Pracetak Ardhi sudah tiga hari beredar ketika Janari akhirnya berhenti membacanya berulang-ulang seperti orang mengorek luka. Layar di ruang kendali memantulkan wajahnya yang tirus, dan di bawah judul yang disusun rapi itu terbaca satu kalimat yang paling menyakitinya justru karena hampir benar: bahwa sekumpulan kejadian yang dilaporkan Observatorium Tepi Lereng "konsisten dengan sistematik instrumen dan kontaminasi lintasan satelit." Ardhi tidak berbohong. Ia hanya memilih kejadian-kejadian yang paling kotor, yang telah Janari sendiri buang, lalu memajangnya seolah itulah seluruh isi keranjang.
"Dia memungut sampah kita," kata Karu di sebelahnya, tangannya masih memegang gelas kopi yang sudah dingin. "Lalu bilang seluruh dapur bau."
"Karena sebagian memang bau." Janari menyandarkan punggung. "Itu yang membuatnya susah dilawan. Kalau seluruhnya bohong, aku tinggal menunjuk satu kesalahan. Tapi dia memakai kebenaran yang salah tempat."
Ponselnya bergetar lagi. Larasati, untuk kelima kalinya sejak pagi. Wignya, dua panggilan tak terjawab. Dan sebuah surel dari Sekar, subjeknya kosong, isinya hanya satu baris: Kita jawab kan, Bu? Kata orang-orang di forum, diamnya kita berarti mengaku.
Diam berarti mengaku. Janari tahu itu tidak benar dalam sains — data tidak peduli siapa berteriak lebih dulu — tetapi tahu juga bahwa di ruangan tempat nasib observatorium diputuskan, diam memang dibaca sebagai kekalahan. Ia menatap folder di layar. Di dalamnya ada dua hal yang sangat berbeda. Satu: analisis lengkap kejadian-kejadian yang terkontaminasi, dengan elemen orbit satelit, waktu, geometri, semua sebab mengapa ia membuangnya. Dua: kumpulan kejadian bersih yang bertahan, tanda-tangan sidereal yang berulang, yang belum terkonfirmasi multi-stasiun. Yang belum boleh keluar.
"Kita rilis," kata Janari akhirnya.
Karu mengangkat alis. "Semuanya?"
"Bukan semuanya. Justru itu soalnya." Ia menarik kursi lebih dekat ke meja. "Ardhi bilang kejadian kita artefak. Baik. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku tahu persis mana yang artefak — lebih rinci dari yang dia tulis. Aku rilis analisis kontaminasinya. Setiap kejadian kotor, kubongkar sampai ke nomor katalog satelitnya. Kuakui di depan umum: ya, ini palsu, ini palsu, ini juga."
"Kau menyerahkan amunisinya sendiri."
"Aku mengambil amunisinya." Janari menoleh. "Kalau aku yang membongkar kejadian kotor itu, lengkap dan jujur, maka pracetaknya tak lagi jadi tuduhan. Ia jadi pengulangan dari sesuatu yang sudah kukatakan lebih dulu dan lebih teliti. Yang dia sebut penemuan, kubikin jadi catatan kaki."
"Dan yang bersih?"
"Tidak kusebut." Suaranya turun. "Belum. Aku tidak akan menaruh kejadian yang belum terkonfirmasi ke tangan orang yang jelas ingin mendahuluinya. Aku bilang: sebagian besar kandidat awal telah gugur pada audit kami sendiri, dan penyelidikan atas sisa yang belum terjelaskan masih berlangsung. Titik. Tidak ada koordinat. Tidak ada ephemeris."
Karu diam sejenak, lalu mengangguk pelan, cara khasnya menyetujui sesuatu yang berat. "Bapakmu akan bilang itu sinyal kuning. Jujur soal yang kau tahu, tak berpura-pura soal yang belum."
Kalimat itu menahannya sebentar. Kotak sinyal, tuas dingin di tangan kecilnya, aturan yang tak pernah lekang. Sinyal aman yang kau ragukan, kau sebut merah. Tapi ada juga yang di antara: hijau yang kau tahan karena kereta belum sepenuhnya lewat. Ia tidak berbohong dengan menahan. Ia hanya belum memberi izin lewat.
