Pak Wignya memanggilnya selepas jam kerja, ketika sebagian besar lampu di gedung utama sudah padam dan hanya ruang kerjanya yang masih menyala kuning di ujung koridor. Janari tahu artinya sebelum pintu itu terbuka. Panggilan mendadak selepas rapat dewan selalu berarti kabar yang ingin disampaikan sebelum sempat mengeras jadi rumor.
Meja Wignya penuh kertas—bukan data, melainkan angka-angka lain: proyeksi anggaran, grafik batang yang menurun tajam di kuartal terakhir, sebuah memo berkop dewan pembina yang belum sempat ia sembunyikan. Wignya duduk di baliknya seperti orang yang baru saja kalah dalam sesuatu yang tak bisa ia ceritakan detailnya.
"Duduk," katanya, lalu, seolah menyesal sudah terdengar seperti perintah, ia menambahkan, "tolong."
Janari duduk. Dari jendela di belakang Wignya, ia bisa melihat kubah teleskop 70 cm, gelap dan tertutup, menunggu malam.
"Dewan baru selesai rapat tiga jam," Wignya memulai. "Aku akan langsung saja, karena kau bukan orang yang perlu dibungkus-bungkus." Ia mendorong salah satu kertas ke arah Janari—bukan untuk dibaca, hanya untuk ditunjukkan bahwa ia nyata. "Ini proyeksi kalau tak ada perubahan. Observatorium ini kehabisan dana operasional dalam waktu kurang dari delapan belas bulan. Bukan program tunggal. Semuanya."
"Aku sudah dengar versi ringannya," kata Janari. "Kau bilang tinjauan anggaran, bukan penutupan."
"Kata-kata berubah sesuai siapa yang mengucapkannya di ruang itu," jawab Wignya datar. "Hari ini kata yang dipakai bukan tinjauan lagi."
Ia berhenti, seperti mengukur berapa banyak yang perlu ia katakan dan berapa banyak yang sebaiknya ia biarkan Janari simpulkan sendiri. Tapi rupanya ia sudah lelah untuk berhemat kata.
"Broto duduk di rapat itu sebagai pengamat. Dia tidak bicara banyak. Dia tidak perlu. Dewan tahu siapa satu-satunya pihak yang menawarkan menambah dana di luar anggaran resmi, dan dewan juga tahu syaratnya." Wignya menatapnya. "Gala ulang tahun observatorium bulan depan. Kalau kita punya sesuatu untuk ditunjukkan malam itu—sesuatu yang bisa dijual ke publik dan ke calon donor lain yang diundang Broto—dana itu turun, dan program-program kita, termasuk punyamu, aman untuk beberapa tahun ke depan. Kalau tidak..." ia tidak menyelesaikan kalimat itu, membiarkan keheningan mengerjakan sisanya.
"Kalau tidak, apa," Janari memaksa, karena ia sudah cukup lama bekerja untuk tahu kalimat yang digantung selalu lebih berat daripada yang diucapkan.
"Kalau tidak, dewan memangkas dua program riset yang belum menghasilkan publikasi tervalidasi dalam dua tahun terakhir demi tetap membuka pintu ini. Kau tahu program mana yang mereka maksud." Wignya menggosok pelipisnya. "Dan itu berarti posisi pascadoktoralmu tidak diperpanjang, Janari. Aku sudah melihat draf suratnya. Aku belum menandatanganinya. Tapi aku tak yakin bisa menahannya lebih dari satu putaran rapat lagi."
Janari diam. Di luar jendela, kubah teleskop tampak tak berubah, sabar, tak tahu bahwa nasibnya sedang ditimbang di ruangan ini oleh orang-orang yang tak pernah menaiki tangganya di tengah malam.
"Aku sedang menyelidiki sesuatu," katanya akhirnya, hati-hati memilih kata sesuatu, bukan temuan. "Tapi itu belum siap untuk diumumkan ke mana pun, apalagi ke gala donor. Aku belum tahu apa itu nyata."
"Aku tahu kau sedang menyelidiki sesuatu." Nada Wignya berubah, lebih pelan, hampir seperti permintaan maaf yang tak sanggup ia ucapkan penuh. "Broto sudah bicara denganku dua kali soal itu. Katanya kau punya 'kedipan aneh' di data okultasimu. Aku tidak menanyakan detailnya padamu karena aku tak mau jadi orang yang mendesakmu bicara sebelum kau siap. Tapi aku juga tak bisa berpura-pura punya delapan belas bulan lagi untuk menunggu kesiapanmu."
"Itu bukan cara kerja sains," kata Janari. "Aku tidak bisa membuat sesuatu jadi terkonfirmasi karena jadwal gala."
"Aku tahu." Wignya menatapnya lama, dan untuk sesaat Janari melihat sesuatu di wajahnya yang bukan tekanan atasan, melainkan kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menyeimbangkan dua neraca yang tak sepadan. "Aku hanya memintamu memahami posisiku, seperti aku mencoba memahami posisimu. Aku tidak menyuruhmu berbohong. Aku hanya bilang—jendela waktunya menyempit, dari dua arah sekaligus, dan aku tak bisa mengubah arah yang satu."
Kalimat itu menempel di kepala Janari lebih lama daripada yang ia duga, karena ia tahu persis jendela mana yang dimaksud Wignya—jendela dewan, jendela gala, jendela anggaran. Tapi ada jendela lain yang hanya diketahuinya sendiri, yang sudah ia hitung malam sebelumnya dari lembaran ephemeris yang belum ia tunjukkan pada siapa pun: rentang bulan ketika, jika hipotesisnya benar, kedipan itu akan kembali muncul di koordinat sidereal yang sama. Dua jendela itu bergerak dari arah yang sama sekali berbeda—satu ditentukan rapat dewan dan kalender gala, satu ditentukan mekanika benda langit yang tak peduli pada anggaran siapa pun—dan untuk pertama kalinya ia menyadari betapa dekat keduanya bisa saling berimpit, seolah dua jam yang berjalan dengan detak yang berbeda tiba-tiba disetel ke arah pertemuan yang sama.
Ia tidak mengatakan itu pada Wignya. Belum saatnya, dan lagi pula ia sendiri belum yakin apa artinya kalau benar keduanya bertemu.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun untuk gala," katanya akhirnya. "Yang bisa kujanjikan hanya ini: kalau ada sesuatu yang nyata di sana, aku akan tahu sebelum aku bicara ke siapa pun. Dan kalau tidak ada, aku juga akan bilang begitu, sekeras apa pun itu terdengar bagi Broto."
Wignya mengangguk pelan, tapi Janari bisa melihat itu bukan anggukan setuju, melainkan anggukan orang yang menerima jawaban yang tak sepenuhnya ia inginkan karena tak ada jawaban lain yang bisa diberikan. "Aku akan menahan dewan selama aku bisa," katanya. "Tapi jangan buat aku menahan lebih lama dari yang mampu kutahan, Janari."
Ketika Janari keluar dari ruangan itu, malam sudah turun penuh di atas Tepi Lereng, dan kubah observatorium mulai membuka diri seperti biasa, tak tahu-menahu bahwa jam yang mengaturnya kini bersaing dengan jam lain yang jauh lebih tak sabar.