Rumah itu berdiri di ujung jalan tanah yang tak lagi diaspal sejak entah kapan, di bawah punggung bukit yang menyembunyikan stasiun tua dari pandangan jalan raya. Janari memarkir mobilnya dua ratus meter sebelum pagar, seperti yang disarankan Karu—"jangan sampai terdengar sebagai tamu yang membawa kabar buruk"—lalu berjalan kaki menembus kabut tipis pagi yang belum sepenuhnya terangkat.
Danastri membuka pintu sebelum ia sempat mengetuk kedua kalinya, seolah sudah mengintai dari balik tirai sejak semalam.
"Aku bilang kemarin," kata Danastri, berdiri menghalangi ambang pintu dengan tubuhnya yang kurus namun tegak, "aku tidak punya apa-apa untuk diberikan."
"Saya tidak datang untuk itu." Janari menahan diri agar suaranya tetap datar. "Saya datang untuk mendengar, Bu. Itu saja."
"Kau sudah mendengar. Kemarin, di beranda, tiga jam." Danastri menyilangkan tangan di dada. "Aku sudah menceritakan bagaimana kariernya mati. Apa lagi yang kau mau? Bangkainya?"
Janari tidak menjawab segera. Ia belajar itu dari ayahnya, bertahun silam, di kotak sinyal yang berbau minyak dan besi panas—diam kadang lebih jujur daripada argumen. Ia hanya berdiri, membiarkan angin pegunungan mengibas ujung jaketnya, membiarkan Danastri melihat bahwa ia tidak akan pergi hanya karena diusir sekali.
Akhirnya Danastri menghela napas, dan sesuatu di bahunya turun seperti beban yang untuk sesaat diletakkan. "Masuk," katanya, tanpa ramah. "Tapi jangan harap aku bicara lagi soal itu."
Rumah itu lebih menyerupai gudang yang dihuni daripada tempat tinggal. Rak-rak buku berjajar sampai ke langit-langit, disesaki jurnal yang sampulnya sudah pudar menjadi cokelat susu. Ada bau kertas lama, kapur barus, dan sesuatu yang lebih tua lagi—mungkin tinta cetak dari mesin ketik yang sudah tak diproduksi. Di sudut ruang duduk, sebuah teleskop kecil berdiri diselimuti kain, seperti perabot yang sengaja dilupakan agar tidak mengingatkan.
Danastri menuangkan teh tanpa bertanya apakah Janari mau, meletakkan cangkirnya di meja dengan suara keras yang menyiratkan bahwa ini bukan keramahan, hanya kebiasaan lama yang sulit dimatikan. Mereka duduk berhadapan. Janari tidak mengeluarkan buku catatannya sendiri. Ia hanya bercerita—tentang kedipan itu, tentang durasinya yang kurang dari sedetik, tentang koordinat yang tidak cocok dengan katalog mana pun, tentang caranya berulang di jam sidereal yang sama meski waktu sipilnya berbeda tiap kali.
Ia tidak meminta apa pun. Ia hanya berbicara, seperti melapor kepada seseorang yang berhak tahu.
Danastri mendengarkan dengan wajah yang tak bergerak, tetapi tangannya di sekeliling cangkir mengencang pelan-pelan, ruas jarinya memutih. Ketika Janari selesai, perempuan itu diam lama sekali—cukup lama sampai Janari mengira ia sudah menutup diri kembali.
"Jam berapa," kata Danastri akhirnya, suaranya berubah, lebih pelan, lebih dekat ke masa yang sudah lama ia kunci, "kau bilang kedipan pertama."
Janari menyebutkan angkanya—tanggal, waktu sipil, lalu stempel sidereal yang sudah ia konversi dengan osilator terkunci-GPS.
Danastri berdiri tanpa berkata apa-apa dan berjalan ke ruang belakang. Janari mendengar bunyi kunci logam, laci yang macet ditarik paksa, lalu langkah kembali. Di tangan Danastri ada sebuah kotak kayu, ujung-ujungnya terkelupas, dengan tulisan tangan di tutupnya yang nyaris tak terbaca oleh usia.
"Aku bersumpah tidak akan membuka ini lagi," kata Danastri, meletakkan kotak itu di meja seperti meletakkan sesuatu yang masih bisa menggigit. "Tapi kau datang dua ratus meter jalan kaki hanya untuk duduk diam menungguku bicara. Ayahmu yang mengajarimu itu?"
"Bukan ayah saya," jawab Janari. "Cara dia mengajarkan bagaimana menunggu."
Sesuatu yang mirip senyum, getir dan singkat, lewat di wajah Danastri. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, buku catatan bersampul kain, halamannya menguning dan berbau lembap, penuh tulisan tangan rapat dengan tinta yang memudar menjadi cokelat kehijauan. Kolom demi kolom: asensio rekta, deklinasi, waktu sidereal, magnitudo, catatan cuaca di pinggir dengan huruf kecil-kecil yang gemetar di beberapa baris—tanda tangan seseorang yang menulis sambil menahan dingin, atau menahan sesuatu yang lain.
"Ambil," kata Danastri. "Baca semuanya kalau perlu. Tapi jangan tanya aku lagi malam ini."
Janari membuka halaman pertama dengan hati-hati, seolah kertas itu bisa hancur oleh napasnya sendiri. Ia menelusuri kolom koordinat dengan jarinya, membandingkannya dalam kepala dengan angka yang sudah ia hafal luar kepala dari catatannya sendiri—koordinat kedipan yang ia rekam bulan lalu, yang tidak cocok dengan benda langit terkatalog mana pun.
Ia berhenti di satu baris.
Deklinasinya nyaris identik. Asensio rektanya berbeda, tapi bukan berbeda jauh—selisihnya kecil, dalam rentang yang bisa dijelaskan oleh gerak, bukan oleh kebetulan dua benda berlainan yang secara acak menempati langit yang sama. Ia membalik halaman berikutnya, lalu berikutnya lagi, mencari pola, dan menemukan tiga kejadian lain dengan tanda-tangan yang sama—okultasi tanpa pemilik, di koordinat yang, tiga puluh tahun lalu, sama-sama tidak seharusnya ada apa pun di sana.
Jantungnya berdegup lebih cepat daripada yang ia izinkan tampak di wajahnya. Ia tidak berkata apa-apa kepada Danastri. Belum. Ia hanya menutup buku itu perlahan, seperti menutup sesuatu yang masih hidup di dalamnya, dan meletakkan tangannya di atas sampul kain yang lusuh, merasakan detak yang bukan miliknya sendiri—detak dari tiga puluh tahun yang, mungkin, belum juga berhenti.
"Bu," katanya pelan, memilih kata-katanya seperti memilih langkah di atas es, "boleh saya pinjam data mentahnya juga? Bukan cuma buku ini."
Danastri menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak Janari tiba, ada sesuatu selain pertahanan di matanya—sesuatu yang lebih mirip ketakutan yang sudah terlalu lelah untuk terus bersembunyi.
"Kau belum tahu apa yang kau minta," katanya. Tapi ia beranjak lagi ke ruang belakang, dan kembali kali ini membawa gulungan kertas milar yang lebih tua, lebih rapuh, tergulung ketat seperti sesuatu yang sengaja disembunyikan dari cahaya selama tiga puluh tahun.