Angin dari arah barat membawa bau ozon dan basah sebelum hujan, menampar pipi Janari Nawangsih ketika ia menyeberangi halaman batu menuju gedung administrasi. Kubah 70 cm di belakangnya sudah tertutup rapat, capit logamnya mengatup seperti kelopak mata yang lelah. Ia baru saja menuntaskan sesi kalibrasi ketiga malam itu—memeriksa ulang stempel waktu, membandingkannya dengan catatan Karu—ketika interkom di mejanya berdenting pendek, dua kali, kode yang berarti: kantor direktur, sekarang, jangan tunda.
Pak Wignya berdiri di depan jendela ruang kerjanya, punggungnya menghadap pintu, siluetnya digariskan lampu sorot kubah yang jauh di bawah lereng. Di meja, di antara cangkir kopi yang sudah dingin dan setumpuk kertas, tergeletak sebuah map cokelat berlogo yayasan donor. Janari mengenali logo itu—huruf B bergaya, disematkan di sudut kanan atas seperti cap besi panas.
"Duduk," kata Wignya, tanpa berbalik.
Ia duduk. Kursinya berderit.
"Broto menelepon tiga kali minggu ini," Wignya berkata akhirnya, masih menatap gelap di luar jendela. "Bukan ke bagian keuangan. Ke saya langsung."
"Tentang gala."
"Tentang gala." Wignya berbalik, dan wajahnya di bawah lampu meja tampak lebih tua dari yang Janari ingat—kantong mata yang dalam, rahang yang mengeras karena terlalu sering ditahan. "Ia ingin ada sesuatu untuk diumumkan. Bukan laporan tahunan yang membosankan. Ia bilang, kutip persis, 'sesuatu yang bisa dipotret.'"
"Kita belum punya apa-apa yang bisa dipotret," kata Janari. "Kita punya pola berulang di koordinat sidereal yang sama, dari satu instrumen, di satu situs. Itu belum apa-apa selain—"
"Selain menarik," potong Wignya. "Itu cukup menarik untuk Broto, Janari. Itu cukup menarik untuk siapa pun yang tidak membaca catatan kaki."
"Justru karena itu saya tidak mau bicara di depan orang yang tidak membaca catatan kaki."
Wignya menghela napas panjang, lalu duduk di kursinya sendiri, seakan berat badan seluruh gedung baru saja turun ke bahunya. Ia membuka map cokelat itu, membalik satu-dua lembar tanpa benar-benar membacanya—gerakan orang yang butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya agar tidak perlu menatap mata lawan bicara.
"Dewan mengadakan rapat tinjauan dua minggu setelah gala," katanya. "Kau tahu itu. Anggaran, staf, semua ditinjau ulang. Broto salah satu dari tiga donor terbesar kita. Kalau ia menarik dukungan malam itu, karena tidak ada yang bisa ia bawa pulang untuk ditunjukkan pada rekan-rekannya, tinjauan dua minggu kemudian bukan lagi tinjauan. Itu jadi pembubaran."
"Saya paham taruhannya, Pak."
"Aku tidak yakin kau paham semuanya." Wignya menutup map itu, menatapnya lurus untuk pertama kali sejak Janari masuk. "Karena bukan cuma program yang ditinjau. Kontrak pasca-doktoralmu berakhir Maret. Perpanjangannya ada di daftar yang sama yang akan dibahas dewan itu."
Ruangan seperti menyempit. Janari merasakan detak di pergelangan tangannya sendiri, aneh, seolah tubuhnya mencatat waktu sebelum pikirannya sempat menyusun kata.
"Apa maksud Bapak."
"Maksudku," Wignya berkata, pelan-pelan, seperti sedang membongkar sesuatu yang rapuh, "kalau observatorium ini ditinjau habis-habisan karena tak ada yang bisa ditunjukkan, tak ada dana yang cukup untuk mempertahankan posisi peneliti tamu. Itu bukan ancaman dariku. Itu aritmetika dari orang-orang yang menandatangani cek."
