Danastri tidak langsung menjawab ketika Janari bertanya apa yang sebenarnya terjadi tiga puluh tahun lalu. Perempuan tua itu menuang teh yang sudah dingin ke dalam cangkirnya sendiri, seolah gerakan itu memberinya waktu untuk memutuskan berapa banyak yang pantas diceritakan pada orang asing yang baru saja mengetuk pintunya.
"Kau ingin tahu bagaimana sebuah karier padam," katanya akhirnya, bukan pertanyaan. "Baik. Duduklah lebih dekat ke lampu itu. Aku tidak suka bicara ke arah bayangan."
Janari menggeser kursinya. Di luar, angin gunung menampar jendela stasiun tua itu dengan ritme yang hampir teratur, seperti detak yang lupa berapa lama harus menahan diri.
"Aku menangkapnya sembilan kali dalam dua tahun," Danastri memulai. "Sembilan kedipan di koordinat yang sama, pada jam sidereal yang sama, dari langit yang seharusnya kosong. Aku bukan orang bodoh, Nawangsih. Aku sudah menyingkirkan sinar kosmik, sudah menyingkirkan awan tipis, sudah menyingkirkan segala yang bisa disingkirkan dengan instrumen yang kami punya waktu itu. Sembilan kali. Aku pikir itu sudah cukup untuk siapa pun yang jujur."
"Dan ternyata belum."
"Ternyata belum." Danastri meletakkan cangkirnya tanpa suara, gerakan yang terlalu terkendali untuk terasa santai. "Aku menerbitkan. Aku memberi nama pada objeknya, aku menghitung kasar massanya, aku membiarkan diriku memakai kata-kata yang seharusnya kutahan. Aku bilang ini kemungkinan benda gelap masif yang belum pernah dicatat siapa pun. Aku bahkan—" ia berhenti, lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya, "—aku bahkan mengizinkan seorang wartawan menuliskan kata 'penemuan abad ini'. Aku tidak mengoreksinya. Itu kesalahanku yang pertama, jauh sebelum yang kedua."
Janari diam. Ia mengenali bentuk kalimat itu—bukan karena pernah mendengarnya, tapi karena bentuknya serupa dengan kalimat yang belum pernah ia ucapkan sendiri, yang mengendap di dadanya setiap kali ia membayangkan berdiri di depan Broto Sasongko dan mengatakan sesuatu yang lebih besar dari yang bisa dibuktikan datanya.
"Lalu datang seorang laki-laki dari lembaga federal," Danastri melanjutkan, suaranya merata sekarang, seperti orang yang membaca laporan yang sudah dihafal luar kepala karena terlalu sering diulang dalam kepalanya sendiri, malam demi malam, selama tiga dekade. "Ia tidak datang untuk menyerangku pada mulanya. Ia datang membawa katalog elemen orbit satelit yang lebih lengkap dari yang kami punya—kiriman dari badan pertahanan, katanya, hasil kerja sama internasional yang baru saja terbuka untuk sipil. Ia hanya ingin, katanya, 'menyilangkan waktu.' Aku mempersilakannya. Aku bahkan bangga menunjukkan data mentahku. Aku pikir semakin banyak mata memeriksa, semakin kokoh temuanku."
"Dan ia menemukan sesuatu."
"Ia menemukan tiga." Danastri mengangkat tiga jari, seolah jumlah itu masih membakar telapak tangannya. "Dari sembilan kejadian yang kuklaim, tiga di antaranya—jika kau hitung ephemeris satelit tertentu pada jam yang sama, pada sudut pandang yang sama dari observatoriumku—tiga di antaranya bertepatan persis dengan lintasan benda buatan manusia yang melintas rendah, memantulkan cahaya matahari selama sepersekian detik. Kilau. Bukan okultasi. Bukan bintang yang padam karena sesuatu lewat di depannya, tapi logam yang menyala karena sesuatu memantul di baliknya. Bentuknya nyaris sama di kurva cahaya kalau kau tidak cukup teliti mengukur waktu naik dan turunnya."
"Tapi enam lainnya—"
"Enam lainnya tidak pernah dijelaskan olehnya. Tidak pernah dibantah. Ia tidak sanggup menaruh satelit apa pun di enam koordinat dan waktu itu, tidak peduli seberapa keras ia mencoba." Danastri menatap Janari lurus-lurus, dan untuk pertama kalinya sejak Janari tiba, ada sesuatu yang lebih tajam dari kepahitan di matanya—sesuatu yang mendekati murka yang sudah lama kehilangan tenaga untuk membakar apa pun. "Tapi itu tidak penting lagi. Begitu tiga dari sembilan terbukti sampah, semua orang berhenti peduli pada enam yang tersisa. Itulah yang tidak kaupahami sampai kau mengalaminya sendiri, Nawangsih: dunia tidak menimbang bukti berdasarkan berat. Ia menimbang berdasarkan cacat yang paling mudah ditunjuk. Satu cacat yang bisa digambar di atas kertas mengalahkan enam misteri yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dipahami."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, memunggungi Janari sejenak seolah ingin memberi ruang bagi wajahnya sendiri untuk diam-diam runtuh tanpa disaksikan.
"Jurnal menarik makalahnya. Bukan aku yang menarik—mereka yang menarik, atas namaku, dengan kata-kata sopan tentang 'kontaminasi data yang tidak diungkapkan sepenuhnya'. Seolah aku sengaja menyembunyikannya. Padahal aku hanya belum cukup teliti untuk menemukannya sendiri, dan bagi mereka, itu sama saja dosanya. Lembagaku menarik pendanaanku dalam enam bulan. Kolegaku berhenti mengundangku bicara, bukan karena mereka yakin aku salah, tapi karena tak seorang pun ingin namanya disebut satu napas dengan kata 'kilau satelit yang dikira bintang padam'. Aku menjadi lelucon di ruang kopi konferensi yang tak pernah kuhadiri lagi."
Janari mengingat kata-kata Danastri di ambang pintu, malam ia tiba: kau membawa hal yang sama yang menghancurkanku. Kini kalimat itu punya bentuk, punya angka—tiga dari sembilan, satu kesalahan kecil yang cukup untuk meruntuhkan segalanya.
"Kenapa Anda menceritakan ini padaku," tanya Janari pelan, "kalau Anda ingin aku pergi dan tidak pernah kembali?"
Danastri berbalik. Cahaya lampu meja jatuh miring di wajahnya, membuat garis-garis usianya tampak seperti kurva cahaya itu sendiri—naik perlahan, jatuh tiba-tiba, tak pernah simetris.
"Karena aku ingin kau tahu persis bentuk pisau sebelum ia menyayatmu," katanya. "Bukan supaya kau takut. Supaya kau tahu ke mana harus menoleh, sebelum orang lain menolehkannya untukmu—dan menikmatinya."