Detektor itu berkedip merah pada pukul dua dini hari, dan Janari Nawangsih tahu dari warna itu saja bahwa malam kerja mereka baru saja berubah jadi sesuatu yang lain.
"Itu bukan warna yang bagus," kata Karu, tanpa menoleh dari layar. Ia duduk membungkuk di depan konsol kontrol, jaketnya masih basah oleh kabut yang menempel di kubah sejak senja. Di layar, grafik arus gelap detektor teleskop 70 cm menanjak dalam gerigi-gerigi kecil yang tidak semestinya ada—bukan derau acak yang biasa mereka abaikan, melainkan pola yang naik-turun dengan keteraturan yang mengganggu, seolah sensor itu bernapas dengan ritme sakit.
Janari menarik kursi di sampingnya. "Sudah berapa lama begini?"
"Baru kulihat sepuluh menit lalu. Tapi lihat stempel waktunya." Karu membuka jendela log lain, deretan angka yang biasanya rapat dan konsisten kini melebar, seperti barisan yang berjalan tak sejajar. "Osilatornya menyimpang."
Kata itu jatuh di ruang kontrol yang dingin dengan bobot yang tidak proporsional dengan ukurannya. Osilator terkunci-GPS adalah jantung dari segala yang mereka bangun sejak berbulan-bulan terakhir—alat yang mengunci detak internal teleskop pada sinyal satelit navigasi, memastikan setiap kejadian yang terekam punya waktu yang bisa dipercaya sampai pecahan milidetik. Tanpa itu, kurva cahaya hanya kurva; dengan itu, kurva cahaya bisa dibandingkan dengan kurva cahaya dari stasiun lain, jam demi jam, detik demi detik, sampai ke titik di mana dua kejadian di dua tempat berbeda bisa dinyatakan sebagai satu kejadian yang sama.
Itulah korda yang mereka kejar. Dan korda tidak bisa dibangun di atas jam yang goyah.
"Berapa jauh menyimpangnya?" Janari mendekat, menatap layar seolah menatapnya lebih keras bisa membuat angka-angka itu mengaku salah.
"Belum tahu pasti. Tapi cukup untuk membuatku tidak percaya diri." Karu mengambil pena senter dari saku dadanya dan menyorotkannya ke rak instrumen di sudut ruang, ke kotak logam kecil dengan antena kabel yang menjalar ke atap kubah. "Bisa jadi kabel antena GPS-nya. Bisa jadi kristalnya sendiri yang menua. Bisa juga—" ia berhenti, seakan enggan mengucapkan kemungkinan ketiga.
"Bisa juga apa?"
"Bisa juga suhu." Karu berdiri, sendi lututnya berbunyi pelan, kebiasaan yang sudah dua puluh tahun menemani malam-malamnya di gunung ini. "Kita naikkan siklus pemanas ruang instrumen bulan lalu, ingat? Supaya detektor tidak membeku. Tapi itu berarti osilator sekarang mengalami ayunan suhu yang tidak ia alami dulu. Kristal kuarsa itu sensitif. Naik-turun suhu sedikit saja, frekuensinya melenceng, dan pelencengan frekuensi itu menumpuk jadi pelencengan waktu."
Janari mengangkat tangan ke wajah, menutupi hidungnya yang dingin. Di luar jendela kecil ruang kontrol, kabut menempel di kaca seperti napas yang dibekukan. Ia menghitung dalam kepala: jendela kejadian yang mereka rancang bersama Danastri masih berbulan-bulan lagi, tapi jaringan korda—stasiun tua Danastri, jejaring amatir Sekar, dan observatorium ini sendiri—harus sudah tervalidasi jauh sebelum malam itu tiba. Setiap hari yang hilang untuk memperbaiki pewaktuan adalah hari yang tidak bisa dipakai untuk berlatih menyinkronkan tiga titik di punggung gunung yang berbeda.
"Berapa lama untuk memperbaikinya?"
"Tergantung apa yang rusak." Karu sudah membungkuk lagi, kali ini di bawah meja instrumen, menarik keluar kotak logam itu dengan hati-hati, seperti mengangkat sesuatu yang bisa menggigit. Dua tangannya—tangan yang sudah mengenal setiap sekrup di ruangan ini selama dua dekade—bergerak dengan kelambatan yang disengaja, bukan keraguan, melainkan kehati-hatian orang yang tahu persis berapa besar taruhannya. "Kalau cuma kabel, satu jam. Kalau kristalnya, kita butuh suku cadang yang tidak ada di gudang ini, dan itu berarti menunggu pengiriman dari kota, mungkin seminggu."
"Kita tidak punya seminggu untuk dibuang."
"Aku tahu." Karu mendongak sebentar, matanya bertemu mata Janari di bawah cahaya lampu meja yang kekuningan. Tidak ada kepanikan di sana, hanya perhitungan. "Makanya kita cari tahu dulu apa yang rusak, sebelum kita panik soal berapa lama memperbaikinya."
Ia membuka penutup kotak osilator dengan obeng kecil, dan di dalamnya tersingkap papan sirkuit yang rapi, kristal kuarsa sebesar kuku jempol terpasang di tengahnya, dikelilingi komponen-komponen yang berdenyut dengan detak yang seharusnya tak pernah goyah. Karu menyambungkan probe osiloskop portabel ke dua titik uji, dan sebuah gelombang kotak muncul di layar kecil itu—denyut yang seharusnya jatuh persis satu kali per detik, tepat di titik nol, tak bergeser sedikit pun.
Gelombang itu bergeser. Bukan banyak—sepersekian mikrodetik saja per denyut—tapi cukup untuk membuat Karu diam lama, menatapnya seperti membaca wajah orang yang berbohong.
"Bukan kabelnya," katanya akhirnya, pelan. "Antenanya menerima sinyal satelit dengan baik. Masalahnya di sini, di kristalnya sendiri."
Janari merasakan sesuatu yang dingin turun di dadanya, bukan karena suhu ruangan. "Berarti seminggu."
"Berarti," Karu menghela napas, meletakkan obeng itu di atas meja dengan gerak yang lebih pelan dari biasanya, "aku harus mencari cara mengalibrasi ulang kristal yang sudah menua ini, malam ini juga, dengan apa yang kita punya di ruangan ini—atau kita kehilangan seminggu yang tidak kita punya."
Ia tidak menunggu jawaban. Ia sudah meraih kotak alat di bawah meja, mengeluarkan kapasitor-kapasitor kecil dengan nilai berbeda-beda, mulai menghitung dengan pensil di atas kertas alih-alih kalkulator, mengoreksi kapasitansi papan untuk menarik kristal itu kembali ke frekuensinya yang benar. Janari duduk di sampingnya, mengawasi denyut di layar osiloskop seperti mengawasi detak jantung pasien, dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bekerja bersama, ia menyadari betapa seluruh keberhasilan mereka nanti—setiap kedipan yang akan mereka klaim nyata, setiap korda yang akan mereka bela di depan Ardhi Renjani dan dewan direksi—bertumpu pada sepasang tangan tua yang sedang menghitung kapasitor di bawah lampu kekuningan, berpacu melawan sebuah kristal yang lupa cara berdetak lurus.