Kabut turun lebih awal malam itu, menutupi jalan setapak dari kubah ke ruang kendali seperti kapas basah yang enggan. Janari baru saja menutup kubah teleskop 70 cm ketika ponselnya bergetar di saku jaket—sekali, dua kali, lalu berturut-turut tanpa jeda, seolah seseorang menumpahkan seember paku ke atas meja logam. Ia tahu getaran yang seperti itu. Bukan pesan pribadi. Sesuatu telah lepas ke dunia.
Di ruang kendali, Sekar sudah berdiri di depan layar dengan wajah yang kehilangan warna. Cahaya monitor memantul di kacamatanya, membuat matanya tampak seperti dua tanda tanya yang dingin.
"Mbak," katanya, dan hanya itu. Ia memutar layar agar menghadap Janari.
Sebuah pracetak. Server praterbit yang biasa mereka baca setiap pagi sambil menyeduh kopi. Nama di baris penulis pertama itu tercetak rapi, tanpa ragu: Dr. Ardhi Renjani. Judulnya disusun dengan ketenangan yang justru membuat Janari merinding—*Sistematik Instrumen yang Meniru Peristiwa Okultasi pada Detektor Kecil: Sebuah Peringatan.* Tidak ada namanya di situ. Tidak perlu. Setiap orang di komunitas kecil ini akan tahu observatorium mana yang dimaksud dengan "detektor kecil di puncak lereng."
Janari menarik kursi dan duduk perlahan, seolah tubuhnya sendiri tak ingin ia membaca. Ia menggulir ke bawah. Metode. Data. Dan di sana, pada gambar ketiga, jantungnya seperti berhenti sekejap.
Kurva-kurva cahaya itu. Ia mengenalinya. Ia mengenalinya seperti orang tua mengenali tulisan tangan anaknya di antara ribuan lembar. Itu peristiwa-peristiwa yang ia dan Sekar sendiri buang—kejadian yang, setelah audit menyakitkan berminggu-minggu, terbukti hanyalah kilau satelit yang melintas. Sampah yang sudah mereka pisahkan dengan tangan mereka sendiri. Dan kini Ardhi memungutnya kembali dari tempat sampah, menaruhnya di atas meja bedah, dan menunjuknya di depan seluruh dunia: *lihat, beginilah hantu yang mereka kejar.*
"Dia mengambil yang terkontaminasi," Sekar berbisir. "Yang justru sudah kita singkirkan. Dia menampilkannya seolah itu bukti utama kita."
"Aku tahu." Suara Janari keluar lebih rata dari yang ia rasakan.
"Tapi itu curang. Itu—" Sekar mencari kata, tangannya bergerak di udara seakan hendak menangkapnya. "Itu bohong dengan data yang benar."
Janari tidak menjawab dulu. Ia menatap gambar itu lama sekali, sampai piksel-pikselnya kabur. Ada semacam keindahan dingin dalam kekejaman ini, dan justru itu yang membuatnya mual. Ardhi tidak memalsukan apa pun. Setiap angka yang ia kutip nyata. Elemen orbit satelit yang ia lampirkan benar. Bentuk titik-sebarnya sungguh mirip apa yang mereka lihat. Ia hanya memilih—dengan sangat cermat—untuk memperlihatkan bagian yang busuk dan menyembunyikan yang bersih. Bukan kebohongan. Kelalaian yang disengaja, dirakit menjadi senjata.
Pintu terbuka dan Karu masuk membawa uap dingin dari luar di bahunya. Ia melirik layar, lalu wajah Janari, lalu layar lagi. Butuh beberapa detik baginya membaca situasi. Teknisi tua itu meletakkan termosnya di meja tanpa suara.
"Renjani," katanya. Bukan pertanyaan.
"Dia menerbitkannya malam ini," kata Janari. "Sebelum kita sempat mengonfirmasi apa pun. Sebelum korda. Dia mendahului kita, tapi bukan dengan temuan—dengan sanggahan atas temuan yang belum kita umumkan."
