Janari menandai pukul dua pagi di sudut layar sebelum ia mulai lagi dari nol.
Ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri malam sebelumnya, di ambang keputusasaan yang ditahan Karu dengan satu kalimat pendek, bahwa ia tidak akan lagi menerka mana kejadian yang nyata dan mana yang cuma kilau logam yang mengorbit. Ia akan memeriksa. Satu per satu, tanpa pengecualian, tanpa berharap.
Sekar sudah menunggu di meja sebelah, rambutnya diikat asal, dua gelas kopi yang sudah dingin berjajar di dekat papan ketik. Di layarnya terbuka arsip elemen orbit—ribuan baris angka dari katalog satelit publik, tiap baris dua garis kode yang menyimpan seluruh riwayat gerak sebuah benda logam di ruang: kemiringan orbit, eksentrisitas, gerak rata-rata, epoch acuan.
"Aku sudah unduh elemen untuk semua yang punya kemungkinan lewat wilayah langit kita," kata Sekar. "Termasuk yang sudah nonaktif. Yang mati pun masih bisa memantulkan cahaya."
"Terutama yang mati," sahut Janari. "Itu yang paling sering menipu. Panel surya yang berkarat memantul lebih terang dari yang masih bekerja."
Metodenya sederhana untuk diucapkan, menyiksa untuk dikerjakan. Untuk tiap kedipan yang tercatat—dan ada dua puluh tiga sekarang, terkumpul sejak pipa deteksi Sekar mulai menjaring malam demi malam—mereka mengambil stempel waktu dari osilator terkunci-GPS, seakurat yang bisa diberikan alam pada milidetik. Dari waktu itu mereka menghitung posisi tiap satelit yang elemen orbitnya mereka punya, memproyeksikannya ke bola langit yang sama tempat detektor teleskop 70 cm menatap, lalu mengukur jarak sudutnya dari titik yang direkam.
Ambang batasnya mereka tetapkan ketat: jika sebuah satelit terhitung berada dalam radius tertentu dari garis pandang pada saat itu juga, kejadian itu ditandai tercemar. Tidak ada tawar-menawar untuk kasus batas. Ayahnya pernah bilang, sinyal yang kau ragukan bukan sinyal aman—dan sekarang ia menambahkan versinya sendiri: data yang kau ragukan bukan data bersih.
Kejadian pertama yang mereka periksa adalah salah satu yang paling ia banggakan dulu, tangkapan dari minggu ketiga. Sekar menjalankan skrip, angka-angka bergulir, lalu berhenti pada satu baris yang disorot merah.
"Kena," kata Sekar pelan. "Ada objek katalog nomor 44713—pecahan roket lama—lewat dalam sembilan belas menit busur dari titik itu, tiga detik sebelum kedipan tercatat. Terlalu dekat untuk kebetulan."
Janari menatap layar lama sebelum mengetik tanda di kolom status: TERKONTAMINASI. Tidak ada kepedihan berlebihan lagi seperti malam sebelumnya. Ia sudah menduga sebagian akan gugur seperti ini. Yang penting sekarang bukan menyelamatkan setiap kejadian, melainkan tahu persis mana yang boleh dipercaya.
Mereka lanjut. Kejadian kelima gugur karena satelit cuaca yang orbitnya sun-synchronous, melintas tepat di jendela senja astronomis—waktu yang paling rawan, saat matahari masih menyinari benda-benda tinggi meski langit di permukaan sudah gelap. Kejadian ketujuh selamat: tak satu pun dari tiga ratus dua puluh objek dalam katalog berada dalam dua derajat dari titik itu pada saat kejadian. Janari menandainya BERSIH, lalu memeriksa ulang perhitungannya dua kali sebelum berani menuliskannya.
Karu masuk sekitar pukul tiga, membawa termos, tidak banyak bicara. Ia hanya melirik layar, melihat kolom yang mulai terisi—merah, merah, hijau, merah, hijau, hijau—dan berkata, "Kelihatannya kau menemukan cara memisah gandum dari sekam."
"Cara yang menyakitkan," kata Janari.
"Cara yang benar biasanya begitu." Karu menuang kopi ke gelasnya sendiri, tidak menawarkan diri untuk membantu perhitungan—itu bukan keahliannya—tapi tinggal, duduk di kursi paling ujung, seolah kehadirannya sendiri adalah bentuk bantuan yang lain.
Menjelang subuh mereka sampai pada kejadian kedua puluh tiga. Dari dua puluh tiga total, dua belas gugur—tercemar oleh satelit yang bisa mereka identifikasi dengan pasti, elemen orbitnya cocok hingga presisi yang tidak menyisakan keraguan wajar. Delapan bertahan bersih. Tiga sisanya masuk kategori tak-pasti, terlalu dekat ambang batas untuk diputuskan sepihak, dan Janari memutuskan menyisihkannya, tidak memakainya untuk klaim apa pun sampai ada cara memverifikasi lebih jauh.
Delapan kejadian bersih. Delapan yang sudah lolos ujian sinar kosmik jauh sebelumnya, lolos pemeriksaan bentuk titik-sebar, lolos silang periksa kamera langit-seluruh untuk awan dan pesawat, dan sekarang lolos ujian satelit yang paling menakutkan karena itulah yang meruntuhkan Danastri tiga puluh tahun lalu.
Ia membuka lagi plot koordinat sidereal dari kedelapan kejadian itu, membandingkannya seperti yang sudah ia lakukan berulang kali sebelumnya, tapi kali ini dengan keyakinan yang berbeda—bukan keyakinan yang lahir dari harapan, melainkan dari proses yang sudah ia periksa sendiri hingga tak menyisakan celah yang ia tahu.
Delapan titik itu masih berkerumun di jam sidereal yang hampir sama. Masih di koordinat yang, sejauh yang bisa ia telusuri di katalog asteroid, TNO, dan bintang variabel, tidak ditempati apa pun yang dikenal.
"Delapan," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri.
Sekar menyandarkan punggung ke kursi, menggosok mata. "Itu bukan bukti apa-apa masih, kan? Cuma... delapan kejadian yang belum bisa kita jelaskan."
"Bukan bukti," Janari mengaku. "Tapi bukan lagi delapan kejadian yang bisa kau tuduh sebagai sampah instrumen atau kilau logam yang lupa kita periksa. Kita sudah periksa. Kita tahu apa yang bukan."
Ia menutup laptop pelan-pelan, bukan karena selesai, tapi karena untuk pertama kalinya sejak keraguan menghantamnya dua malam lalu, ia merasa berdiri di tanah yang bisa ia percaya lagi—bukan tanah yang membuktikan langit menyimpan sesuatu yang luar biasa, hanya tanah yang cukup keras untuk dipijak sebelum melangkah lebih jauh.
Di luar jendela kubah, langit timur mulai memucat, dan bintang-bintang yang belum lama menjadi subjek segala kecurigaannya itu perlahan tenggelam satu demi satu ke dalam cahaya pagi, seolah tak peduli pada apa pun yang baru saja dipertaruhkan atas nama mereka.