Peta topografi itu tergelar di meja gambar, kertasnya membentang sampai jatuh di kedua ujung dan disangga cangkir kosong agar tak menggulung sendiri. Janari menandai Observatorium Tepi Lereng dengan titik merah kecil, lalu menarik jangkanya membentuk busur—seratus kilometer, dua ratus, tiga ratus—mengukur berapa jauh sebuah stasiun kedua mesti berdiri agar sudut pandangnya cukup berbeda dari sudut pandangnya sendiri. Kalau dua teleskop menatap bintang yang sama dari dua titik yang cukup terpisah, bayangan benda gelap yang lewat di depannya akan menyapu jejak yang sedikit bergeser—satu di sini, satu di sana, keduanya menandai tepi bayang yang sama seperti dua orang menjejak batas gerhana matahari dari kota berbeda. Kord. Itu kata yang terus ia ulang dalam kepala sejak percakapannya dengan Karu semalam. Dua mata lebih baik dari satu, tapi dua mata itu harus berdiri di tempat yang tepat.
Ia menghitung ulang baseline minimum, mencoret angka di pinggir peta, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap langit-langit ruang kerja yang catnya mengelupas di sudut. Tiga pilihan. Hanya tiga yang masuk akal dalam radius yang bisa ia jangkau dengan sumber daya yang ia miliki, dan ketiganya punya harga yang berbeda.
Karu masuk membawa dua gelas teh, meletakkan satu di dekat siku Janari tanpa bertanya apakah ia mau. "Sudah dapat jaraknya?"
"Butuh minimal seratus delapan puluh kilometer, kalau mau kesalahan paralaksnya di bawah ambang berarti," jawab Janari, menunjuk busur di peta. "Lebih jauh lebih baik, tapi jangan sampai atmosfernya beda cuaca terlalu ekstrem."
Karu menunduk, menyusuri garis busur itu dengan mata tuanya yang masih tajam untuk hal semacam ini. Jari kasarnya berhenti di satu titik di lembah seberang gunung. "Itu punya Renjani."
Janari sudah tahu sebelum Karu mengucapkannya. Fasilitas Dr. Ardhi Renjani punya cermin sepanjang satu meter dua puluh, sistem pewaktuan yang jauh lebih baru dari milik mereka, dan—yang paling menyakitkan—posisi geografis yang nyaris sempurna untuk baseline yang ia butuhkan. Seolah semesta sengaja meletakkan alat terbaik di tangan orang yang paling ingin melihatnya gagal.
"Aku tidak akan mengetuk pintunya," kata Janari, lebih cepat dari yang ia rencanakan.
"Aku tidak menyuruhmu begitu." Karu menyesap tehnya. "Cuma bilang, itu ada di sana. Kadang alat terbaik ada di tangan yang salah, dan kau harus memutuskan seberapa besar itu penting."
Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengirim surat ke lembaga Ardhi meminta waktu teleskop bersama untuk okultasi yang belum bisa ia buktikan nyata: kabar itu akan sampai ke Ardhi dalam hitungan jam, bukan sebagai permintaan kolaborasi, melainkan sebagai pengakuan bahwa Janari butuh validasi dari orang yang sudah mempertanyakan datanya di depan umum. Ia akan memberi senjata pada tangan yang sudah menodongnya. Pilihan itu, untuk sekarang, ia coret dari daftar bukan karena mustahil, tapi karena harganya terlalu mahal untuk dibayar lebih awal.
Pilihan kedua ia buka dari laci: sebuah map tipis berisi cetakan surel dari milis astronomi amatir, nama-nama yang selama ini hanya ia kenal dari unggahan kurva cahaya bintang variabel di forum daring—dokter gigi di kota pelabuhan yang punya teleskop dua puluh sentimeter di halaman belakang, pensiunan insinyur yang mencatat gerhana bulan sejak tiga dekade lalu, seorang guru SMA yang membangun observatorium mini dari atap gudang. Mereka tersebar, tak terlatih untuk protokol seketat miliknya, tapi jumlah mereka bisa jadi kekuatan tersendiri—garis korda yang bukan cuma dua titik, melainkan selusin, melintang di punggung gunung seperti jaring yang menampung apa saja yang lolos dari satu mata.
Masalahnya sederhana dan keras kepala: pewaktuan. Tanpa osilator terkunci-GPS di setiap titik, catatan waktu mereka bisa meleset detik demi detik—cukup untuk membuat korda yang seharusnya presisi jadi kabur, atau lebih buruk, menghasilkan pola palsu yang nanti akan dituding sebagai kesalahan sistematis oleh orang yang tepat. Ia mencatat itu di pinggir map: perlu jam GPS murah untuk tiap sukarelawan, perlu pelatihan singkat, perlu waktu yang tak banyak ia punya.
Pilihan ketiga tak perlu ia cari di laci mana pun. Ia sudah ada di kepalanya sejak awal, tersembunyi di balik pilihan-pilihan lain seperti sesuatu yang enggan ia lihat langsung. Stasiun tua Prof. Danastri berdiri di punggungan bukit lain, cukup jauh untuk baseline yang memadai, dengan kubah yang—menurut catatan yang pernah diceritakan padanya—masih berdiri meski atapnya berkarat dan cerminnya belum disentuh bertahun-tahun. Danastri sudah menyerahkan buku catatannya. Danastri sudah mengakui koordinat yang tumpang tindih. Tapi menyerahkan data lama adalah satu hal; menyalakan kembali instrumen yang dulu ikut menghancurkannya adalah hal lain yang jauh lebih berat, dan Janari tidak yakin punya hak untuk memintanya.
"Tiga pintu," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Karu, "dan aku tidak suka satu pun caranya mengetuk."
Karu meletakkan gelasnya, berdiri, dan menepuk pundak Janari sekali, singkat, seperti biasa ia lakukan ketika tak ada kata yang cukup tepat untuk dikatakan. "Kau tidak harus memilih satu malam ini. Tapi kalau menunggu terlalu lama, jendela kejadianmu akan lewat sebelum kau sempat mengetuk pintu mana pun."
Janari menatap peta lagi, tiga titik yang sudah ia lingkari dengan pensil merah tanpa sadar—satu di lembah seberang, satu tersebar di lereng-lereng jauh, satu di punggungan yang menyimpan kubah berkarat. Ia tidak menghapus satu pun. Ia hanya melipat peta itu perlahan, menyimpannya di map bersama cetakan surel milis amatir, dan mematikan lampu meja. Di luar jendela, langit malam itu bersih, penuh bintang yang tak peduli pada pintu mana yang akan ia ketuk lebih dulu.