Malam itu Janari tidak bisa tidur, dan ia tahu penyebabnya bukan kopi. Empat puluh kejadian bersih tersimpan di server, masing-masing sudah disaring dari kilau satelit, masing-masing menunjukkan tanda-tangan sidereal yang sama. Angkanya cukup untuk membuat orang lain berdiri di podium. Namun setiap kali ia hampir merasa yakin, sebuah suara tua bangkit di dalam dadanya, tenang dan sedikit serak, mengulang kalimat yang telah ia dengar ribuan kali sewaktu kecil.
Tunggu ulangannya. Lalu tunggu lagi.
Ia menutup laptop, dan gelap ruang kendali seolah menariknya mundur ke ruang lain yang jauh lebih tua.
Kotak sinyal itu berbau minyak pelumas, karbol, dan besi yang lama dipanaskan lampu. Janari kecil duduk di bangku kayu di sudut, kaki menggantung, sementara ayahnya berdiri di depan deretan tuas panjang yang mengilap oleh sentuhan bertahun-tahun. Di luar, rel membentang lurus membelah sawah, menghilang ke titik yang tak bisa dilihat mata. Sebuah lampu jauh berkedip di ujung sana—sekali, merah, lalu padam.
"Nah," kata Janari, menunjuk. "Tadi menyala, Ayah. Kereta datang."
Ayahnya tidak buru-buru. Ia bahkan tidak menoleh ke jendela. Tangannya tetap di atas buku catatan, penanya menggantung. "Kau lihat sekali," katanya. "Aku belum melihat apa-apa."
"Tapi aku melihatnya."
"Lampu bisa berdenyut karena kabel longgar. Karena kelelawar lewat. Karena mataku sendiri yang lelah dan mengarang gambar." Ia meletakkan pena. "Kalau aku mengangkat tuas setiap kali sesuatu berkedip satu kali, Nari, aku akan menghentikan kereta yang tidak pernah ada. Atau lebih buruk—aku akan percaya pada aman yang tidak benar."
Janari mengerutkan kening. Di usia sembilan tahun ia belum punya kata untuk itu, tapi ia merasakan beratnya: bahwa melihat sesuatu dan sesuatu itu benar bukanlah hal yang sama.
Ayahnya menarik bangku lain dan duduk di sampingnya, menghadap ke rel yang sunyi. "Coba kita lakukan cara yang benar," katanya. "Kita tunggu."
Maka mereka menunggu. Lampu jauh itu tetap gelap. Satu menit. Dua menit. Sawah di luar diam, hanya jangkrik dan angin yang bergerak di daun. Janari mulai gelisah, menendang-nendang kaki bangku, dan ayahnya membiarkannya, tidak menyuruhnya berhenti, hanya menunggu bersamanya seolah kesabaran adalah pelajaran yang paling penting dari semuanya.
Lalu lampu itu menyala lagi. Merah. Kali ini tidak padam.
"Itu," bisik ayahnya. "Sekarang dua kali. Yang kedua bertahan." Ia bangkit, tapi masih belum menyentuh tuas. "Dan sekarang kita tunggu yang ketiga."
"Ketiga?" Janari hampir memekik. "Ayah, kereta sudah dekat!"
"Kereta selalu memberi tahu dirinya tiga kali kalau memang sungguh datang." Ayahnya menunjuk ke arah blok berikutnya, ke telegraf kecil yang berdetak di rak. "Lampu, lonceng blok, lalu getaran di rel. Tiga saksi yang tidak saling kenal. Kalau ketiganya bilang hal yang sama, barulah aku berani menyebutnya benar. Satu saksi bisa berbohong tanpa niat. Tiga saksi yang berbohong dengan cerita yang persis sama—itu hampir mustahil."
Dan benar saja: lonceng blok berdenting, tunggal dan bersih. Beberapa saat kemudian rel di bawah kaki mereka mulai bergetar, halus mula-mula, lalu menegas. Barulah ayahnya menarik tuas, gerakan mantap tanpa ragu, dan di kejauhan sepasang lampu kereta muncul membelah malam.
"Kau lihat bedanya?" tanyanya, sementara gemuruh mendekat. "Bukan aku yang memutuskan kereta itu datang. Kereta yang memberitahuku, berkali-kali, dari arah yang berbeda-beda, sampai aku tidak punya alasan untuk meragukannya. Tugasku cuma cukup sabar untuk membiarkannya bicara."
Janari tidak pernah lupa cara ayahnya mengucapkan kata sabar—bukan seperti kelemahan, melainkan seperti sebuah keberanian yang lebih sulit daripada bertindak cepat.
Ruang kendali observatorium menariknya kembali. Layar-layar berkedip pelan; di luar kubah, langit berputar dalam waktu sidereal-nya sendiri, acuh pada jam dinding manusia. Janari duduk memandang keempat puluh kurva cahaya itu berjajar seperti barisan lampu di rel yang gelap.
Ia mengerti sekarang apa yang selama ini membuatnya gelisah, dan mengapa kegelisahan itu justru menenangkannya. Ia tidak sedang mengejar satu kedipan. Ia tidak lagi berdiri seperti anak kecil yang menunjuk lampu tunggal dan berteriak. Kedipan itu sudah berulang di koordinat sidereal yang sama—itu saksi pertama, lampunya. Data tiga puluh tahun Danastri, jika benar objek yang sama bergeser lambat, adalah saksi kedua dari arah waktu yang sama sekali berbeda, dari orang yang tak pernah mengenalnya. Lonceng blok dari masa lalu.
Tapi masih ada saksi ketiga yang belum bicara. Getaran di rel. Ukuran nyata, dari geometri nyata, dari dua tempat sekaligus.
Okultasi serentak. Dua teleskop yang tak saling kenal menangkap padam yang sama pada instan terkunci-GPS yang sama. Selama itu belum terjadi, ia hanya punya lampu dan lonceng—dua saksi yang mungkin masih berbohong dengan cara yang sama, dua kesalahan yang kebetulan sepakat. Ayahnya tidak akan menarik tuas untuk itu. Ayahnya akan menunggu rel bergetar.
Ia mengambil buku catatannya sendiri, buku bersampul keras yang selalu ia bawa, dan di halaman baru ia menulis satu kalimat, bukan untuk siapa pun selain dirinya. Tunggu ulangannya. Lalu tunggu lagi.
Godaan untuk mengumumkan sekarang terasa seperti tuas dingin di bawah telapak tangannya—begitu mudah ditarik, begitu meyakinkan bagi mata yang lelah dan bagi Broto yang ingin cerita dan bagi Wignya yang ingin lembaganya hidup. Satu kata dari Janari, dan seluruh rel akan disebut aman.
Tapi ia tahu betul harga dari aman yang diragukan. Ia telah tumbuh di kotak sinyal yang mengajarkan bahwa kalimat itu bukan tentang kereta sama sekali, melainkan tentang orang yang berdiri di antara langit dan mereka yang memercayainya.
Ia menutup buku catatan. Rel belum bergetar. Maka ia akan menunggu—dan sementara menunggu, ia akan membangun cara agar getaran itu, kalau sungguh ada, tidak bisa disangkal siapa pun. Termasuk oleh dirinya sendiri.