Malam itu Janari menggelar peta topografi di atas meja panjang laboratorium, dan yang pertama ia cari bukan bintang, melainkan jalan.
Punggung gunung membentang delapan belas kilometer dari utara ke selatan, dan jika perhitungannya benar—jika ephemeris yang ia susun dari gabungan data lamanya dengan arsip Danastri tidak meleset—bayangan benda itu akan menyapu wilayah itu dalam pita selebar tak lebih dari beberapa kilometer, pada jam yang masih beberapa bulan lagi. Satu teleskop tak akan cukup. Satu titik hanya memberi satu garis singgung, satu tepi. Ia butuh korda: dua titik atau lebih, berjarak cukup jauh, mengukur waktu masuk dan keluar bayangan yang sama, agar bentuk dan ukuran benda itu bisa direkonstruksi dari geometri semata—bukan dari keyakinan.
"Kita tidak akan dapat izin memakai teleskop profesional lain," kata Sekar, berdiri di sisi lain meja dengan spidol di tangan. "Ardhi jelas tidak akan meminjamkan. Observatorium lain terlalu jauh atau terlalu sibuk."
"Makanya kita tidak minta yang profesional." Janari menandai tiga titik di sepanjang punggung gunung dengan pensil, lalu menyambungnya jadi garis putus-putus. "Kita minta yang kecil. Yang banyak."
Ia sudah memikirkannya berhari-hari sebelum mengucapkannya keras-keras: jaringan astronom amatir. Klub-klub kecil di kota kaki gunung, di desa-desa penambang belerang, di kompleks perumahan yang kadang mengadakan malam pengamatan untuk anak sekolah. Teleskop 20 sentimeter, 15 sentimeter, bahkan yang 8 inci dengan pemasangan Dobson buatan sendiri—tidak presisi seperti detektor 70 sentimeter di observatorium, tapi cukup untuk mencatat satu hal sederhana: kapan sebuah bintang padam, dan kapan ia menyala kembali. Waktu, bukan citra rinci, yang mereka butuhkan. Dan waktu bisa dicatat siapa saja yang sabar dan disiplin, asal jamnya terkunci ke standar yang sama.
"Aku sudah menghubungi tiga klub," kata Sekar, membalik buku catatannya. "Klub Astronomi Cakrawala di kota bawah, punya dua belas anggota aktif. Komunitas Bintang Belerang—namanya aneh tapi mereka serius, sering ikut kampanye pengamatan gerhana. Dan satu grup guru fisika SMA yang punya teleskop sumbangan alumni."
"Berapa yang punya GPS atau setidaknya radio waktu?"
"Belum satu pun. Tapi mereka semua punya ponsel dan aplikasi sinkronisasi jaringan. Kita bisa kirim modul penerima GPS murah—Karu bilang ia bisa merakit sepuluh unit dari komponen yang ada di gudang."
Janari menatap nama-nama di buku catatan Sekar seperti menatap koordinat baru di langit: tidak dikenal, belum diverifikasi, tapi berpotensi menjadi titik yang mengubah semuanya.
Pertemuan pertama diadakan di balai desa kecil di lereng tengah, ruangan beratap seng dengan bangku kayu yang berderit setiap kali seseorang bergeser. Dua belas orang datang dari Klub Cakrawala, delapan dari Bintang Belerang, dan tiga guru yang membawa murid-murid mereka meski Janari sudah bilang tak perlu. Bau kopi murah dan minyak wangi kayu putih memenuhi ruangan. Seorang lelaki tua dengan kemeja flanel lusuh duduk paling depan, memegang buku catatan observasi bertahun-berkas yang sampulnya sudah menguning—ia memperkenalkan diri sebagai Pak Slamet, dua puluh tahun mengamati gerhana bulan dari pekarangan rumahnya sendiri.
Janari tidak menjelaskan semuanya. Ia tidak menyebut kedipan yang padam di jam salah, tidak menyebut Danastri, tidak menyebut angka kasar tentang benda gelap dan masif yang mungkin ada di ujung perhitungannya. Ia hanya menjelaskan yang perlu: ada sebuah kejadian langit yang bisa diprediksi, terjadi dalam jendela beberapa detik, dan untuk membuktikan kejadian itu nyata—bukan derau, bukan cacat instrumen, bukan sesuatu yang mudah dibantah—mereka butuh lebih dari satu mata yang menatap satu titik pada saat bersamaan.
"Ini seperti mengukur bayangan gerhana matahari," katanya, menggambar diagram sederhana di papan tulis: sebuah bola gelap melintas di depan cahaya, bayangannya menyapu tanah dalam pita sempit, dan hanya pengamat yang tepat berada di dalam pita itu yang melihat gelapnya. "Yang membedakan pengamat yang berdiri di tengah pita dan yang berdiri sedikit di luar, adalah data yang bisa memberi tahu kita seberapa lebar dan seberapa jauh benda yang melintas itu."
Seorang perempuan muda di baris belakang mengangkat tangan. "Kalau kami tidak melihat apa-apa malam itu—apakah itu artinya kami gagal?"
"Tidak," jawab Janari, dan ia sungguh-sungguh percaya itu. "Kalau kalian tidak melihat apa-apa, itu juga data. Itu memberi tahu kita di mana tepi bayangan itu berada. Negatif sama pentingnya dengan positif, asal jamnya benar."
Sekar yang mengambil alih setelah itu—membagikan lembar koordinat, menjelaskan cara memasang modul GPS kecil ke mount teleskop masing-masing, menunjukkan cara mencatat waktu dengan presisi sepersepuluh detik memakai aplikasi yang sudah ia uji sendiri selama seminggu. Janari memperhatikan dari sudut ruangan bagaimana Sekar berbicara—sabar pada pertanyaan yang diulang, tegas pada detail yang tak boleh ditawar, tanpa pernah merendahkan siapa pun yang belum paham. Sesuatu di dadanya menghangat, meski ia tak mengatakannya.
Pulang malam itu, mobil bergoyang menuruni jalan berbatu, Sekar memegang setumpuk formulir kesediaan yang sudah ditandatangani.
"Dua puluh tiga orang," katanya. "Sembilan belas titik pengamatan berbeda kalau kita hitung yang berdekatan jadi satu kelompok."
"Itu sembilan belas mata yang lebih banyak dari yang kita punya minggu lalu." Janari menatap punggung gunung yang menghitam di kejauhan, garis siluetnya melawan langit yang mulai jernih. Ia belum tahu apakah sembilan belas titik itu akan cukup, apakah jendela cuaca akan berpihak, apakah jam yang mereka kunci hari ini akan tetap sinkron ketika saatnya tiba berbulan-bulan lagi. Tapi untuk pertama kalinya sejak Wignya mengucapkan kata "ultimatum", ia merasa punggung gunung itu bukan lagi dinding yang mengurungnya sendirian, melainkan sesuatu yang bisa ia petakan bersama orang lain.
"Karu akan senang," kata Sekar. "Ia sudah menghitung berapa banyak solder yang perlu ia beli."
Janari tersenyum tipis, nyaris tak terlihat dalam gelap kabin mobil, dan membiarkan peta di pangkuannya—garis putus-putus yang kini bertambah titik demi titik—menjadi satu-satunya hal yang perlu ia percayai malam itu.