Broto Sasongko datang dengan mobil yang terlalu bersih untuk jalan tanjakan berbatu menuju Observatorium Tepi Lereng, dan turun dari kursi belakang sambil masih menempelkan telepon ke telinga, menyudahi panggilan dengan kalimat yang terdengar seperti perintah kepada seseorang yang jauh di kota. Janari melihatnya dari jendela kantor Pak Wignya, kabut pagi masih menggantung di lembah di bawah, dan ia tahu pertemuan ini bukan kunjungan basa-basi.
"Janari," kata Pak Wignya, memanggilnya masuk sebelum Broto sempat melepas mantelnya. Di meja sudah tersaji teh yang tak akan disentuh siapa pun, dan sebuah map kulit berisi bahan presentasi gala—logo observatorium yang dipoles ulang, foto kubah teleskop 70 cm dari sudut paling dramatis, dan halaman kosong bertuliskan TEMUAN UTAMA dengan huruf besar yang belum diisi.
Broto duduk tanpa diminta, melipat tangan di atas map itu seperti sedang melindungi sesuatu yang berharga. "Aku baru dari pertemuan dengan dua calon donor besar," katanya, tanpa mukadimah. "Mereka tanya satu hal saja: apa yang akan diumumkan di gala. Aku bilang, observatorium ini sedang menyelidiki sesuatu yang bisa mengubah pemahaman kita tentang langit. Mereka suka itu. Mereka tanya lagi—apa itu. Dan aku tidak punya jawaban yang bisa kuucapkan dengan yakin."
"Karena belum ada jawaban yang layak diucapkan dengan yakin," kata Janari.
"Kau tahu maksudku." Broto membuka map, menggeser halaman kosong itu ke arahnya. "Aku butuh satu kalimat. Satu. Yang bisa dicetak di undangan, dibacakan di panggung, difoto wartawan. Aku tidak minta kau menerbitkan makalah malam ini."
"Kalimat itu akan dibaca sebagai klaim," kata Janari. "Dan klaim yang belum bisa kupertanggungjawabkan bukan sesuatu yang bisa kuberikan, seberapa pun kecilnya kelihatannya bagimu."
Broto menghela napas seperti orang yang sudah menyiapkan argumen ini jauh sebelum masuk ruangan. "Aku sudah bicara dengan orang-orang PR yang paham cara menulis ini. Mereka bisa memakai kata 'indikasi awal'. 'Kemungkinan objek baru.' Ada seribu cara membungkus ketidakpastian supaya tetap terdengar seperti kabar baik tanpa kau harus berbohong."
"Itu tetap berbohong," kata Janari. "Hanya dengan tata bahasa yang lebih hati-hati."
Pak Wignya bergerak di kursinya, mencoba mencari posisi netral yang sebenarnya tidak ada di ruangan itu. "Broto, mungkin ada jalan tengah—"
"Aku sudah menunggu jalan tengah selama sepuluh bulan," potong Broto, dan untuk pertama kalinya suaranya kehilangan nada ramah yang biasa dipakainya di depan wartawan dan dewan. "Aku menaruh uang di tempat ini karena kau"—ia menunjuk Janari dengan dagu, bukan tangan, seolah menghemat gestur untuk sesuatu yang lebih besar—"berjanji ada sesuatu di sana. Kedipan di langit yang tak seorang pun bisa jelaskan. Itu cerita bagus. Itu cerita yang bisa membuat orang menulis cek."
"Itu memang ada di sana," kata Janari, tenang, meski dadanya mulai terasa seperti diisi udara yang terlalu padat. "Tapi 'ada sesuatu yang belum bisa dijelaskan' bukan hal yang sama dengan 'kami sudah menemukan sesuatu'. Aku belum punya konfirmasi dari lebih dari satu stasiun. Aku belum bisa menyingkirkan kemungkinan artefak instrumen sepenuhnya. Sampai aku bisa, apa pun yang kukatakan di panggung itu adalah taruhan, bukan laporan."
"Semua orang bertaruh, Janari." Broto menyandarkan punggungnya, seolah baru saja mengucapkan sesuatu yang bijak. "Aku bertaruh pada tempat ini. Dewan bertaruh setiap kali mereka menyetujui anggaran. Kau pikir sains berjalan tanpa orang yang berani bertaruh?"
"Sains berjalan justru karena ada orang yang menolak bertaruh dengan uang orang lain memakai nama kepastian," kata Janari. "Aku tak keberatan kau menyebut ini penyelidikan yang menjanjikan. Aku keberatan kalau itu disebut temuan sebelum ia benar-benar satu."
Untuk sesaat tak ada yang bicara. Di luar jendela, kabut mulai terbakar tipis oleh matahari yang naik, menyingkap punggung gunung yang biasanya menjadi latar paling tenang dalam hidupnya. Sekarang ia hanya terasa seperti dinding yang mengurungnya bersama dua laki-laki yang menghitung nilai hidupnya dalam satuan yang berbeda-beda.
"Kalau begitu," kata Broto akhirnya, suaranya kembali rata, kembali ke nada orang yang biasa menang, "aku akan menimbang ulang komitmenku untuk gala ini. Dan mungkin komitmen untuk tahun depan. Aku tak bisa terus menjelaskan pada orang-orang yang menaruh uang kenapa mereka harus sabar menunggu sebuah kalimat yang tak kunjung datang."
Ia menutup map itu, berdiri, meninggalkan halaman TEMUAN UTAMA yang masih kosong di atas meja seolah sengaja disisakan sebagai peringatan. Pak Wignya berdiri juga, mengucap sesuatu yang terdengar seperti permintaan maaf yang tak selesai, mengekori Broto keluar ruangan menuju mobil yang masih terlalu bersih untuk jalan itu.
Janari tetap di kursinya, memandangi halaman kosong itu lama sekali. Ia bisa mengisinya. Ia tahu persis kalimat yang akan membuat Broto tersenyum, yang akan membuat Wignya bernapas lega, yang akan membuat gala itu bersinar di headline esok harinya. Ia juga tahu, dengan kepastian yang lebih tua dari observatorium ini, dari mana rasa tahu itu datang—dari kotak sinyal kecil di pinggir rel, dari suara ayahnya yang tak pernah berubah nadanya meski di tengah malam yang paling dingin: sinyal aman yang kau ragukan, kau sebut merah.
Ia melipat map itu sendiri, merapikannya seperti bukti yang belum boleh disentuh, dan membawanya kembali ke laboratorium, ke data yang belum selesai bicara.