Mereka bekerja sampai lewat tengah malam. Sekar bergabung lewat panggilan, matanya lelah tapi menyala ketika mengerti rencananya. "Jadi kita tidak membantah dia," kata gadis itu. "Kita malah setuju dengan hal-hal yang benar, dan diam soal yang belum siap."
"Kita membantahnya dengan menjadi lebih teliti daripada dia," koreksi Janari. "Bantahan yang paling telak bukan teriakan. Tabel."
Rilis itu terbit pukul dua siang keesokan harinya di laman observatorium: sebuah nota teknis, kering, tanpa satu pun kata dramatis, dengan lampiran data mentah untuk setiap kejadian yang gugur. Janari menuliskannya sendiri, kalimat demi kalimat, memastikan tak ada satu klaim pun yang melampaui apa yang ditopang angka. Ia menyebut nama Ardhi hanya sekali, dengan hormat, mengakui bahwa sebagian keprihatinan pracetak itu "sejalan dengan temuan audit internal kami yang telah berjalan sejak awal."
Efeknya tidak seperti ledakan. Lebih seperti embusan yang perlahan menggeser arah asap. Menjelang sore, dua astronom yang semula skeptis menulis di forum bahwa transparansi semacam ini "justru yang seharusnya jadi standar." Seorang editor jurnal kecil mengontak, memuji kejelasan analisis kontaminasinya. Larasati mengirim pesan, nadanya berubah: Ini bagus, Bu. Ini bisa kutulis sebagai observatorium yang mengoreksi diri, bukan yang tertangkap.
Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Janari merasa dadanya sedikit longgar. Tapi ia tahu betul betapa tipis kelegaan itu.
Malamnya, surel dari Ardhi masuk. Singkat, sopan, dan dingin seperti pisau yang diseka bersih. Ia mengapresiasi "keterbukaan" Janari. Ia mencatat bahwa nota itu "memperkuat kekhawatiran kami tentang keandalan pipa deteksi Anda." Lalu, di paragraf terakhir, kalimat yang membuat Janari menaruh gelasnya perlahan: Saya perhatikan analisis Anda cermat menyingkirkan kejadian terkontaminasi, namun bungkam soal apa yang tersisa. Jika ada sisa yang Anda anggap bersih, komunitas tentu berhak melihatnya. Kecuali, tentu, tidak ada.
Janari membaca dua kali. Ardhi tidak tertipu. Ia mengerti persis apa yang sedang disembunyikan, dan kini menyebutnya di ruang yang lebih sunyi, seolah menantang: tunjukkan, atau akui bahwa keranjangmu kosong.
"Dia mencium sisanya," gumam Janari.
Karu, yang belum pulang, menoleh dari meja instrumen. "Tentu saja. Dia pemburu yang sama denganmu. Bedanya, dia lapar."
Janari menutup laptop, tapi tidak beranjak. Di jendela ruang kendali, kubah teleskop 70 cm membisu di bawah langit yang jernih tak wajar, seolah malam sengaja memamerkan bintang-bintang yang tak ada urusannya dengan pertengkaran manusia. Ia telah membeli waktu. Ia telah mempertahankan sebagian nama baiknya tanpa menjual satu pun kata yang belum layak dijual. Tapi ia juga tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa membeli waktu bukanlah menang. Ardhi tidak surut. Ia hanya mundur selangkah untuk melihat lebih jelas ke arah mana Janari akan bergerak.
Dan satu-satunya cara membuktikan yang tersisa itu nyata — bukan artefak, bukan angan-angan seorang perempuan yang mengejar hantu — kini semakin jelas menuntut dirinya sendiri. Dua mata. Dua cakrawala. Satu kedipan yang sama, terkunci pada instan yang sama, dari dua tempat yang berbeda. Ia belum siap. Tapi malam, seperti biasa, tidak menunggu kesiapan siapa pun.