Telepon dari ibunya berdering pukul satu dini hari, ketika Karu masih menunduk di atas papan sirkuit osilator, mengumpat pelan pada kabel pentanahan yang entah kenapa terus melayang tegangan setengah volt yang tak semestinya ada. Janari melangkah keluar kubah untuk mengangkatnya, dan suara ibunya, tenang seperti biasa, mengabarkan bahwa PT KA akhirnya akan membongkar sisa-sisa kotak sinyal lama di petak itu minggu depan—yang terakhir dari lima kotak di jalur itu, digantikan sepenuhnya oleh sistem persinyalan elektronik terkomputerisasi yang sudah lama menunggu anggaran.
"Kau tak perlu datang," kata ibunya, seolah membaca isi kepala Janari sebelum Janari sempat membentuknya sendiri. "Sudah lama kosong. Cuma besi tua sekarang."
Janari mengucapkan sesuatu yang pantas, menutup telepon, dan berdiri sebentar di lorong beton yang dingin, mendengar dengungan generator cadangan di kejauhan. Ia tak langsung kembali ke Karu. Ia butuh satu menit untuk membiarkan kabar itu menemukan tempatnya.
Kotak sinyal itu berdiri di tikungan landai sebelum jembatan, cukup tinggi untuk melihat rel memanjang ke dua arah, dan ayahnya menghabiskan dua puluh tujuh tahun di dalamnya sebelum pensiun, lalu terus datang meski sudah tak digaji, karena—katanya—tuas-tuas itu butuh tangan yang mengenalnya. Di tahun-tahun terakhir, matanya sudah mulai berkabut oleh katarak yang ia tolak operasi karena takut cuti panjang membuat penggantinya lalai membaca sinyal blok dengan benar. Ia memakai kaca pembesar kecil untuk membaca buku log, memegangnya dekat kertas seperti orang membaca mantra, dan tangannya—yang dulu bisa menarik tuas sinyal delapan puluh kilogram dengan satu sentakan halus—mulai gemetar di pagi hari sebelum kopi pertama.
Janari ingat satu malam, pulang dari kuliah tahun kedua, menemaninya berjaga karena juru sinyal muda yang seharusnya menggantikannya sedang sakit. Ada kereta barang yang tertahan di sinyal masuk lebih dari dua puluh menit karena ayahnya menolak memberi aspek aman sebelum petugas di ujung petak mengonfirmasi jalur benar-benar kosong—konfirmasi yang, karena telepon petak rusak, harus ditunggu lewat kurir sepeda motor. Masinis memaki lewat radio. Pengawas daerah menelepon, marah, menuduhnya memperlambat seluruh jadwal. Ayahnya menaruh gagang telepon pelan-pelan, seolah lebih kasar sedikit saja bisa merusaknya, dan berkata pada Janari, bukan pada siapa pun di ujung saluran itu, "Biar mereka marah sekarang. Aku tak mau mereka menangis nanti."
Ketika akhirnya kurir kembali membawa kabar jalur aman, ayahnya menulis waktu konfirmasi di buku log dengan huruf yang rapi seperti diukir, lalu menarik tuas. Janari, delapan belas tahun waktu itu, tidak sepenuhnya mengerti kenapa dua puluh menit keterlambatan bisa terasa seperti kemenangan bagi seseorang. Ia mengerti sekarang, bertahun-tahun kemudian, di depan detektor 70 cm yang menatap langit yang tak sabar memberinya jawaban.
Ayahnya berhenti sepenuhnya dua tahun setelah malam itu, ketika katarak akhirnya mengalahkan kaca pembesarnya dan perusahaan, dengan hormat yang kaku, memintanya pensiun total. Ia tidak menua dengan baik setelah itu—orang-orang yang seumur hidupnya dibangun di sekitar jadwal kereta sering begitu, kehilangan detak yang menopang mereka. Ia meninggal di rumah, bukan di kotak sinyal seperti yang mungkin lebih ia sukai, pada suatu sore biasa ketika jantungnya berhenti di antara menuang teh dan duduk di kursi anyaman dekat jendela. Janari, yang waktu itu sedang menyelesaikan skripsi di kota, sampai terlalu terlambat untuk sempat berbicara dengannya lagi. Ia hanya sempat melihat wajahnya yang tenang, seolah masih menunggu konfirmasi sebelum mengizinkan dirinya sendiri pergi.
Kotak sinyal itu dinonaktifkan tiga tahun kemudian, bukan karena kematiannya melainkan karena elektrifikasi jalur, tetapi bagi Janari kedua peristiwa itu menyatu jadi satu penutupan. Ia datang ke upacara kecil yang diadakan perusahaan—lebih tepat disebut kunjungan perpisahan daripada upacara, dihadiri belasan pensiunan juru sinyal dan seorang pejabat daerah yang membacakan sambutan singkat tentang kemajuan. Di dalam, tuas-tuas kuningan sudah dilepas dari deretan interlocking mekanis dan diletakkan di atas meja seperti tulang-tulang yang dibongkar dari kerangkanya, mengilap karena puluhan tahun disentuh tangan yang sama setiap hari. Buku log terakhir masih terbuka di meja, halaman yang tak pernah ditulisi lagi, dan Janari berdiri lama di depannya, membaca tulisan tangan orang lain yang menggantikan ayahnya, tulisan yang lebih terburu-buru, lebih banyak singkatan, seolah kepastian sudah menjadi barang mewah yang tak lagi mampu dibeli siapa pun.
Ia tidak menyentuh tuasnya. Ia hanya berdiri, membiarkan dingin logam itu masuk lewat udara, dan memutuskan—tanpa mengucapkannya keras-keras pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri sampai bertahun-tahun kemudian ketika ia harus menuliskannya di jurnal observasi—bahwa ia akan mewarisi satu-satunya hal yang tersisa dari ayahnya yang tak bisa dibongkar oleh perusahaan mana pun: aturan bahwa sinyal aman yang diragukan bukanlah sinyal aman, sesantai apa pun tekanan untuk segera menariknya.
Ketika Janari kembali ke kubah, Karu masih membungkuk di atas papan sirkuit, kini dengan solder di tangan, menggumamkan sesuatu tentang kapasitor yang harus diganti sebelum osilator bisa dipercaya lagi mengunci waktu sampai skala mikrodetik. Janari duduk di kursinya, menatap layar pemantau yang kosong, dan untuk sesaat membiarkan dadanya berat dengan cara yang tak perlu ia jelaskan pada siapa pun di ruangan itu.
"Ibumu?" tanya Karu, tanpa mendongak.
"Kotak sinyal ayah dibongkar minggu depan," kata Janari. "Yang terakhir."
Karu berhenti menyolder sebentar, lalu melanjutkan, karena ia tahu, seperti biasa, kapan sebuah kalimat butuh dijawab dan kapan ia cukup didengar. Di luar, langit masih menyimpan bintang-bintang yang belum menjawab apa pun, dan Janari menunggu, seperti yang selalu ia lakukan, untuk konfirmasi yang belum tentu datang malam itu—atau malam berikutnya, atau yang setelahnya—sebelum ia berani menyebut apa pun aman.