Janari menumpuk katalog elemen orbit di sudut meja seperti orang menumpuk kartu yang enggan ia buka. Sekar duduk di seberangnya, laptop menyala pucat di wajahnya yang belum genap dua puluh tiga tahun, jemari berhenti di atas papan ketik menunggu perintah.
"Kita mulai dari yang paling meyakinkan," kata Janari. "Kalau yang paling kuat pun gugur, sisanya tak ada gunanya diperiksa."
Kejadian ketiga—yang datang lewat pipa deteksi otomatis, yang membuatnya nyaris menangis di depan monitor dua pekan lalu—jadi yang pertama mereka bedah. Ia menarik cap waktu presisi dari osilator terkunci-GPS, mengonversinya ke UTC, lalu ke posisi topocentric observatorium: lintang, bujur, ketinggian di atas permukaan laut, sampai desimal yang membuat kepala pusing kalau dipikirkan terlalu lama artinya apa.
Sekar menjalankan propagator SGP4 terhadap seluruh katalog elemen dua-baris yang bisa mereka unduh—ribuan objek, dari satelit cuaca sampai serpihan roket yang sudah tak berfungsi sejak dasawarsa lalu—dan meminta setiap satu dihitung posisinya pada detik yang sama, dari titik pandang yang sama.
"Tunggu ulangannya, lalu tunggu lagi," gumam Janari, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sekar.
"Itu dari mana, Bu Janari?"
"Ayahku." Ia tak menjelaskan lebih jauh, dan Sekar—cukup peka untuk tahu kapan berhenti bertanya—kembali menatap layar.
Hasil pertama muncul: nihil. Tak ada objek terkatalog dalam radius setengah derajat dari koordinat kejadian ketiga pada detik itu. Janari menghembuskan napas yang tak ia sadari ia tahan. Satu selamat.
Mereka lanjut ke kejadian kedua—yang lebih lemah, yang lebih sering ia ragukan di tengah malam saat tak bisa tidur. Sekar mengetik ulang parameter, menekan enter, menunggu.
Kali ini layar tak kosong. Satu baris muncul, lalu bergaris merah di bawahnya karena Sekar sudah menulis skrip yang menyorot kecocokan di bawah ambang tertentu: sebuah objek katalog bernomor lima digit, kelas puing orbit rendah, melintas 0,03 derajat dari posisi kejadian, pada selisih waktu 40 milidetik.
Ruangan jadi sangat sunyi. Bahkan kipas pendingin komputer di sudut terasa terlalu keras.
"Empat puluh milidetik," kata Sekar pelan, seolah mengucapkannya lebih pelan bisa mengubah angkanya. "Itu... dalam toleransi, kan?"
Janari tidak menjawab dulu. Ia menarik parameter magnitudo puing itu—kecerahan yang diharapkan berdasarkan ukuran dan albedo perkiraan pada jarak dan sudut fase itu—dan membandingkannya dengan kurva cahaya kejadian kedua yang tersimpan di arsipnya. Bentuknya cocok. Bukan mendekati cocok. Cocok.
"Bukan toleransi," katanya akhirnya. "Itu jawabannya. Kejadian kedua adalah kilau puing orbit, dilihat pas sudut fasenya membuatnya berkelip lalu padam dalam waktu kurang dari satu bingkai kita."
Sekar diam. Lalu, dengan suara yang berusaha tetap datar dan gagal separuh jalan: "Jadi itu bukan apa-apa."
"Itu sesuatu. Cuma bukan yang kita kira."
Janari berdiri, berjalan ke jendela ruang kendali yang menghadap gelap gunung, dan untuk sesaat yang tak ingin ia akui, ia membayangkan Prof. Danastri tiga puluh tahun lalu, duduk di ruangan serupa ini—atau lebih tua, lebih sederhana instrumennya—menatap layar yang sama, menemukan hal yang sama, terlalu larut untuk menyelamatkan makalah yang sudah terlanjur dikirim. Karu pernah bilang: orang itu lenyap dari dunia sains. Sekarang ia tahu persis bagaimana rasanya jadi orang yang menemukan itu sendiri, sebelum semua orang lain menemukannya untukmu, lebih kejam, di depan umum.
Ia kembali ke meja. "Periksa semua. Jangan cuma yang lemah. Periksa yang ketiga lagi dengan ambang lebih longgar—setengah detik, bukan seperlima. Periksa yang kesatu. Periksa segalanya yang pernah masuk pipa, bahkan yang sudah kubuang karena kukira cuma derau."
"Itu bisa makan waktu semalaman."
"Maka kita di sini semalaman."
Mereka bekerja seperti itu—Sekar menulis dan menjalankan ulang skrip, Janari memeriksa tiap keluaran dengan mata yang makin lelah tapi tak mau berkedip terlalu lama, takut melewatkan sesuatu. Kejadian keempat, yang lemah dan nyaris tak pernah ia sebut ke siapa pun karena signifikansinya rendah, ternyata juga cocok dengan lintasan sebuah satelit komunikasi tua yang mengorbit condong, terlalu tinggi untuk dikira dekat, terlalu terang untuk diabaikan pada sudut fase tertentu.
Dua dari lima. Mungkin tiga, bergantung bagaimana mereka menghitung ambang untuk yang keempat.
"Bu Janari." Sekar tidak menatapnya, matanya masih di layar, tapi suaranya berubah, lebih pelan, lebih hati-hati—seperti orang yang takut pertanyaannya sendiri. "Kalau separuh data kita ternyata sampah begini... apa yang membuat kita yakin sisanya bukan?"
Janari tak punya jawaban yang bisa ia berikan malam itu. Ia hanya menatap layar yang menampilkan kecocokan kedua—garis lintasan satelit yang membelah tepat di atas titik yang selama ini ia sebut anomali, seolah semesta sengaja meletakkannya di sana untuk mengujinya, atau untuk mempermalukannya, ia belum bisa membedakan yang mana.
"Tidak ada yang membuat kita yakin," katanya akhirnya. "Cuma ada cara memeriksa yang belum kita lewatkan. Kita periksa sampai tak ada lagi yang bisa diperiksa. Kalau yang tersisa nanti cuma satu, atau tak ada, kita terima itu."
Ia menulis nama dua kejadian yang baru gugur ke dalam catatannya sendiri, dengan tinta yang sama tegasnya seperti saat ia mencatat yang lain—tanpa mencoret, tanpa menyamarkan, seperti ayahnya dulu tak pernah menghapus sinyal merah yang sudah ia tetapkan, meski itu berarti kereta harus menunggu lebih lama di rel yang sepi.
Di luar, langit tetap gelap dan penuh benda yang bergerak—sebagian nyata, sebagian cuma pantulan logam yang kebetulan lewat pada waktu yang salah, cukup meyakinkan untuk membuat siapa pun percaya, sampai seseorang cukup keras kepala untuk memeriksa ulang.