Kalau benda yang menutup bintang itu nyata, pasti orang lain pernah melihat sesuatu serupa. Sains tidak terjadi di ruang kosong; sebelum mengaku menemukan, kau cari dulu siapa yang sudah pernah sampai ke ambang yang sama. Maka Janari turun ke ruang yang paling jarang ia masuki: arsip.
Arsip Observatorium Tepi Lereng adalah sebuah kamar di bawah tangga, lembap, penuh lemari logam berkarat dan kotak kardus yang sudahnya merosot bahunya karena bertahun ditumpuk. Di sini tersimpan log pengamatan sejak observatorium berdiri, hampir empat puluh tahun lalu. Sebagian sudah dipindai ke berkas digital; sebagian besar belum, dan menunggu di kertas yang menguning dan berbau jamur. Janari menyalakan lampu tunggal yang menggantung dan mulai menyaring, mencari kata kunci yang ia tahu mustahil terindeks: bintang yang padam tanpa benda.
Ia mencari okultasi yang tak terjelaskan. Catatan tentang kedipan yang tak punya asal. Ia membuka log tahun demi tahun, membaca tulisan tangan pengamat-pengamat yang sudah lama pergi. Kebanyakan membosankan: kalibrasi, cuaca buruk, kubah macet, listrik padam. Lalu, di tumpukan paling bawah, di sebuah buku log bersampul kanvas hijau yang sudah pudar jadi kelabu, ia menemukan sebuah nama yang membuat tangannya berhenti.
Sutawijaya.
Ia kenal nama itu. Tentu ia kenal. Itu nama mentornya. Pak Sutawijaya, lelaki yang mengajarinya membaca langit ketika ia masih mahasiswa, yang mengajarinya kalimat tentang alam yang jarang ajaib dan alat yang sering rusak, yang meninggal tenang tujuh tahun lalu sebagai pensiunan dosen yang dihormati dengan sopan tapi tidak pernah benar-benar dibicarakan. Janari tahu Pak Suta pernah bekerja di observatorium. Ia tidak tahu Pak Suta pernah bekerja di sini, di gunung ini, di teropong yang sama.
Tangannya gemetar sedikit saat membuka halaman demi halaman. Tulisan tangan Pak Suta rapi dan miring, tulisan orang yang dididik menulis dengan pena. Dan di tengah-tengah log rutin, ia menemukannya: serangkaian catatan tentang kedipan. Bintang-bintang redup yang padam sepersekian detik, di petak-petak langit tanpa benda yang dikatalog, pada jam-jam yang—Janari merasa lehernya dingin—Pak Suta sendiri tandai dengan kata 'tidak sesuai prediksi mana pun.' Pemburu hantu, tulis Pak Suta di satu margin, dengan tinta yang sudah memudar, setengah getir setengah lucu. Aku berburu hantu langit.
Ia menelusuri lebih jauh. Catatan itu berhenti tiga puluh tahun lalu, tiba-tiba, di tengah kalimat. Halaman setelahnya kosong. Lalu buku log digantikan oleh tangan lain, tangan pengamat lain, dan nama Sutawijaya tidak pernah muncul lagi.
Janari membawa buku itu ke atas dan mencari di berkas administrasi yang lebih resmi. Butuh waktu, tapi ia menemukannya: surat-surat dari tiga puluh tahun lalu, formal dan dingin, tentang 'pengakhiran penugasan' seorang peneliti yang 'membuat klaim pengamatan yang tidak dapat direproduksi dan berpotensi merusak kredibilitas lembaga.' Tidak disebut benda apa yang ia klaim. Hanya disebut bahwa klaim itu tidak bisa diulang oleh pengamat lain, bahwa datanya 'tidak meyakinkan,' dan bahwa demi nama baik observatorium, lebih bijak menutup perkara itu. Pak Suta tidak dipecat dengan kata 'dipecat.' Ia digeser, dibungkam dengan halus, lalu dibiarkan pergi. Karier seorang astronom dipadamkan tanpa satu pun kata kasar.
'Kau menemukan buku hijau itu.'
Janari berbalik. Bu Halimah, direktur observatorium, berdiri di ambang pintu kantornya. Perempuan itu sudah hampir pensiun, lelah oleh bertahun-tahun memohon dana, dan matanya menatap buku log di tangan Janari dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan marah, lebih seperti capek.
'Anda kenal dia,' kata Janari. Bukan pertanyaan.
'Aku masih asisten muda waktu itu.' Bu Halimah masuk dan menutup pintu. 'Sutawijaya orang paling teliti yang pernah kerja di sini. Itu masalahnya. Ketelitian membuatnya yakin pada sesuatu yang tidak bisa ditunjukkannya pada orang lain. Ia bilang ada benda gelap, besar, bergerak lambat di tepi tata surya. Ia tunjukkan kedipan-kedipannya. Tapi tidak ada observatorium lain yang bisa merekam hal yang sama. Satu pengamat, satu teropong, satu klaim raksasa. Komunitas tidak menerimanya. Dan ketika reputasinya retak, retaknya cepat.' Ia diam sebentar. 'Aku ikut menandatangani surat itu. Aku masih muda dan takut kehilangan pekerjaan. Itu salah satu hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun.'
Janari merasa tanah bergeser pelan di bawah kakinya. Ini bukan lagi sekadar anomali data. Ini guru yang mengajarinya melihat. Ini orang yang kalimat-kalimatnya masih ia ucapkan tanpa sadar.
'Bu,' katanya hati-hati. 'Aku merekam kedipan. Beberapa hari lalu. Tanpa benda yang dikatalog. Di jam yang salah.'
Wajah Bu Halimah berubah. Bukan menjadi heran. Menjadi cemas. 'Janari, dengar aku baik-baik. Aku tidak bilang kau salah. Aku bilang ini observatorium yang nyaris ditutup, dan satu-satunya hal yang lebih cepat menutup kita daripada kehabisan uang adalah jadi bahan tertawaan. Sutawijaya menghancurkan dirinya sendiri dengan mengejar kedipan yang tidak bisa ia buktikan ke siapa pun. Jangan ulangi sejarah yang memalukan itu. Kumohon. Catat sebagai anomali, simpan, dan kerjakan yang bisa kita jual ke donor.'
Ia pergi. Janari berdiri sendirian di koridor, memegang buku log hijau itu seperti memegang sesuatu yang masih hangat. Pemburu hantu langit. Tulisan tangan gurunya, terhenti di tengah kalimat tiga puluh tahun lalu. Dan di dalam dirinya, di tempat yang lebih dalam dari ambisi, sesuatu mengeras menjadi keputusan yang ia tahu mungkin bodoh. Kalau ini hantu, ia akan membuktikan hantu itu nyata. Dan kalau bukan, ia akan menjadi orang yang membuktikan gurunya keliru, dengan tangan sendiri—yang entah kenapa terasa nyaris sama beratnya.