Fajar belum benar-benar datang ketika Janari Nawangsih mematikan telepon genggamnya untuk yang ketiga kalinya malam itu, meletakkannya menghadap ke bawah di atas meja kerja seolah dengan begitu ia bisa membungkam apa pun yang masih berdenting di baliknya. Larasati sudah berhenti menelepon sejak tengah malam. Yang tersisa hanya derau kipas pendingin server dan cahaya biru dari monitor yang menampilkan kurva cahaya yang sama, untuk ke sekian kalinya, seolah dengan menatapnya cukup lama ia bisa memaksa data itu mengaku sesuatu yang belum ia ketahui.
Satu titik. Satu penurunan tajam, lalu naik lagi, di jam sidereal yang sudah ia kenal seperti alamat rumah sendiri. Bersih dari kontaminasi satelit—ia sudah memastikannya berkali-kali, menyilangkannya dengan elemen orbit, dengan katalog, dengan segala yang bisa disilangkan. Tapi bersih dari kontaminasi bukan berarti terbukti nyata. Ia tahu bedanya sekarang, dan mengetahuinya membuat dadanya dingin.
Karu masuk membawa dua cangkir kopi tanpa diminta, meletakkan satu di sisi keyboard tanpa menyentuh mouse yang sedang tidak dipakai—kebiasaan lama, hormat pada meja kerja orang lain. Ia duduk di kursi seberang, mengaduk kopinya sendiri, menunggu.
"Larasati sudah berhenti?" tanyanya.
"Untuk malam ini." Janari menyandarkan punggung. "Tapi itu bukan yang membuatku tidak bisa tidur."
"Aku tahu." Karu menyesap kopinya. "Kau memikirkan Ardhi."
Bukan pertanyaan. Janari menatap layar lagi, ke lekuk kurva yang turun lalu naik, seakan bintang itu menahan napas sedetik lalu melepaskannya. "Renjani bisa membantah data ini seratus cara berbeda, Karu, dan dia akan benar melakukannya. Piksel panas. Sinar kosmik yang bentuknya kebetulan mirip. Kilau satelit yang belum masuk katalog publik. Derau yang menyamar jadi pola karena aku terlalu ingin melihatnya." Ia berhenti. "Dan aku tidak bisa membantahnya balik. Bukan dengan ini."
"Datamu bersih."
"Datanya bersih dari yang sudah kuperiksa. Tapi satu teleskop, sebagus apa pun, hanya punya satu mata. Dan satu mata bisa dibohongi—oleh langit, oleh instrumen, oleh dirinya sendiri." Ia teringat Danastri, buku catatan berdebu yang kini tersimpan rapi di lacinya, dan cara perempuan tua itu bicara tentang keruntuhannya sendiri: deteksi yang nyata, katanya, tapi cukup satu kejadian yang terbukti kilau satelit untuk merobohkan semuanya, karena tak ada saksi kedua yang bisa menjaminnya.
"Jadi apa," kata Karu, "kita bangun detektor yang lebih bagus lagi?"
"Bukan lebih bagus. Lebih banyak." Janari duduk tegak, dan untuk pertama kalinya sejak media itu bocor, sesuatu di dalam dirinya terasa jernih alih-alih panik. "Satu teleskop bisa dibohongi. Dua teleskop yang berjauhan, yang menangkap kedipan yang sama, pada instan yang sama, dengan jam yang sama-sama terkunci ke GPS—itu tidak bisa dibohongi dengan cara yang sama. Satelit yang lewat di atas kepalaku tidak akan lewat di atas kepala pengamat lain seratus kilometer dari sini pada detik yang persis sama. Piksel panas di detektorku tidak akan muncul serentak di detektor orang lain yang berbeda instrumen, berbeda produsen, berbeda riwayat. Tapi bintang yang betul-betul dilewati sesuatu yang gelap dan jauh—" ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati, seperti selalu, "—bayangannya jatuh di permukaan Bumi sebagai jalur, bukan titik. Siapa pun yang berdiri cukup dekat ke jalur itu akan melihat gerhana yang sama, pada detik yang sama, dari sudut yang berbeda."
Karu diam sebentar, menimbang. "Dua mata," katanya akhirnya, "lebih sulit dibohongi daripada satu."
"Lebih sulit dibohongi oleh langit. Dan lebih sulit dibantah oleh orang yang ingin aku salah." Ia menuliskannya di kertas kosong di sebelah keyboard—bukan rumus, hanya kalimat, karena kadang ia perlu melihat sesuatu tertulis untuk memercayainya sebagai rencana, bukan sekadar harapan tengah malam. Bukti bukan dari satu stasiun yang meyakinkan. Bukti dari dua stasiun yang sepakat.
Ia memikirkan ayahnya sebentar, entah kenapa—cara lelaki itu tidak pernah puas hanya dengan satu lampu hijau di panel kotak sinyal, selalu menunggu konfirmasi kedua dari menara berikutnya sebelum berani bilang jalur aman. Satu sinyal bisa salah kabel, salah baca, salah niat baik yang tergesa. Dua sinyal yang sepakat, dari dua tempat yang tidak saling memengaruhi, itu baru layak disebut kebenaran.
"Kalau begitu," kata Karu, meletakkan cangkirnya, "kita butuh mata kedua. Di mana?"
"Aku belum tahu." Dan itu jujur—belum ada nama, belum ada tempat, hanya bentuk masalah yang tiba-tiba tampak lebih sederhana daripada semalam: bukan lagi bagaimana meyakinkan Ardhi, bukan bagaimana menjinakkan Broto, bukan bagaimana menenangkan Wignya. Hanya satu pertanyaan teknis, keras dan bisa dijawab: siapa, di baseline berapa jauh, dengan jam seakurat apa, bisa berdiri di titik lain di bawah jalur bayangan yang sama dan menyaksikan kedipan yang sama pada detik yang sama.
Ia menutup laptop pelan-pelan, bukan karena selesai, tapi karena untuk pertama kalinya dalam berhari-hari ia tahu persis ke arah mana harus melangkah esok pagi. Di luar jendela dome, langit di atas Tepi Lereng masih hitam sempurna, bintang-bintang tak bergeming seolah tidak tahu bahwa seseorang di bawah mereka baru saja memutuskan cara membuktikan salah satunya berbohong—atau tidak.
"Aku akan cari siapa yang punya teleskop kedua," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Karu. "Siapa pun itu. Di mana pun itu."
Karu mengangguk, dan tidak bertanya lebih jauh, karena ia sudah mengenal Janari cukup lama untuk tahu bahwa begitu perempuan itu berhenti bertanya "apakah ini nyata" dan mulai bertanya "bagaimana membuktikannya," malam-malam sulit yang sesungguhnya baru saja dimulai.