Angka di layar tidak berubah, tapi Janari sudah membacanya tujuh kali seakan pengulangan bisa membuatnya berbeda. Tiga dari lima kejadian yang selama ini ia sebut "bersih"—kejadian yang lolos dari audit awal, yang ia dan Sekar tandai hijau di lembar kerja bersama—kini bergaris merah tipis di bawah namanya sendiri. Elemen orbit yang baru saja ia unduh dari basis data pelacakan sampah antariksa cocok, dalam toleransi kurang dari satu detik busur, dengan lintasan sebuah satelit komunikasi tua yang sudah lama dianggap mati.
Ia menutup mata sebentar, seolah itu bisa mengembalikan kejadian itu ke kolom yang lama.
Ruang kendali sudah sunyi sejak Sekar pulang dua jam lalu, membawa pulang salinan cetak audit dan janji akan kembali sebelum subuh. Kubah di atas mereka berderak pelan, mendingin seiring malam turun. Janari sendirian dengan kursor yang berkedip di ujung baris data, dan dengan pertanyaan yang mulai terasa seperti lantai yang ambles perlahan di bawah kakinya: kalau tiga dari lima ternyata sampah, apa yang menjamin dua sisanya bukan?
Ia membuka lagi berkas lama—hasil uji signifikansi dari berbulan-bulan sebelumnya, angka yang dulu ia anggap menggoda meski belum menentukan. Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri, di malam yang lain, apakah ia hanya mengarang wajah dari derau. Waktu itu ia bisa menjawabnya dengan metode: uji lagi, periksa lagi, jangan percaya sebelum berulang. Sekarang metode itu sendiri yang balik menuduhnya. Semakin keras ia memeriksa, semakin banyak yang runtuh.
Ia membayangkan menulis surat kepada Pak Wignya. Kalimatnya sudah tersusun rapi di kepala: *setelah pemeriksaan ulang, kami tidak dapat menjamin keandalan kejadian yang dilaporkan sebelumnya; saya merekomendasikan penghentian sementara program deteksi okultasi hingga metode audit selesai disempurnakan.* Kalimat yang jujur, aman, dan seperti menelan pecahan kaca.
Ia belum sempat mengetiknya ketika pintu berderit dan Karu masuk membawa dua cangkir, uap mengepul tipis di udara dingin ruangan.
"Sekar bilang kau belum makan sejak sore," katanya, meletakkan salah satu cangkir di sisi keyboard, cukup jauh agar tak menumpahi kabel. Ia tidak langsung duduk, hanya berdiri di belakang kursi Janari, memandangi layar dari atas bahunya seperti sudah biasa melakukannya bertahun-tahun.
"Tiga dari lima," kata Janari, tanpa berbasa-basi. "Satelit. Yang sama seperti yang menjatuhkan Danastri."
Karu tidak menjawab segera. Ia menarik kursi lain, duduk, menyesap tehnya sendiri seolah punya waktu selama yang dibutuhkan.
"Berapa yang sudah kau periksa semuanya?" tanyanya akhirnya.
"Semua. Lima."
"Dan yang dua sisanya?"
"Belum jatuh. Tapi aku sudah tidak percaya pada 'belum jatuh'. Aku pikir mereka bersih tiga minggu lalu juga."
Karu mengangguk pelan, seperti menerima itu bukan sebagai keluhan melainkan sebagai data. "Waktu aku baru mulai di sini," katanya, "ada teknisi senior yang mengajariku begini: jangan pernah percaya penerima yang tak pernah menunjukkan derau. Bukan karena deraunya bagus. Tapi karena penerima yang tak pernah berisik biasanya rusak—diam karena mati, bukan karena tenang."
Janari menatapnya, menunggu ke mana arah kalimat itu.
"Pipa audit kalian baru saja menemukan tiga kejadian palsu yang sebelumnya lolos," lanjut Karu. "Itu bukan pipa yang gagal. Itu pipa yang akhirnya bekerja seperti yang seharusnya. Kalau semua kejadianmu tetap hijau setelah kau bandingkan dengan setiap satelit yang pernah diluncurkan manusia, itu yang seharusnya membuatmu takut. Bukan yang sekarang."
"Tapi kalau tiga sudah gugur," kata Janari, suaranya lebih pelan dari yang ia niatkan, "apa yang menjamin dua sisanya bukan gugur berikutnya? Bagaimana aku tahu aku tidak sedang menipu diriku sendiri, menyisakan dua kejadian cuma karena aku belum cukup keras memeriksanya?"
Karu meletakkan cangkirnya. "Kau tidak tahu. Belum. Itu bedanya kau dengan orang yang berhenti malam ini." Ia menunjuk layar, ke dua baris yang masih bertahan hijau. "Kau periksa itu juga sekeras yang tiga. Kalau gugur, gugur. Kalau bertahan setelah kau coba sekuat tenaga menjatuhkannya sendiri—itu baru berarti sesuatu. Bukan karena kau berharap ia bertahan. Justru karena kau berharap ia jatuh, dan ia tidak."
Ada jeda panjang. Di luar, angin menampar dinding kubah, dan motor penggerak teleskop mendengung sesaat lalu diam lagi, entah disetel Karu atau bergerak sendiri mengikuti jadwal malam.
"Prof. Danastri tidak melakukan itu," kata Janari akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia berhenti memeriksa terlalu cepat, atau orang lain memeriksakannya untuknya, dengan niat menjatuhkan, bukan mencari kebenaran."
"Kau bukan dia," kata Karu. "Bukan karena kau lebih pintar. Karena kau yang memeriksa kejadianmu sendiri sekeras mungkin, malam ini, sebelum orang lain sempat melakukannya untukmu dengan cara yang lebih kejam."
Janari menunduk ke tangannya sendiri, yang masih ragu di atas keyboard. Ia tidak merasa yakin—jauh dari itu. Rasa yang tersisa lebih mendekati lelah daripada harapan, sesuatu yang keras dan kasar seperti batu di dasar sungai yang airnya sudah surut. Tapi ia menyadari satu hal: keraguan itu sendiri bukan alasan untuk berhenti memeriksa. Justru sebaliknya.
Ia menarik lembar kerja baru, menuliskan nomor katalog dua kejadian yang tersisa di baris paling atas, lalu di bawahnya ia mulai menyalin parameter satelit berikutnya yang harus ia uji—yang paling mencurigakan dulu, yang paling mungkin menjatuhkan.
Karu tidak beranjak. Ia menyesap tehnya yang mulai dingin, menemani dalam diam yang tidak menuntut apa pun, sementara di luar kubah bintang-bintang yang sama terus bergerak seolah tak tahu ada yang sedang dipertaruhkan atas nama kejujuran tentang keberadaan mereka.