Surel itu masuk pukul sebelas malam, saat kubah masih berderak menyesuaikan suhu dan Karu duduk di konsol sambil menyesap kopi yang sudah dingin sejak jam sembilan.
Janari membaca judulnya dua kali sebelum membukanya. *Kolaborasi potensial — data okultasi Anda.* Pengirimnya Dr. Ardhi Renjani, dari lembaga di lembah sebelah, tempat teleskop lebih besar dan anggaran tak pernah dipangkas dewan mana pun.
Isinya sopan sampai ke titik yang mencurigakan. Ardhi menulis bahwa ia mendengar—"dari beberapa kabar"—Observatorium Tepi Lereng tengah menjaring peristiwa okultasi yang menarik. Ia menawarkan untuk "membandingkan metode reduksi data" dan, kalau Janari berkenan, mengirimkan bingkai mentahnya untuk "verifikasi silang independen." Ia menutup dengan kalimat yang terdengar seperti pujian: *Kami ingin memastikan komunitas mendapat hasil yang bisa dipercaya, bukan sekadar cerita bagus untuk gala.*
"Dari beberapa kabar," ulang Janari pelan, membaca kalimat itu untuk ketiga kalinya di layar.
Karu menoleh dari konsolnya. "Kabar dari mana? Kau belum pernah bicara dengannya."
"Broto," kata Janari. Ia sudah bisa membayangkan skenarionya: donor yang gembira bercerita di suatu jamuan, menyebut nama observatoriumnya sambil menyombongkan "temuan besar yang akan datang," dan seseorang di meja yang sama kebetulan mengenal Ardhi Renjani, atau justru Ardhi sendiri yang hadir. Broto tidak akan pernah menyadari bahwa mulutnya sendiri baru saja membuka pintu.
Karu meletakkan cangkirnya. "Dan sekarang si lembah sebelah minta bingkai mentahmu."
"Untuk 'verifikasi independen'." Janari mengetuk-ngetukkan pena ke meja, ritme yang tak ia sadari sampai Karu memperhatikannya dan ia berhenti. "Kedengarannya seperti sains yang baik. Itu masalahnya. Aku tidak bisa menolak atas dasar dia jahat, karena aku tidak tahu dia jahat. Aku cuma tahu dia tidak baik-baik saja."
"Itu bukan hal yang sama," kata Karu, "tapi juga bukan hal yang beda jauh."
Ia tidak membalas surel malam itu. Ia membiarkannya duduk di kotak masuk seperti sesuatu yang bisa jinak sendiri kalau didiamkan cukup lama—strategi yang tak pernah berhasil, tapi selalu ia coba lebih dulu.
Sekar yang justru membawanya kembali ke permukaan, dua hari kemudian, sambil menyodorkan laptop di meja kerja bersama. "Ada yang mengulik profil publikasi Dr. Ardhi tadi malam pas insomnia," katanya, separuh mengaku, separuh bangga. "Dia rajin sekali menuduh orang lain punya artefak instrumen. Tiga tahun terakhir, empat komentar di jurnal, semuanya soal kelompok lain yang katanya salah kalibrasi."
"Dan berapa yang terbukti benar?"
"Dua." Sekar menatapnya. "Yang dua lagi ditarik diam-diam, tanpa permintaan maaf."
Janari menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan angka itu meresap. Ini bukan bukti niat buruk—ilmuwan yang skeptis terhadap klaim orang lain bisa jadi sekadar teliti. Tapi juga bisa jadi predator yang menunggu momen ketika mangsanya paling rentan: sebelum konfirmasi, ketika data masih mentah dan bisa dibaca ke arah mana pun yang menguntungkan pembacanya.
Ia membawa dilema itu ke ruangan Wignya sore harinya, bukan untuk minta izin, tapi untuk mendengar sudut pandang yang berbeda dari dirinya sendiri.
"Bagikan saja," kata Wignya, hampir sebelum Janari selesai menjelaskan. Ia tampak lelah, kantung matanya lebih gelap sejak pertemuan terakhir dengan dewan. "Kalau ada astronom besar mau memvalidasi temuan kita, itu bagus untuk kredibilitas. Bagus untuk—" ia menahan diri, tapi Janari sudah mendengar kata yang tak jadi keluar: *gala.*
"Atau dia memvalidasi cukup untuk mengutip koordinatnya sendiri," kata Janari, "lalu mempublikasikan lebih dulu versi yang membantah kita, sebelum kita sempat menyelesaikan verifikasi kita sendiri."
Wignya menggosok wajahnya. "Kau curiga tanpa bukti."
"Aku curiga karena aku belum punya bukti untuk memercayainya, dan kurva cahaya kita belum cukup kuat untuk bertahan kalau seseorang ingin merobeknya." Janari mendengar suaranya sendiri, dan menyadari itulah kalimat ayahnya, hanya dengan kata yang berbeda. *Sinyal yang kau ragukan, kau sebut merah.* Ia belum yakin ini sinyal aman. Ia belum yakin ini sinyal bahaya. Itulah persisnya masalahnya.
Ia tidak membalas dengan penolakan mentah, dan tidak pula dengan kepercayaan penuh. Malam itu, di meja kerjanya sendiri, ia menyusun balasan yang ditulis ulang empat kali sebelum dikirim: ia berterima kasih atas minatnya, menawarkan untuk berbagi kurva cahaya yang sudah direduksi dan hasil uji signifikansi statistiknya—cukup untuk memungkinkan pemeriksaan independen atas metode—tapi menahan bingkai mentah dan log kalibrasi detektor sampai analisis internalnya sendiri rampung.
Ia membaca ulang kalimat penutupnya sebelum menekan kirim: *Saya percaya keterbukaan penting bagi sains yang baik. Saya juga percaya keterbukaan yang tergesa bisa merugikan kedua belah pihak, sebelum kita berdua yakin apa yang sedang kita lihat.*
Balasan Ardhi datang cepat, terlalu cepat untuk terasa santai. Ia menerima "untuk saat ini," tapi menambahkan satu kalimat yang membuat Janari membacanya berulang di layar gelap ruang kerjanya, jauh setelah Karu pulang dan kubah sudah sunyi: *Saya paham keberatan Anda. Tapi sains yang tertutup, cepat atau lambat, akan diminta terbuka oleh orang lain—dengan cara yang tak selalu bisa Anda pilih sendiri.*
Ia menutup laptopnya tanpa membalas. Di luar jendela, langit malam itu jernih, penuh titik-titik yang sudah dikenal, dan satu koordinat kosong yang belum juga menyerahkan namanya.