Ponsel Janari mulai berdering pukul lima pagi, jauh sebelum alarm yang biasa membangunkannya untuk sif malam terakhirnya. Ia menjawabnya dengan mata separuh terpejam, mengira itu Karu mengabari sesuatu tentang osilator yang rewel semalam. Bukan. Nama di layar adalah Sekar, dan pesannya cuma lima kata: "Kak Jan, sudah lihat berita belum?"
Ia membukanya dalam gelap kamar yang masih berwarna biru sebelum subuh. Judulnya bukan kalimat hati-hati seperti biasa ditulis wartawan sains yang baik. Judulnya berteriak, dengan tanda tanya yang tidak benar-benar bertanya: Observatorium Tepi Lereng Temukan Lubang Hitam? Nama Larasati tercetak di bawahnya, di atas foto Janari berdiri di depan kubah teleskop 70 cm—foto lama, diambil untuk keperluan lain sama sekali, kini dipasang seolah ia baru saja keluar dari kubah membawa kabar besar.
Ia membaca lebih jauh, dan perutnya mengeras. Kutipan demi kutipan diambil dari transkrip seminar kecil tempat Ardhi menyerangnya bulan lalu—kalimat-kalimatnya sendiri, tapi dipotong di tempat yang salah, disambung dengan tanda elipsis yang membuat keraguan terdengar seperti pengakuan. "Sumber dekat observatorium" disebut dua kali, tanpa nama, mengatakan bahwa "penemuan ini bisa jadi yang terbesar sejak observatorium berdiri." Ia tahu persis siapa yang bicara seperti itu tanpa pernah mengizinkan namanya dicantumkan.
Di kubah, matahari baru separuh naik ketika ia sampai. Karu sudah menunggu di depan pintu instrumen, wajahnya yang biasa tenang kini dilipat kerut yang tak biasa.
"Kau tidak bilang begitu," kata Karu, bukan pertanyaan.
"Aku tidak pernah bilang begitu," jawab Janari. Suaranya datar, tapi tangannya, saat ia mengeluarkan laptop dari tas, sedikit gemetar.
Di ruang Wignya, Broto Sasongko sudah duduk di sofa, menyesap kopi yang disediakan sekretaris, wajahnya yang biasanya waspada kini nyaris cerah. Wignya berdiri di belakang mejanya, tidak duduk, tanda bahwa ia sudah membaca artikel itu berulang kali sejak subuh.
"Ini bukan yang kuinginkan," kata Janari begitu pintu tertutup. "Aku tidak pernah memakai kata itu. Tidak sekali pun."
"Tapi kau tidak menyangkalnya juga, waktu diwawancara," kata Broto, meletakkan cangkirnya. "Dan sekarang, lihat—semua orang bicara tentang kita. Bukankah ini yang selama ini kau bilang kau tidak punya, Wignya? Perhatian?"
"Perhatian yang salah," kata Janari, "adalah perhatian yang harus kucabut lagi nanti, di depan orang yang sama, dengan cerita yang jauh lebih kecil dan lebih membosankan daripada lubang hitam."
Wignya mengusap wajahnya. "Kau bisa buktikan itu bukan lubang hitam?"
"Aku bisa buktikan aku tidak pernah mengatakan itu adalah lubang hitam," jawab Janari. "Itu beda. Yang kupunya baru okultasi berulang di koordinat yang tak terkatalog. Itu saja. Belum ada ukuran, belum ada jarak yang pasti, belum ada konfirmasi dari stasiun kedua. Kalau aku biarkan judul itu berdiri, aku sedang menandatangani sesuatu yang belum kutulis."
"Atau," kata Broto pelan, "kau sedang membiarkan orang lain menuliskannya untukmu, dan kau cukup diam saja."
Kalimat itu menggantung di udara ruangan seperti asap yang tak mau pergi. Janari menatapnya, dan untuk sesaat ia merasakan sesuatu yang asing: godaan yang datang bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri—betapa mudahnya diam, betapa nyamannya membiarkan kesalahpahaman bekerja untuknya sementara ia menyusun buktinya pelan-pelan di belakang layar.
Ia teringat cerita Danastri, yang ia dengar sepotong-sepotong dari Karu berminggu-minggu lalu: bagaimana tiga puluh tahun silam sebuah klaim yang benar sebagiannya dibiarkan tumbuh menjadi klaim yang salah seluruhnya, karena tak seorang pun mau jadi orang yang mengecilkannya di depan publik yang sudah telanjur bersorak. Ketika akhirnya terbukti sebagian data itu cuma kilau satelit, yang runtuh bukan cuma data yang salah, tapi juga data yang benar, karena semuanya sudah terlanjur dilipat jadi satu cerita. Ia tidak mau ceritanya sendiri berjalan ke arah yang sama, dan ia sadar jalan ke sana dimulai persis di ruangan ini, dengan diam yang kelihatannya tidak berbahaya.
"Aku akan menulis pernyataan," katanya akhirnya. "Aku akan pakai kata-kataku sendiri, persis. Bukan mengoreksi Larasati kata demi kata—itu cuma akan jadi berita baru soal 'observatorium membantah'—tapi menjelaskan apa yang sesungguhnya kami punya. Okultasi. Berulang. Belum terjelaskan. Belum dikonfirmasi independen. Tidak ada kata lubang hitam di situ, karena aku tidak tahu itu lubang hitam, dan aku tidak akan berpura-pura tahu supaya orang tetap membaca."
"Itu akan mengecewakan orang," kata Wignya, hampir seperti permintaan maaf yang ditujukan pada dirinya sendiri.
"Mungkin," kata Janari. "Tapi aku tidak bisa memberi sinyal aman untuk sesuatu yang belum kuperiksa sampai selesai. Kalau aku memberi sinyal begitu dan ternyata salah, yang celaka bukan cuma aku."
Broto berdiri, mengancingkan jasnya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kalah. "Terserah kau," katanya. "Tapi ingat, sinyal yang terlalu hati-hati juga bisa berhenti dibaca orang."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Wignya duduk perlahan di kursinya, seolah kakinya baru saja kehilangan sesuatu untuk disandari.
Di kubah, malam itu, Janari duduk sendiri di depan monitor sambil menyusun kalimat demi kalimat pernyataannya, mencoret dan menulis ulang setiap kali sebuah kata terdengar lebih meyakinkan daripada yang sebenarnya ia ketahui. Karu membawakannya kopi tanpa berkata apa-apa, meletakkannya di sisi papan ketik, lalu kembali ke rak osilator seolah tak terjadi apa-apa selain sif malam biasa.
Di luar jendela kubah, langit sudah bersih, bintang-bintang berbaris seperti biasa, tak peduli pada judul apa pun yang beredar tentang mereka di bawah sana. Janari menatapnya sebentar sebelum kembali ke layar, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu ia merasa jalannya jelas, meski jauh lebih sempit dan lebih sunyi daripada jalan yang ditawarkan Broto: ia akan mengatakan persis apa yang ia tahu, tidak kurang, dan—ini yang lebih berat—tidak lebih.