Kabut belum sepenuhnya turun ketika Janari Nawangsih memarkir motornya di pelataran observatorium, tapi ponselnya sudah bergetar sejak tanjakan terakhir—getar yang tidak berhenti, seperti detektor yang menangkap terlalu banyak partikel sekaligus untuk dihitung satu per satu.
Ia baru melepas helm ketika Sekar berlari keluar dari pintu kubah, rambutnya belum sempat diikat, tablet di tangannya menyala terang di udara pagi yang masih abu-abu.
"Bu Janari, sudah lihat belum?"
"Lihat apa?"
Sekar menyodorkan layar tanpa menjawab. Di sana, di bawah logo sebuah portal sains yang cukup dikenal, terpampang judul dengan huruf tebal yang seolah sengaja dirancang untuk dibaca dari jarak jauh: *Observatorium Tepi Lereng Temukan Lubang Hitam Tersembunyi?* Tanda tanya di ujung kalimat itu kecil, nyaris tak terlihat, tenggelam di antara kata-kata yang jauh lebih besar dan lebih berat.
Nama penulisnya: Larasati.
Janari menggulir layar dengan ibu jari, dan setiap baris terasa seperti batu yang dilemparkan ke air tenang—riaknya melebar jauh melampaui titik jatuhnya. Artikel itu menyebut "kedipan misterius yang tak tercatat di katalog langit mana pun," menyebut "sumber dalam yang mengenal proyek," menyebut angka signifikansi statistik yang—Janari membaca dua kali untuk memastikan—persis sama dengan yang ia tulis di catatan kerja pribadinya, bukan di mana pun yang pernah ia publikasikan.
"Ini dari mana," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sekar.
"Aku nggak tahu. Aku juga baru lihat sejam lalu, dikirim teman kuliah." Sekar ragu sebentar. "Tapi ada tangkapan layar di situ. Bu Janari, itu... itu kurva cahaya kita. Yang dari draf presentasi internal."
Janari memperbesar gambar itu. Benar. Sumbu-sumbunya, label waktu sidereal di bawahnya, bahkan noda kecil di sudut kanan bawah yang selalu muncul karena kalibrasi layar Karu yang belum diperbaiki—semua itu ada di sana, difoto dari layar orang lain, di ruangan yang seharusnya hanya berisi mereka berdua dan Pak Wignya.
Ia menaiki tangga ke ruang kendali dua anak tangga sekaligus. Karu sudah di sana, berdiri kaku di depan konsolnya seperti orang yang baru mendengar mesinnya sendiri berbunyi salah.
"Sudah dari semalam," kata Karu tanpa menoleh. "Aku cek log akses—tidak ada yang aneh dari sini. Siapa pun yang membocorkan, dia tidak masuk lewat sistem kita."
"Berarti lewat orang."
"Berarti lewat orang," Karu mengulang, dan dua kata itu tergantung di udara seperti tuduhan yang belum berani menunjuk siapa.
Pak Wignya memanggil mereka sepuluh menit kemudian, dan wajahnya—Janari memperhatikan—bukan wajah orang yang marah karena kebocoran. Wajah itu terlalu tenang, terlalu siap, seperti orang yang sudah berlatih ekspresi itu di depan cermin.
"Aku sudah ditelepon Pak Broto pagi ini," kata Wignya, memutar-mutar pena di jarinya. "Dia bilang ini bagus. Katanya publikasi seperti ini justru bisa mempercepat—"
"Ini bukan publikasi," potong Janari. "Ini bocoran. Dari data yang belum selesai diverifikasi, disajikan seolah sudah jadi kesimpulan."
"Aku tahu bedanya, Janari." Nada Wignya melembut, tapi tidak mundur. "Yang aku tahu juga, dewan pendana akan membaca ini sebelum sarapan mereka dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, mereka akan membaca nama observatorium ini dengan sesuatu yang terdengar seperti harapan."
Janari tidak menjawab. Ia berpikir tentang ayahnya, tentang kotak sinyal yang dulu berdiri di tepi rel, tentang aturan yang begitu sederhana sampai terasa kejam ketika dunia menuntut sesuatu yang lebih cepat: jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan. Berita itu—Janari kembali membaca kalimatnya dalam kepala—bukan sinyal aman yang ia ragukan. Berita itu sinyal aman yang tidak pernah ia berikan sama sekali, dipasang oleh tangan orang lain di rel yang bukan miliknya.
Ia mencoba menelepon Larasati begitu keluar dari ruangan Wignya. Panggilan itu diangkat di dering kedua, seolah sudah ditunggu.
"Bu Janari." Suara Larasati ramah, cepat, terlatih untuk terdengar seperti sahabat lama. "Aku sudah menduga akan dapat telepon ini."
"Dari mana kamu dapat kurva cahaya itu?"
"Aku tidak bisa membuka sumber, kamu tahu itu."
"Itu data mentah yang belum melewati verifikasi silang. Itu bukan temuan, itu—" Janari berhenti sebelum kalimatnya sendiri jadi terlalu panjang, terlalu membela diri, dan justru terdengar seperti pengakuan. "Judulnya menyebut lubang hitam. Aku tidak pernah menyebut kata itu di mana pun."
"Judul itu berbentuk pertanyaan," kata Larasati, terlalu enteng. "Dan aku menulis 'sumber dalam,' bukan namamu. Aku melindungimu."
"Kamu tidak melindungi siapa-siapa kalau separuh negeri sekarang membaca 'lubang hitam' dan lupa tanda tanyanya begitu mereka mengeklik."
Di ujung telepon, hening sesaat—hening yang bukan menyesal, melainkan menunggu, seperti orang yang tahu artikelnya sudah lepas dari tangannya sendiri dan tak lagi perlu dipertanggungjawabkan seorang diri.
"Kalau kamu mau memberi klarifikasi," kata Larasati akhirnya, "aku akan sangat senang menuliskannya. Itu justru akan jadi berita susulan yang bagus."
Janari mematikan telepon tanpa menjawab.
Dari jendela ruang kendali, kabut sudah naik lebih tinggi, menelan sebagian lereng di bawah kubah. Ponselnya masih bergetar—kali ini nama Dr. Ardhi Renjani muncul di layar pesan masuk dari sebuah grup astronomi yang tak pernah ia ikuti dengan sukarela, mengirim tautan yang sama disertai emotikon tanda tanya yang, Janari tahu betul, sama sekali tidak dimaksudkan sebagai keraguan yang jujur.
Ia menatap layar itu lama, memikirkan berapa banyak orang pagi ini yang membaca kata "lubang hitam" dan tak pernah sampai ke tanda tanyanya, berapa banyak yang akan mengingat klaim yang tak pernah ia buat lebih lama daripada mengingat data yang sesungguhnya ia miliki.
Di bawah kubah, detektor 70 sentimeter itu masih menunggu malam berikutnya, tak peduli pada headline apa pun—dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai mengejar kedipan itu, Janari merasa jarak antara apa yang benar dan apa yang orang percaya benar, sudah mulai melebar jauh lebih cepat daripada kecepatan ia bisa menutupnya.