Layar itu tidak berubah selama tiga menit terakhir, dan justru itulah yang membuat Janari tidak berani berkedip. Ia telah membuang dua belas kejadian semalam — dua belas titik yang dulu ia peluk sebagai bukti, kini tersapu ke folder bernama _terkontaminasi_ karena elemen orbit satelit menaruh benda logam persis di garis pandang pada instan yang salah. Yang tersisa hanya sembilan. Sembilan kedipan yang tak seorang pun bisa tuduh sebagai kilau panel surya atau jejak roket bekas. Dan sembilan itu, ketika ia lipat menurut jam sidereal, jatuh berdesakan di tempat yang sama.
"Coba ulang," katanya, suaranya lebih serak dari yang ia mau. "Dari nol. Jangan pakai cache."
Sekar, yang duduk di kursi sebelah dengan cangkir kopi yang sudah dingin sejak tengah malam, tidak membantah. Jari-jarinya berlari di papan ketik. Janari menyukai itu pada gadis itu — ia tidak bertanya _kenapa lagi_, ia hanya mengetik ulang. Pipa deteksi berdengung dalam diam, membaca ribuan bingkai mentah dari detektor teleskop 70 cm, menandai tiap penurunan cahaya, menstempelnya dengan waktu dari osilator terkunci-GPS sampai ke pecahan milidetik, lalu — ini bagian yang baru — mengubah tiap stempel dari waktu sipil ke waktu sidereal sebelum membuang apa pun yang bertepatan dengan lintasan benda buatan.
Hasilnya muncul lagi. Sama.
"Tetap di sana," bisik Sekar. Ia memutar kursinya menghadap Janari. "Bu, mereka tetap di sana."
Di sumbu mendatar terbentang dua puluh empat jam sidereal. Di sumbu tegak, tak berarti apa-apa selain agar titik tak saling menindih. Sembilan silang merah bergerombol dalam pita selebar tak sampai empat menit busur waktu — seakan seseorang menembakkan sembilan anak panah ke papan dan kesembilannya menancap di lingkaran dalam. Malam yang berbeda. Tanggal yang berbeda. Musim yang berbeda. Waktu sipil yang tersebar dari dini hari hingga menjelang fajar. Tetapi menurut perputaran bumi terhadap bintang-bintang jauh, kesembilannya terjadi saat langit memutar wajah yang sama ke arah kubah.
Janari berdiri. Ia butuh berdiri. Lantai beton kubah dingin menembus kaus kakinya, dan ia menyadari ia telah melepas sepatunya entah kapan tadi.
"Karu," panggilnya ke arah pintu ruang kontrol, tempat cahaya kuning menetes dari lampu kerja. "Kau harus lihat ini."
Karu masuk dengan lap berminyak masih tersampir di bahu. Ia memandang layar tanpa buru-buru, cara seorang lelaki yang sudah dua puluh tahun tak percaya pada apa pun yang berkilau pertama kali. Ia mencondongkan tubuh, membaca sumbu, membaca skala, membaca jumlah titik.
"Sembilan," katanya. "Dari yang tadinya dua puluh satu."
"Dua belas kubuang. Semalaman. Satu per satu kucocokkan dengan katalog dua baris satelit." Janari menyilangkan lengan, lalu menurunkannya lagi karena terasa seperti menahan diri dari sesuatu. "Kupikir waktu membuangnya, semuanya akan ambruk. Kupikir tanda tangan ini cuma jumlah dari sampah — apofenia, wajah di dalam derau. Kalau memang cuma satelit yang menipuku, membuang satelit harusnya membuang polanya juga."
"Tapi tidak," kata Karu.
"Tapi tidak." Ia menelan sesuatu. "Justru lebih rapat. Dua belas yang kubuang itu tersebar merata di seluruh jam sidereal — persis seperti yang diharapkan dari kontaminan acak. Yang sembilan ini menolak tersebar. Mereka tahu jam mereka."
