Malam itu kubah utama masih berderak menyesuaikan suhu ketika Janari mematikan monitor terakhir, mata pedih oleh terlalu banyak grafik yang dilihatnya berulang-ulang. Kalimat pracetak Ardhi belum juga surut dari kepalanya—"artefak instrumen yang sistematis," ia menulis, seolah kata-kata itu bisa menghapus tiga kejadian bersih yang sudah disaring Janari dari derau satelit dengan tangannya sendiri. Balasannya sudah terkirim siang tadi: bukan sanggahan berapi-api, hanya angka dan metode, dipaparkan telanjang untuk siapa pun yang mau memeriksa. Tapi membalas tak sama dengan menang, dan ia tahu itu.
Karu masih di ruang kendali, menyalin log detektor ke cakram cadangan, ketika sorot lampu memantul samar di dinding kubah. Bukan bulan. Sesuatu yang bergerak, menanjak jalan setapak berbatu menuju puncak, terlalu larut untuk kunjungan siapa pun yang waras.
"Bukan jadwal kita," kata Karu, tanpa mendongak dari layarnya.
Janari sudah di jendela sebelum kendaraan itu berhenti sepenuhnya. Pintu berderit, dan sesosok tubuh kurus turun dengan gerakan hati-hati orang yang sudah lama tak memercayai lututnya sendiri, menyeret sebuah ransel usang dan kotak logam yang sisi-sisinya penyok oleh tahun.
Prof. Danastri berdiri di ambang pintu kubah dengan rambut basah embun malam, wajahnya diterangi cahaya biru layar dari dalam. "Kau menjawabnya dengan angka," katanya, tanpa basa-basi, tanpa salam. "Itu benar. Tapi angka saja tak pernah cukup melawan orang yang pandai bicara ke wartawan."
"Saya tidak tahu cara lain," jawab Janari.
"Aku tahu satu." Danastri melangkah masuk, meletakkan kotak logam itu di lantai dengan bunyi berat. "Aku sudah membaca pracetaknya. Aku sudah membaca balasanmu. Dan aku sudah mendengar nada itu sebelumnya—persis nada yang mereka pakai padaku, tiga puluh tahun lalu. 'Sistematis.' Kata yang membuat semua orang berhenti bertanya lebih jauh, karena kedengarannya seperti sudah dijawab."
Karu berdiri dari kursinya, mengangguk sekali pada Danastri, gestur hormat yang tak butuh kata. Danastri membalasnya dengan anggukan yang sama singkatnya, dua orang yang saling mengenali dari kejauhan meski baru bertemu sekali.
"Stasiunku masih berdiri," kata Danastri, duduk di kursi paling dekat pintu seolah tak yakin akan tinggal lama. "Kubahnya berkarat, cerminnya perlu dipoles ulang, dan aku tidak tahu apakah motor pengejarnya masih hidup setelah sekian lama tak dipakai. Tapi ia berdiri tiga ratus kilometer dari sini, di garis lintang yang cukup berbeda untuk berguna."
Janari duduk perlahan di kursi seberangnya, mencoba menahan sesuatu yang terlalu mirip harapan agar tidak buru-buru menampakkan wajahnya. "Untuk korda."
"Untuk korda." Danastri mengulanginya seperti mengeja kata asing yang baru dipelajari, meski dialah yang mengajarkannya konsep itu bertahun-tahun lalu kepada mahasiswa yang kini duduk di depannya. "Kau butuh dua titik yang cukup jauh terpisah untuk mengukur lebar bayangan, bukan cuma waktunya. Satu stasiun bisa memberimu kapan. Dua stasiun yang berjauhan bisa memberimu seberapa besar dan seberapa jauh. Aku masih ingat itu, meski aku sudah lupa banyak hal lain."
"Itu bisa membahayakan Anda," kata Janari, karena seseorang harus mengatakannya. "Kalau ternyata sebagian kejadian saya juga cemar—satelit, atau sesuatu yang belum saya lihat—nama Anda akan diseret kembali ke dalamnya. Dua kali."
Danastri tidak langsung menjawab. Ia membuka kotak logam itu, dan di dalamnya, dibungkus kain flanel yang sudah menguning, tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit dan sebuah kronometer kuarsa tua—bukan osilator terkunci-GPS seperti milik observatorium sekarang, tapi cukup untuk masanya, tiga puluh tahun silam.
"Aku sudah diseret sekali," katanya akhirnya, suaranya datar seperti orang membaca laporan cuaca. "Aku menghabiskan tiga puluh tahun berikutnya memastikan tak seorang pun menyeretku lagi—dengan cara tak pernah muncul, tak pernah berbicara, tak pernah mempertaruhkan apa pun. Itu bukan kehati-hatian, Janari. Itu pengecutan yang kusebut kehati-hatian supaya bisa tidur malam." Ia menutup kotak itu pelan-pelan. "Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu. Aku datang karena aku ingin tahu, sebelum aku mati, apakah benda itu—yang kulihat, yang membuatku kehilangan segalanya—benar-benar ada di langit atau hanya di kepalaku selama ini. Kau kebetulan sedang bertanya hal yang sama."
Karu menyalakan kompor kecil di sudut ruang, menuang air ke dalam dua cangkir tanpa diminta, seolah tahu percakapan ini butuh sesuatu yang hangat untuk dipegang. Danastri menerima cangkirnya dengan kedua tangan, dan Janari melihat jemari itu sedikit gemetar—bukan karena dingin gunung, ia yakin.
"Itu tidak akan mengubah apa pun soal apakah anomali itu nyata," kata Janari hati-hati, karena ia sudah belajar untuk tidak membiarkan harapan mendahului data. "Menambah satu stasiun bukan berarti kita sudah punya jawabannya."
"Tentu saja bukan." Danastri menyesap kopinya, matanya menerawang ke arah kubah yang masih gelap di luar jendela. "Tapi itu berarti, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, aku akan berdiri di depan teleskop itu lagi dan menunggu langit memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi—bukan menunggu orang lain memberitahuku apa yang seharusnya kupercaya."
Ia berdiri, agak kaku, dan mengangkat kotak logamnya kembali. "Aku butuh bantuan orangmu untuk memoles cermin dan memeriksa motor. Aku sudah terlalu tua untuk memanjat kubah sendirian." Ia menoleh pada Karu. "Kau tampak seperti orang yang tahu cara memperbaiki sesuatu tanpa banyak bicara."
"Saya bisa berangkat lusa," jawab Karu sederhana, seolah itu bukan keputusan besar sama sekali.
Janari memandang keduanya—teknisi malam yang setia dan perempuan yang baru saja memilih untuk kembali ke reruntuhan karier sendiri—dan merasakan sesuatu bergeser di dadanya, sesuatu yang belum berani ia sebut harapan, tapi juga bukan lagi sekadar rasa takut. Di luar, kubah tua di seberang pegunungan itu masih gelap dan berkarat, menunggu untuk dinyalakan kembali, dan tak seorang pun di ruangan itu tahu apa yang akan ditemukannya bila benar-benar menyala.