung meja—ia tidak menoleh untuk memastikan siapa—menggumamkan sesuatu tentang "cari sensasi" yang mungkin ditujukan padanya, mungkin tidak, dan itu justru yang paling melelahkan: ketidakpastian tentang siapa masih di pihaknya.
Ia menemukan Karu di gudang instrumen, memeriksa kabel osilator yang baru selesai dikalibrasi ulang.
"Sudah dengar?" tanya Janari.
"Sudah lihat papannya sebelum kau." Karu tidak mendongak dari pekerjaannya, tangannya menggulung kabel dengan gerakan yang sama presisinya seperti biasa, seolah dunia di luar ruangan ini tidak sedang runtuh. "Wignya bukan orang jahat, Nari. Dia orang yang takut."
"Itu tidak membuatnya benar."
"Tidak," Karu setuju. "Tapi itu menjelaskan kenapa dia memilih yang salah dengan tenang, bukan dengan teriak." Ia akhirnya menoleh. "Berapa blok yang tersisa untukmu?"
"Cukup untuk kalibrasi. Tidak cukup untuk memantau jendela kejadian kalau jadwalnya tetap seperti ini sampai bulan depan."
Karu diam sejenak, lalu berkata, pelan, seperti menghitung sesuatu di kepalanya sendiri: "Stasiun Danastri masih menyala. Jaringan amatir masih berjalan. Kau belum kehilangan korda, Nari. Kau kehilangan satu mata dari banyak mata."
Itu benar, dan ia tahu itu benar, tapi kebenaran itu tidak membuat ruang di dadanya terasa lebih lapang. Ia berjalan ke luar, ke undakan batu di sisi kubah utama, tempat biasa ia berdiri sebelum shift malam untuk membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap. Langit sore itu masih terang, birunya pucat menjelang senja, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan ia merasa observatorium ini—tempat yang dulu terasa seperti perpanjangan tubuhnya sendiri—terasa seperti bangunan milik orang lain, yang ia hanya diizinkan menumpang, sebentar, sebelum jam malamnya juga diambil.
Ia pikir tentang ayahnya, tentang kotak sinyal yang sunyi di tengah rel, tentang seorang lelaki yang tetap menyebut sinyal merah meski itu berarti kereta harus berhenti dan semua orang di dalamnya kesal. Tidak ada yang memotong jam kerja ayahnya karena kejujurannya tidak nyaman. Tapi mungkin, pikirnya, itu karena tak ada donor yang pernah menelepon kotak sinyal itu untuk bertanya kapan berita baiknya datang.
Ia menghitung ulang, dalam kepala, berapa lama jendela prediksi berikutnya. Berapa lama sebelum dua per tiga malam yang tersisa itu cukup, atau tidak cukup, untuk membuktikan sesuatu yang belum boleh ia sebut terbukti pada siapa pun—termasuk pada dirinya sendiri.