Karu diam sejenak. Di luar kubah, angin lereng menggeser sesuatu yang berderit. "Ayahmu akan bilang," ucapnya perlahan, "kalau sinyal cuma muncul sekali, kau tak percaya. Tunggu ulangannya. Lalu tunggu lagi."
"Ini ulangannya," kata Janari. "Sembilan kali."
"Sembilan kali di jam yang sama," Karu mengoreksi, dan Janari menghargai koreksi itu lebih dari pujian mana pun. Sebab itulah intinya. Bukan bahwa cahaya turun sembilan kali — cahaya turun ribuan kali tiap malam karena burung, karena satelit, karena piksel yang lelah. Yang tak bisa dijelaskan oleh kelelahan mana pun adalah bahwa penurunan yang paling bersih, yang paling tahan uji, memilih koordinat sidereal yang sama seolah ada sesuatu yang benar-benar tergantung di langit, di titik itu, menunggu bumi memutarnya kembali ke garis pandang.
Sekar menarik satu kurva cahaya ke layar penuh — kejadian ketiga, yang paling bersih. Garis itu datar, datar, datar, lalu menukik curam ke bawah dalam kurang dari sedetik, lalu naik lagi, setajam pisau. Bentuk yang salah untuk awan. Bentuk yang salah untuk pesawat. Bentuk yang — Janari memaksa dirinya menyelesaikan pikiran itu dengan jujur — masih bisa jadi bentuk yang salah untuk apa pun yang ia sangka, karena satu teleskop tidak pernah bisa membuktikan bahwa yang lewat di depan bintang itu ada di langit dan bukan di dalam kacanya sendiri.
"Kita belum boleh menyebut ini apa-apa," katanya, lebih untuk dirinya daripada untuk yang lain. "Sembilan titik sejajar bukan penemuan. Ini cuma pola yang menolak mati."
"Tapi dulu ada dua puluh satu, Bu," kata Sekar hati-hati, "dan sekarang tinggal yang bersih, dan yang bersih tetap berbaris. Bukankah itu justru lebih kuat? Kita sudah kasih semua kesempatan buat dia bubar, dan dia tidak mau bubar."
Janari memandang gadis itu. Ada gairah di wajah Sekar yang ia kenali dari cermin sepuluh tahun lalu, dan ada bahaya di gairah itu yang juga ia kenali. "Iya," jawabnya akhirnya. "Itu memang lebih kuat. Sekarang kalau ada yang bilang 'ini cuma artefak satelit', kita bisa jawab: kami sudah buang semua satelit, dan polanya bertahan. Kita bisa jawab: kalau ini artefak, tunjukkan artefak mana yang tahu jam sidereal." Ia berhenti. "Tapi 'lebih kuat' tidak sama dengan 'benar'. Satu teleskop yang mengintip terlalu lama akan mulai melihat apa yang diharapkannya."
Ia kembali ke layar. Sembilan silang merah itu tidak bergerak, tidak berkedip, tidak minta apa-apa. Mereka hanya bertahan, dengan kesabaran benda yang tak peduli apakah ada yang percaya. Janari mencatat jam sidereal itu di buku catatannya dengan pena, dua kali, seakan menuliskannya membuatnya kurang atau lebih nyata.
"Simpan yang sembilan ini terpisah," katanya. "Beri nama _bertahan_. Dan mulai besok, kita perlakukan mereka seperti tersangka, bukan seperti tamu. Kalau ada satu saja yang bohong, aku ingin dia mengaku sebelum kita katakan apa pun ke siapa pun."
Karu mengangkat lapnya dari bahu, mengangguk sekali, lalu keluar ke gelap ruang kontrol tempat detektor menunggu. Di layar, langit yang sama terus memutar, membawa titik gelap tak bernama itu semakin dekat ke ambang pandang, jam demi jam, sabar seperti sesuatu yang sudah menunggu tiga puluh tahun untuk dilihat dengan benar.