Buku catatan Danastri terbuka di meja kerja Janari, di samping laptop yang layarnya menyala dengan barisan angka. Sampulnya sudah lunak oleh keringat tangan dan waktu, halamannya kecokelatan di pinggir seperti daun yang lama disimpan di antara kertas lain. Tulisan tangan Danastri kecil dan rapat, huruf-hurufnya miring ke kanan dengan tekanan yang keras—tulisan orang yang terbiasa mencatat cepat sebelum sebuah bacaan instrumen hilang.
Janari sudah tiga jam duduk di situ, sejak Karu pulang dan kubah sunyi kecuali derik roda gigi kecil yang menahan teleskop pada posisi park. Ia sudah menyalin setiap stempel waktu dari buku itu ke dalam lembar kerjanya sendiri, mengonversi tanggal sipil Danastri—ditulis dalam format lama, hari-bulan-tahun dengan garis miring yang nyaris pudar—menjadi waktu sidereal, satu per satu, dengan tangan, lalu memeriksa ulang dengan skrip yang ia tulis sendiri agar tak ada galat manusia yang menyelinap masuk.
Ia berhenti pada satu baris. Membacanya lagi.
Koordinat okultasi yang dicatat Danastri, tiga puluh tahun lalu, berada 0,4 detik busur dari koordinat kedipan yang ia tangkap sendiri bulan lalu. Bukan angka yang sama persis. Tapi juga bukan angka yang berbeda cukup jauh untuk disebut kebetulan. Ia menatap selisih itu seperti menatap luka yang baru disadari ada di tangan sendiri—kecil, tapi begitu ditemukan, tak bisa lagi diabaikan.
"Empat persepuluh detik busur," ucapnya pelan, seolah kalimat itu perlu diuji dengan lidah sebelum dipercaya oleh kepala.
Ia menarik kalkulator di layar keduanya dan mulai menghitung mundur. Jika itu bukan galat pengukuran—dan galat pengukuran Danastri, menurut catatan kalibrasinya sendiri, jauh lebih kecil dari itu—maka apa pun yang mengokultasi bintang di kedua kejadian itu telah bergerak. Bukan bergerak liar. Bergerak teratur, dalam garis yang bisa dihitung, sejauh sepersekian detik busur dalam rentang tiga puluh tahun.
Ia menuliskan angka itu di kertas, bukan di layar, karena ada sesuatu dalam menulis dengan tangan yang membuatnya lebih berhati-hati terhadap diri sendiri. Kecepatan sudut. Jika benda itu berjarak sekian—ia memasukkan rentang jarak yang telah ia hitung kasar bersama Karu berbulan-bulan lalu, dari kecerahan dan bentuk kurva okultasi—maka pergeseran sudut sekecil itu, dalam waktu selama itu, berarti kecepatan lintang sejati yang sangat lambat. Lambat seperti benda yang jauh sekali, atau benda yang sedang mengorbit sesuatu dengan periode yang panjang sekali, atau kedua-duanya.
Ia bersandar ke kursi. Di luar jendela kubah yang sempit, langit gunung masih hitam, bertabur, tak berbelas kasihan pada siapa pun yang menuntut kepastian darinya.
Ini bukan bukti. Ia mengingatkan dirinya sendiri, keras-keras dalam kepala, seperti ayahnya dulu mengulang aturan di kotak sinyal: satu titik data tak pernah cukup, dua titik yang berjauhan waktu bisa saja kebetulan yang menyamar sebagai pola. Tapi ia juga tak bisa berpura-pura selisih 0,4 detik busur itu tak berarti apa-apa. Angka itu terlalu rapi untuk derau, terlalu kecil untuk galat instrumen generasi Danastri, dan terlalu konsisten dengan arah pergeseran yang—ketika ia memeriksa dua kejadian miliknya sendiri, yang terpisah beberapa bulan—juga menunjukkan tren yang sama, meski jauh lebih kecil skalanya.
Ia membuka laptop, menarik ulang seluruh kurva cahaya dari tiga kejadiannya sendiri, membandingkannya dengan sketsa kasar Danastri untuk kejadian tiga puluh tahun lalu—Danastri tak punya kamera CCD, hanya fotometer tabung foton dan tangan yang menggambar bentuk kurva di kertas grafik, tapi bentuknya, tajam dan simetris, cocok dengan yang ia lihat sendiri di layar berpendar dingin malam ini.
Objek yang sama. Ia tak berani menuliskannya sebagai kesimpulan, hanya sebagai kalimat yang mengambang di kepalanya, terlalu besar untuk dipercaya sepenuhnya, terlalu masuk akal untuk ditolak.
Ia meraih telepon, lalu meletakkannya lagi. Terlalu larut untuk menelepon Karu, dan terlalu dini untuk menelepon Danastri—perempuan itu baru saja mulai mempercayainya lagi setelah bertahun menutup pintu; Janari tak ingin membalas kepercayaan itu dengan telepon tengah malam yang penuh spekulasi belum matang.
Ia menuliskan satu paragraf di buku catatannya sendiri, dengan hati-hati memilih kata, karena ia sudah belajar—dari Danastri, dari ayahnya, dari dirinya sendiri yang dulu nyaris menekan tombol yang salah—bahwa kalimat yang ditulis terlalu yakin bisa menjadi jerat di kemudian hari.
Hipotesis kerja: benda pengokultasi bergerak lambat di langit, konsisten dengan objek jauh bermassa besar pada orbit berperiode panjang. Pergeseran posisi antara data Danastri (30 tahun lalu) dan data terkini sesuai arah dan besaran yang diharapkan dari gerak diri semacam itu. Belum dikonfirmasi. Perlu baseline waktu lebih panjang, lebih banyak titik data, dan verifikasi independen atas galat astrometrik kedua set instrumen.
Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali, seperti mencari retakan di kaca sebelum menaruh berat di atasnya. Tak ada retakan yang ia temukan, tapi itu tak berarti tak ada.
Ia menutup buku catatan Danastri dengan hati-hati, seolah menutup sesuatu yang hidup, lalu duduk sebentar dalam diam kubah, mendengarkan derik pelan motor teleskop yang mendinginkan diri. Tiga puluh tahun selisih antara dua pasang mata yang melihat langit yang sama, dan di antara keduanya, sebuah benda—jika benar ada—telah bergeser sedikit, cukup untuk ditangkap, cukup untuk ditakuti, cukup untuk membuat Janari, untuk pertama kalinya, merasa bahwa apa yang mereka kejar mungkin benar-benar punya jarak yang bisa diukur, dan arah yang bisa diprediksi.
Ia mematikan lampu meja, tapi tidak langsung pulang. Ia duduk lebih lama dari yang perlu, membiarkan angka-angka itu mengendap, menolak menyimpulkan apa pun sebelum ia yakin dirinya tak sedang melihat wajah yang ingin ia lihat di dalam derau.