Satu kedipan tidak membuktikan apa pun. Ini hal pertama yang harus Janari katakan pada dirinya sendiri tiap kali jantungnya berdebar terlalu cepat. Dalam ilmu, satu peristiwa adalah anekdot. Kebetulan terjadi setiap malam, di mana saja, bagi siapa saja yang menatap cukup lama. Sinar kosmik bisa menabrak detektor dan membuat satu piksel meletup. Sebuah pecahan satelit yang tidak terlacak bisa lewat. Bahkan kesalahan statistik murni—di antara jutaan titik data, satu pasti akan tampak luar biasa hanya karena peluang. Untuk membedakan sinyal dari keberuntungan buruk, kau butuh pengulangan. Kau butuh ramalan yang terbukti.
Maka Janari berhenti memperlakukan kedipan itu sebagai misteri dan mulai memperlakukannya sebagai hipotesis. Hipotesisnya: ada sebuah benda gelap dan jauh, di tepi tata surya, bergerak sangat lambat melintasi latar bintang. Kalau benar, benda itu tidak akan diam. Malam berikutnya ia akan berada di tempat yang sedikit berbeda. Dan kalau Janari bisa menebak ke mana benda itu bergerak, ia bisa mengarahkan teropong ke petak langit tempat benda itu seharusnya berada, lalu menunggu apakah ia menutup bintang lain di sana.
Ini bagian yang membuatnya bersemangat dan takut sekaligus. Karena ramalan adalah pisau bermata dua. Kalau ia meramal dan benar, itu kuat sekali—jauh lebih meyakinkan daripada menemukan kedipan secara kebetulan. Tapi kalau ia meramal dan salah, hipotesisnya runtuh, dan itu sebenarnya bagus, karena begitulah ilmu bekerja: kau memberi alam kesempatan untuk membuktikanmu salah.
Ia menghabiskan dua hari berhitung. Dari satu kedipan ia tidak bisa tahu banyak; ia tidak tahu jarak benda itu, tidak tahu arahnya dengan pasti. Tapi ia tahu sesuatu. Benda di tata surya luar bergerak melawan latar bintang dengan kecepatan tertentu yang bergantung pada jaraknya—makin jauh, makin lambat. Tepi kedipan yang sangat tajam memberitahunya bahwa benda itu jauh, mungkin di luar Neptunus. Dengan asumsi itu, ia bisa membatasi seberapa cepat benda itu bergeser di langit setiap malam: tidak lebih dari sekian detik busur, satu jangkauan sempit. Ia memetakan sebuah pita tipis di langit, sebuah jalur kemungkinan tempat benda itu—jika ada—akan merangkak.
Lalu ia memilih bintang-bintang di sepanjang pita itu, bintang-bintang redup yang mungkin akan ditutup benda itu kalau benda itu lewat. Ia menjadwalkan teropong untuk merekam petak-petak langit itu malam demi malam, beberapa jam tiap malam. Peluangnya tipis. Benda sekecil itu, kalaupun ada, hanya menutup bintang kalau lurusnya pas; sebagian besar malam tidak akan terjadi apa-apa. Ia tahu ia mungkin menghabiskan dua puluh malam tanpa hasil. Tapi sains yang jujur memang seperti itu—kau pasang perangkap di tempat yang kau ramalkan, lalu kau tunggu dengan sabar yang menyakitkan.
Ia melakukannya diam-diam. Itu bagian yang tidak nyaman. Waktu teropong di observatorium terbatas, dan setiap jam yang ia pakai untuk memburu hantu adalah jam yang tidak ia pakai untuk pengamatan yang bisa 'dijual'—asteroid yang bisa diberi nama sponsor, okultasi yang bisa dijadikan siaran pers. Ia menyelipkan perburuannya di jam-jam mati, dini hari ketika tidak ada yang menjadwalkan apa pun, dan ia tidak menuliskannya dengan jelas di kalender bersama. Bukan karena ia berbohong. Karena ia tahu Bu Halimah akan menghentikannya, dan ia belum siap berdebat.
Kerumitan itu bertambah berat pada hari rapat donor.
Rapat itu diadakan di ruang serbaguna yang dingin, dengan kursi-kursi plastik dan proyektor yang gambarnya pudar. Para penyandang dana duduk berjajar: pengusaha lembah yang menamai diri 'Sahabat Langit Tepi Lereng,' dengan ketua bernama Pak Wirosaba, lelaki ramah yang senyumnya tidak pernah sampai ke matanya. Mereka membayar listrik observatorium ini, gaji Karu, sebagian gaji Janari. Dan mereka, seperti semua donor, ingin tahu apa yang mereka beli.
'Kami suka langit,' kata Pak Wirosaba, melipat tangan. 'Tapi langit tidak membayar tagihan. Tahun lalu kami diberi tahu observatorium ini akan menghasilkan penemuan yang membuat nama kota kita masuk berita. Sampai sekarang yang kami dapat adalah—' ia melirik catatannya '—pengukuran orbit asteroid bernomor. Saya tidak meragukan itu penting bagi ilmu. Tapi saya tidak bisa memajangnya di balai kota.'
Bu Halimah menjelaskan dengan sabar tentang nilai jangka panjang, tentang pendidikan, tentang murid-murid sekolah yang datang berkunjung. Janari memperhatikan, dan untuk pertama kali ia melihat seberapa lelah direkturnya, seberapa tipis benang yang menahan tempat ini tetap buka. Lalu mata Pak Wirosaba pindah kepadanya.
'Dan peneliti muda kita ini. Apa yang sedang kau kerjakan, Nak? Sesuatu yang heboh, mudah-mudahan?'
Janari merasakan dua jalan terbuka di depannya. Ia bisa menyebut kedipan itu sekarang—mengubahnya jadi cerita, menjual misteri, membeli waktu untuk observatorium. Donor menyukai misteri. Tapi ia ingat buku log hijau, ingat kalimat yang terhenti di tengah, ingat surat dingin tiga puluh tahun lalu. Mengumumkan sesuatu yang belum bisa kau buktikan adalah persis kesalahan yang menghancurkan gurunya.
'Saya sedang memperhalus pengukuran orbit benda-benda kecil tata surya luar,' katanya, dan itu tidak sepenuhnya bohong. 'Kerja yang teliti, Pak. Tidak heboh. Tapi kalau kami menemukan sesuatu, kami ingin menemukannya dengan benar, supaya tidak ditarik kembali dan membuat malu kota Bapak.'
Pak Wirosaba menatapnya lama, lalu tersenyum—senyum yang lagi-lagi tidak sampai ke mata. 'Dengan benar itu bagus. Tapi kami punya batas waktu, Nona Nawangsih. Uang punya batas waktu. Langit boleh abadi, anggaran tidak.'
Di mobil tua yang membawanya kembali ke kubah malam itu, Janari memandang ke arah pita langit yang sudah ia petakan di kepalanya, jalur tempat hantunya mungkin merangkak. Sekali bukan bukti, ia mengingatkan dirinya. Ia butuh kedipan kedua. Dan ia butuhnya sebelum batas waktu uang habis—tekanan yang persis berlawanan dengan kesabaran yang dituntut oleh ilmu yang jujur. Antara dua jam itu, jam ilmu dan jam uang, ia tahu salah satunya akan kalah.