"Jadi Bapak minta saya mengumumkan sesuatu yang belum bisa saya buktikan, supaya kontrak saya sendiri aman."
"Aku minta kau mempertimbangkan bahwa kejujuran punya ongkos, Janari, dan kali ini ongkosnya bukan cuma milikmu." Ia menunjuk ke arah jendela, ke arah kubah yang berkilau samar di kejauhan. "Sekar. Karu. Empat teknisi siang yang punya keluarga di kaki gunung. Kalau tempat ini tutup, mereka semua ikut tutup."
Janari menatap tangannya sendiri di pangkuan. Ia memikirkan kurva cahaya yang sudah ia bersihkan dari kontaminasi satelit, memikirkan tanda tangan sidereal yang bertahan meski separuh datanya terbukti sampah. Ia memikirkan satu hal yang belum ia katakan pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri dengan lantang: bahwa itu memang mungkin nyata. Bahwa kemungkinannya cukup besar untuk membuat jantungnya berdegup setiap kali ia membuka berkas itu di larut malam. Dan justru karena itulah ia tidak bisa mengumumkannya sekarang—karena mungkin belum sama dengan terbukti, dan jarak antara keduanya adalah jarak yang pernah menelan seluruh karier Prof. Danastri.
"Saya tidak akan berdiri di depan Broto dan tamu-tamunya lalu menyebut sesuatu yang belum saya buktikan sebagai temuan," katanya akhirnya. "Bukan karena saya keras kepala, Pak. Karena kalau saya salah, dan nanti terbukti salah, tak ada yang bisa menyelamatkan observatorium ini. Tak ada gala kedua untuk memperbaikinya."
"Dan kalau kau benar?"
"Kalau saya benar, ia akan tetap benar bulan depan, tahun depan, kapan pun saya punya cukup bukti untuk mengatakannya tanpa gemetar." Ia berdiri, kursi berderit lagi di bawahnya. "Saya tidak bisa menjanjikan bintang untuk menyelamatkan kontrak saya sendiri, Pak Wignya. Ayah saya dulu bekerja di kotak sinyal kereta. Ia mengajari saya satu hal yang tidak pernah saya lupa: sinyal yang kau ragukan, kau sebut merah. Bukan aman."
Wignya tidak menjawab segera. Ia memandangi map cokelat itu lama, jarinya mengetuk-ngetuk sampulnya, dan untuk sesaat Janari melihat sesuatu di wajah lelaki itu yang bukan kemarahan—melainkan ketakutan biasa, ketakutan seorang direktur yang tahu betul bahwa ia akan pulang malam ini dan tidak bisa memberi jawaban yang diinginkan atasannya sendiri.
"Gala itu enam minggu lagi," katanya akhirnya, suaranya lebih lunak, tapi tidak kurang berat. "Aku tidak memintamu berbohong, Janari. Aku memintamu memikirkan baik-baik apa yang bisa kau katakan, dan apa yang sanggup kau pertanggungjawabkan, sebelum enam minggu itu habis. Karena kalau kau tak punya apa-apa untuk dikatakan malam itu, aku tak yakin aku punya cukup alasan untuk mempertahankan posisimu di rapat dua minggu sesudahnya."
Janari keluar dari ruangan itu tanpa menjawab lagi. Di luar, hujan akhirnya turun, pelan, mengetuk atap seng gudang instrumen seperti jari-jari yang gelisah menghitung waktu. Ia berdiri sebentar di bawah kanopi, memandangi kubah yang tertutup rapat di kejauhan, dan menyadari bahwa untuk pertama kali sejak kedipan pertama ia temukan di layar itu, taruhannya bukan lagi sekadar tentang benda apa yang ada di langit. Taruhannya kini punya namanya sendiri, tertulis di sebuah map yang akan dibuka dewan enam minggu lagi.