Karu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja, melipat tangan. "Berapa banyak kejadian yang dia pakai?"
"Sembilan." Janari sudah menghitungnya tanpa sadar. "Tujuh di antaranya kejadian yang kita buang bulan lalu. Yang terbukti satelit. Dua sisanya—" ia menyipit, membaca lampiran, "—dua sisanya dia potong setengah. Dia hanya menampilkan bagian kurva yang tampak seperti derau."
Sekar menghempaskan diri ke kursi. "Kalau orang membaca ini tanpa tahu duduk perkaranya, mereka akan pikir seluruh anomali kita cuma satelit dan piksel panas. Semua. Padahal justru itu yang paling kita hati-hatikan."
"Itulah gunanya," kata Janari pelan. Ia teringat cerita Danastri di kota terpencil itu, buku catatan berdebu di atas meja, suara perempuan tua yang berkata bahwa yang menghancurkannya bukan kesalahan sendiri, melainkan sebagian kejadian yang memang salah, yang lalu dipakai untuk membatalkan seluruhnya. *Satu kilau satelit,* kata Danastri waktu itu, *cukup untuk memadamkan tiga puluh tahun.* Kini Janari melihat mekanismenya bekerja langsung di depan matanya, seperti menonton ulang sebuah kejahatan yang sudah pernah terjadi.
Karu meraih termosnya, memutar tutupnya, tapi tidak menuang. "Broto," katanya. "Mulutnya. Dia yang menabur benih ke Renjani, kau ingat waktu gala itu."
"Mungkin." Janari mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Tak penting siapa yang membisiki. Yang penting sekarang ada dokumen bertanda tanggal, bernama besar, yang mengatakan kami mengejar hantu. Dan besok pagi Wignya akan membacanya. Broto akan membacanya. Larasati akan membacanya."
Kata terakhir menggantung di udara ruangan yang dingin. Larasati. Seorang jurnalis yang selama ini menganggap Janari punya temuan besar akan membaca bahwa astronom yang lebih senior, lebih berdana, telah menyebut temuan itu artefak. Cerita berubah dalam semalam, dan Janari tidak berada di ruangan tempat cerita itu ditulis.
Sekar menoleh, matanya berkilat marah. "Kita harus membalas malam ini juga. Kita punya data bersihnya. Kita tunjukkan bahwa yang dia pakai justru yang kita buang—"
"Tidak." Janari mengangkat tangan.
"Kenapa tidak?"
"Karena kalau aku membuka semua data bersih kita sekarang, aku menyerahkan seluruh temuan yang belum terkonfirmasi kepadanya sebelum korda kita ada." Ia menatap Sekar dengan sesuatu yang lebih letih daripada tenang. "Dia ingin aku panik. Dia ingin aku menumpahkan segalanya di malam yang ia pilih, di panggung yang ia bangun. Kalau aku menari mengikuti iramanya, aku kalah dua kali."
Ruangan sunyi. Di luar, kabut menebal sampai lampu jalan setapak hanya tinggal titik-titik kuning yang buram. Janari menatap kurva-kurva yang dicuri itu untuk terakhir kali, lalu menutup layarnya perlahan, seolah menutup mata seseorang yang belum tentu sudah mati.
"Kita akan menjawab," katanya akhirnya. "Tapi hanya dengan yang bisa kubuktikan bersih. Tidak sepatah kata lebih. Ayahku bilang: jangan pernah menyebut aman sesuatu yang kau ragukan—dan jangan pernah menyebut merah hanya karena tanganmu gemetar."
Ia berdiri. Bahunya terasa berat oleh seluruh gunung. Tapi ketika ia mematikan lampu ruang kendali dan membiarkan gelap menelan mereka bertiga, ia tahu satu hal dengan kepastian dingin yang aneh: Ardhi baru saja mengubah penyelidikan menjadi pertarungan, dan pertarungan itu hanya bisa dimenangkan oleh langit yang sama, dilihat dari dua tempat, pada milidetik yang persis sama. Ia harus bertahan cukup lama untuk sampai ke malam itu.