Ruang auditorium di lantai dua Balai Pertemuan Ilmiah itu berbau karpet baru dan kopi yang terlalu lama dihangatkan. Janari duduk di baris ketiga dari belakang, jaket lipat di pangkuan, sambil menghitung berapa lama lagi sesi poster akan berlangsung sebelum ia bisa kembali ke kamar hotel dan menelepon Karu untuk memastikan detektor 70 cm baik-baik saja tanpa pengawasannya semalam.
Simposium tahunan itu bukan tempat favoritnya. Terlalu banyak jabat tangan, terlalu sedikit data. Tapi Pak Wignya memintanya hadir — "menunjukkan wajah observatorium," katanya, seolah wajah bisa menambal anggaran yang menua. Jadi Janari datang, membawa poster tentang metode reduksi kurva cahaya yang ia kembangkan, dan berusaha tak menyebut satu pun kata yang bisa ditafsirkan sebagai janji.
Ia pertama kali melihat Dr. Ardhi Renjani dari jauh, di dekat meja kudapan, mengenakan kemeja yang disetrika terlalu rapi untuk seseorang yang katanya bekerja hingga larut di kubah teleskop. Seseorang memperkenalkannya sebagai kepala kelompok riset dari Lembaga Antariksa Lembah Kirana — fasilitas yang, menurut desas-desus, baru saja memasang detektor generasi terbaru berkat hibah konsorsium swasta. Janari pernah membaca dua makalahnya: rapi, defensif secara statistik, ditulis oleh seseorang yang tahu persis siapa yang akan membacanya dan bagaimana caranya tidak memberi celah.
"Nawangsih, kan?" Ardhi menghampirinya sendiri, tanpa diperkenalkan lebih dulu, seolah sudah menghafal nama itu dari daftar peserta. "Aku baca posterku— maksudku, posternya. Tentang normalisasi derau latar untuk okultasi cepat."
"Ya," kata Janari, berjabat tangan seperlunya.
"Menarik. Kalian masih pakai detektor lama di sana? Tujuh puluh sentimeter?" Ardhi tersenyum, bukan meremehkan, hanya menegaskan fakta yang menurutnya sudah jelas siapa yang unggul. "Kami baru pasang array baru bulan lalu. Time resolution-nya sepuluh kali lebih baik."
"Cukup untuk yang kami butuhkan," jawab Janari, dan itu bukan basa-basi. Ia tak berniat mengukur ego siapa pun malam itu.
Tapi Ardhi punya cara bicara yang membuat setiap kalimat terdengar seperti undangan bertanding. Ia menanyakan proyeknya sekarang, dengan nada yang terlalu santai untuk sekadar obrolan lorong. Janari menjawab seperlunya — kalibrasi instrumen, survei rutin bintang variabel — kalimat-kalimat yang bisa ia ucapkan pada siapa saja di ruangan itu tanpa risiko.
Ia baru merasakan sesuatu yang tidak beres ketika melihat Broto Sasongko, dua meja dari mereka, tertawa terlalu keras sambil menepuk bahu seorang pria berjas biru tua yang belakangan ia kenali sebagai salah satu anggota dewan Lembah Kirana.
"...bukan main," Broto berkata, suaranya membawa gelas anggur seolah gelas itu bagian dari kalimatnya, "tim kami sedang duduki sesuatu yang besar. Astronom muda kami— Janari, itu dia—" ia menunjuk tanpa memanggil, untung Janari sedang membelakanginya, "—sedang melacak sesuatu yang, kalau benar, bisa jadi berita besar untuk observatorium kami. Kalian tahu, kan, betapa sulitnya cari dana kalau tidak punya cerita bagus."
Kalimat itu terlalu keras untuk dianggap privat, dan terlalu kabur untuk dianggap fakta, tapi Janari melihat kepala pria berjas biru tua itu menoleh, lalu, beberapa detik kemudian, kepala Ardhi Renjani ikut menoleh ke arah yang sama — bukan ke Broto, melainkan ke Janari, dengan tatapan yang berubah, seolah seseorang baru saja menyalakan lampu di ruangan yang tadinya remang.
"Cerita besar?" Ardhi bertanya, nadanya masih ringan, tapi matanya tidak. "Broto memang senang melebih-lebihkan. Tapi—" ia berhenti sejenak, seolah menimbang berapa banyak yang boleh ditanyakan langsung. "Apa kau menemukan sesuatu di survei okultasi?"
"Kami mendokumentasikan beberapa kejadian yang belum sepenuhnya kami mengerti," kata Janari, memilih setiap kata seperti memilih batu pijakan di sungai berbatu. "Belum ada yang bisa kami sebut temuan."
"Belum," ulang Ardhi, seolah mencatat kata itu di suatu tempat di kepalanya. "Kalimat yang menarik. Orang biasanya bilang 'tidak ada' kalau memang tidak ada apa-apa."
Janari tidak menjawab. Ia sudah belajar, sejak kotak sinyal ayahnya dulu, bahwa diam kadang lebih aman daripada koreksi yang justru menegaskan sesuatu yang seharusnya tak perlu ditegaskan. Tapi diamnya sendiri, ia sadar begitu Ardhi tersenyum tipis dan mengangguk seakan sudah cukup mendapat jawabannya, mungkin sama berbahayanya dengan bicara.
"Aku akan senang membaca datamu kalau sudah siap dipublikasikan," Ardhi berkata sambil beranjak, nada suaranya kini sopan sempurna, jenis kesopanan yang justru membuat Janari waspada. "Kami di Lembah Kirana selalu tertarik pada okultasi anomali. Kau tahu, dulu ada yang mengklaim hal serupa di lembaga sini. Berakhir buruk untuknya."
Ia tak menyebut nama. Tak perlu. Janari merasa dadanya mengencang sedikit, membayangkan sebuah nama yang belum pernah ia ucapkan keras-keras di depan siapa pun di ruangan itu.
Ardhi berlalu untuk menyalami orang lain, meninggalkan Janari berdiri di dekat meja kudapan yang setengah kosong, memandangi punggungnya yang tegap dan yakin, jaketnya yang dipotong pas, cara jalannya seperti seseorang yang tahu institusinya akan selalu mendapat dana tahun depan tanpa harus membuktikan apa pun yang mendesak.
Ia menoleh mencari Broto, ingin menegurnya, tapi lelaki itu sudah tenggelam dalam lingkaran tamu baru, tertawa lagi, menepuk bahu lagi, seolah kalimat yang baru saja ia lemparkan ke udara tidak akan mendarat di mana pun yang berbahaya.
Di kereta pulang malam itu, Janari menatap ladang gelap yang melesat di luar jendela dan memikirkan bagaimana sebuah rumor bisa menempuh jarak lebih jauh dan lebih cepat daripada cahaya bintang mana pun yang pernah ia ukur — dan bagaimana, tak seperti cahaya bintang, rumor tak pernah datang dengan jejak waktu yang bisa diverifikasi.