Ruang seminar itu tidak lebih besar dari kelas kuliah sarjana—kursi lipat berbaris rapi, proyektor menggantung dari langit-langit dengan kabel yang disolder ulang entah berapa kali, dan bau kopi murah yang mengendap di karpet sejak pagi. Janari berdiri di depan, di samping layar putih yang belum sepenuhnya rata, menunggu giliran namanya disebut oleh moderator. Ia telah menghitung ulang setiap kalimat pembuka semalaman, memangkas yang berlebihan, menambal yang terlalu ragu, sampai yang tersisa adalah kalimat paling jujur yang bisa ia susun.
"Kami mendeteksi tiga kejadian penggelapan singkat, masing-masing kurang dari satu detik, pada koordinat sidereal yang sama," katanya, ketika gilirannya tiba. Suaranya lebih tenang dari yang ia kira akan keluar. "Tak satu pun bertepatan dengan objek terkatalog. Kami sudah menyingkirkan sinar kosmik berdasarkan bentuk titik-sebarnya, dan sejauh ini tak ada objek katalog—asteroid, TNO, bintang variabel—yang cocok."
Ia menampilkan kurva cahaya itu, tiga lengkung kecil yang jatuh tajam lalu kembali, seperti detak jantung yang terlewat sebentar. Ia sengaja tidak memperbesar klaimnya. Ia bilang "anomali yang memerlukan pengamatan lanjutan," bukan "temuan." Ia bilang "kandidat," bukan "objek baru." Setiap kali ada dorongan untuk mengatakan lebih, ia menahannya, seperti menahan napas di air dingin.
Di baris ketiga, Dr. Ardhi Renjani duduk dengan kaki bersilang, notes-nya rapi di atas pangkuan, pena berputar pelan di jarinya. Janari sudah tahu wajah itu dari makalah-makalah yang lebih tebal dari miliknya, dari nama yang selalu muncul di ucapan terima kasih hibah-hibah besar. Broto pernah menyebutnya sekali, di sela obrolan basa-basi, dengan nada yang terlalu ringan untuk sesuatu yang penting.
Sesi tanya-jawab dibuka. Dua pertanyaan pertama datang dari mahasiswa pascasarjana, sopan dan teknis, tentang kalibrasi waktu. Janari menjawabnya dengan lancar, karena itu wilayah yang ia dan Karu sudah kuasai luar dalam. Ia mulai merasa ruangan itu bisa ia lalui dengan selamat.
Lalu Ardhi mengangkat tangan.
"Data yang menarik," katanya, dan jeda itu—jeda kecil sebelum kata berikutnya—terasa seperti pintu yang sengaja dibiarkan berderit sebelum ditutup. "Saya penasaran soal satu hal. Anda bilang bentuk titik-sebarnya menyingkirkan sinar kosmik. Tapi apakah Anda sudah memeriksa efemeris satelit untuk ketiga waktu kejadian itu? Kilau spekular dari panel surya bisa menghasilkan penurunan kecerahan yang tajam juga, kalau sudutnya pas."
Ruangan tidak bergerak, tapi Janari merasakan sesuatu di dalamnya menegang, seperti udara sebelum petir.
"Kami sudah memeriksa lintasan yang tercatat di katalog publik untuk malam-malam itu," jawabnya, memilih kata dengan hati-hati. "Tidak ada yang melintasi bidang pandang pada jam-jam kejadian."
"Katalog publik," Ardhi mengulang, seolah menimbang kata itu di telapak tangannya. "Bukan katalog penuh. Anda tahu ada objek yang tidak selalu dilacak dengan baik—puing kecil, satelit yang elemen orbitnya sudah kedaluwarsa berbulan-bulan. Untuk klaim seketat ini, bukankah itu harus disingkirkan secara eksplisit, bukan diasumsikan?"
Ia tidak menyebut kata "anomali kosmik" atau "benda gelap"—Janari belum pernah mengucapkannya di depan umum, dan Ardhi tahu itu, sehingga pertanyaannya terdengar seperti kehati-hatian ilmiah murni, bukan serangan. Itulah yang membuatnya lebih berbahaya. Tak ada yang bisa dituduh sebagai tidak adil. Ia hanya bertanya apa yang seharusnya sudah dijawab.
Janari bisa merasakan mata-mata di ruangan itu berpindah dari layar ke wajahnya, menunggu.
Ia bisa saja berbohong sedikit. Bisa saja mengatakan sudah, semua sudah diperiksa tuntas, dan barangkali tak seorang pun di ruangan itu akan tahu bedanya malam itu. Kalimat itu berdiri di ujung lidahnya, ringan, menggoda, seperti sinyal hijau yang tinggal ditekan.
Tapi ada suara lain, lebih tua, yang selalu muncul di saat-saat seperti ini—suara ayahnya di kotak sinyal, di bawah lampu minyak, mengatakan bahwa sinyal yang kau ragukan, kau sebut merah, bukan hijau, sekalipun keretanya sudah menanti di ujung rel.
"Belum," katanya. "Kami baru memeriksa katalog satelit aktif yang tersedia untuk publik. Audit penuh terhadap objek yang lebih kecil dan elemen orbit yang lebih tua belum kami selesaikan. Itu langkah berikutnya yang perlu kami lakukan sebelum mengklaim lebih jauh."
Kalimat itu jujur, dan karena jujur, kalimat itu juga menyakitkan untuk didengar, terutama oleh dirinya sendiri.
Ardhi mengangguk, seolah puas, seolah ia hanya sedang membantu menajamkan metode seorang koleganya yang lebih muda. "Jadi untuk sekarang," katanya, dan suaranya melembut, hampir simpatik, yang justru membuatnya terasa lebih tajam, "kita belum bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa ini seluruhnya artefak instrumen atau kontaminasi satelit. Terima kasih atas kejujurannya."
Tepuk tangan yang mengikuti terasa lebih pelan dari yang seharusnya, seperti orang-orang tak yakin apa yang baru saja mereka saksikan—penjelasan ilmiah yang berhati-hati, atau reputasi seorang peneliti muda yang baru saja retak sedikit di depan umum.
Sekar, yang duduk di baris belakang, menatap Janari dengan wajah yang berusaha tak menunjukkan kecemasan dan gagal. Di sudut ruangan, Pak Wignya berdiri menyender ke dinding dengan tangan terlipat, rahangnya mengeras seperti orang yang baru saja menyaksikan investasi mengempis sedikit nilainya.
Janari mengumpulkan kertas-kertasnya dengan gerakan yang terlalu rapi, terlalu terkendali, satu-satunya cara ia tahu untuk menahan tangannya agar tidak gemetar. Ia tidak menyesal sudah menjawab jujur. Tapi ia juga tahu, ketika berjalan turun dari podium, bahwa pertanyaan Ardhi barusan bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah peta yang ditinggalkan sengaja di mejanya—jalan menuju satu-satunya celah dalam datanya yang belum ia tutup, dan sekarang seluruh ruangan tahu di mana letak celah itu.
Di luar, udara sore terasa lebih dingin dari yang ia ingat sebelum masuk. Ia menghitung, dalam kepala, berapa malam yang akan ia perlukan untuk menyisir setiap kejadian melawan setiap elemen orbit satelit yang bisa ia temukan—bukan hanya yang tercatat rapi di katalog publik, tapi yang lebih tua, lebih kabur, lebih mudah diabaikan. Ia tahu persis siapa yang akan ia ajak untuk pekerjaan sebanyak itu.