Rumah itu ada di ujung jalan yang tak lagi diaspal, tempat kota kecil itu menyerah pada bukit. Janari sudah tiga kali salah belok sebelum ia menemukannya—sebuah pondok kayu dengan atap seng yang berkarat rapi, seolah karat itu sendiri dijaga agar tidak menjalar lebih jauh dari yang seharusnya. Tidak ada nama di pagar. Tidak ada nomor. Hanya sebuah antena kecil, tua, menghadap ke langit yang salah arah untuk penerimaan televisi mana pun.
Ia berdiri lama di depan pintu sebelum mengetuk. Angin dari lembah membawa bau tanah basah dan asap kayu bakar, dan untuk sesaat Janari nyaris berbalik. Apa yang hendak ia katakan pada perempuan yang kariernya pernah diruntuhkan oleh kalimat yang sama yang kini bersarang di data mentahnya sendiri?
Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk kedua kali.
Danastri lebih kecil dari yang Janari bayangkan—tubuhnya menyusut dimakan usia, tapi matanya masih tajam, jenis tajam yang datang dari terlalu lama membaca angka dalam gelap. Rambutnya putih penuh, disanggul asal. Ia memandang Janari seperti memandang instrumen yang belum dikalibrasi: menilai, bukan menyambut.
"Kau yang menelepon dari Tepi Lereng," katanya. Bukan pertanyaan.
"Janari Nawangsih." Ia mengulurkan tangan. Danastri tidak menyambutnya.
"Aku tahu namamu sebelum kau bilang. Wignya masih di sana?" Ada nada yang sulit dinamai dalam kalimat itu—bukan benci, lebih mirip keletihan yang telah mengeras jadi kulit.
"Masih."
"Dan kau datang jauh-jauh ke sini bukan untuk bertanya kabarku." Danastri mundur setengah langkah, membiarkan pintu terbuka lebih lebar, tapi gerakan itu tidak terasa seperti undangan. Lebih seperti seseorang yang membiarkan cuaca buruk masuk karena tahu ia tak bisa menahannya.
Di dalam, rumah itu rapi dengan cara yang janggal—rapi seperti ruangan yang sengaja dikosongkan dari kenangan. Tidak ada foto observatorium, tidak ada penghargaan, tidak ada apa pun yang menandakan tiga puluh tahun hidup di antara bintang. Hanya satu rak buku, dan di situ, berjajar tanpa judul di punggungnya, buku-buku catatan bersampul kain yang sudah pudar warnanya.
Janari duduk di kursi yang ditunjuk tanpa kata. Danastri tetap berdiri, bersandar pada bingkai jendela, seolah ingin menjaga jarak yang bisa ditempuh dalam satu langkah jika ia perlu mengusir tamunya.
"Aku menemukan sesuatu," Janari mulai, dan mendengar suaranya sendiri terlalu hati-hati, seperti anak yang melapor pada orang tua yang pernah dihukum karena kejujuran. "Satu kedipan. Kurang dari satu detik. Waktu dan koordinatnya sudah kustempel dengan osilator terkunci-GPS. Tidak ada bintang terkatalog di titik itu yang seharusnya teroktulasi pada jam sidereal itu."
Ia berhenti, menunggu reaksi. Tidak ada. Danastri hanya menatap ke luar jendela, ke arah bukit yang mulai gelap.
"Sudah berulang," Janari melanjutkan. "Koordinat sidereal yang sama, waktu sipil berbeda. Aku sudah menyingkirkan sinar kosmik, piksel panas, kilau satelit yang jelas. Kurva cahayanya konsisten dengan okultasi oleh benda kecil dan gelap—"
"Berhenti." Kata itu datang pelan, hampir berbisik, tapi memotong seperti pisau yang sudah lama diasah untuk satu tujuan.
Janari menutup mulut.
Danastri berbalik dari jendela. Untuk pertama kalinya sejak Janari masuk, ia menatap langsung ke matanya, dan yang tampak di sana bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam—ketakutan yang sudah dijinakkan menjadi kewaspadaan.
"Jam sidereal," katanya, seolah menguji apakah kata itu masih bisa dilafalkan tanpa membakar lidahnya. "Bukan jam sipil. Kau sudah tahu itu penting. Bagus. Berarti kau belum sebodoh aku."
"Aku tidak mengerti."
"Kau mengerti." Danastri melangkah mendekat, dan sekarang suaranya naik sedikit, bergetar di batas yang terkendali. "Kau mengerti karena kau sudah menghabiskan berbulan-bulan memeriksa setiap kemungkinan lain sebelum berani memikirkan yang satu itu. Aku bisa melihatnya di wajahmu. Kau sudah setengah percaya."
Janari tidak menjawab. Diam itu sendiri adalah pengakuan.
"Tiga puluh tahun lalu," Danastri berkata, dan kali ini ia duduk, seolah tubuhnya sendiri butuh persiapan untuk kalimat berikutnya, "aku duduk di kursi yang sama sepertimu, memegang data yang sama meyakinkannya sepertimu, dan aku pikir aku sudah cukup hati-hati."
"Apa yang terjadi?"
Danastri tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya ia berdiri lagi, berjalan ke rak buku, dan berhenti di depannya tanpa mengambil apa pun—hanya membiarkan jarinya melayang di atas punggung-punggung kain pudar itu, seperti orang yang menghitung luka lama tanpa perlu membukanya.
"Kau pikir kau datang ke sini untuk mencari pembenaran," katanya, membelakangi Janari. "Untuk seseorang yang akan bilang, ya, itu nyata, teruskan, kau tidak gila. Tapi aku tidak akan memberimu itu. Bukan karena aku tidak percaya kau melihat sesuatu. Aku percaya. Masalahnya bukan di situ."
Ia berbalik.
"Masalahnya adalah apa yang akan kau lakukan setelah kau yakin. Dan seberapa yakin cukup yakin. Dan siapa yang akan berdiri di sampingmu ketika seseorang membuktikan setengah dari apa yang kau kira kau lihat itu cuma sampah di langit."
"Kilau satelit," Janari berkata pelan, mengingat lintasan kecil yang pernah menanam benih keraguan di kamera langit-seluruh, benih yang tak pernah benar-benar ia cabut.
Sesuatu di wajah Danastri berkedut—bukan kaget, lebih seperti luka lama yang disentuh persis di titik yang sudah tahu akan disentuh.
"Aku tidak akan menceritakan semuanya malam ini," katanya, suaranya kembali datar, terkendali, seolah pintu yang sempat terbuka barusan sudah ia kunci sendiri. "Tapi aku akan mengatakan satu hal, dan aku ingin kau membawanya pulang persis seperti aku mengatakannya."
Janari menunggu.
"Langit itu jujur," kata Danastri. "Selalu jujur. Yang berbohong adalah kita—tentang seberapa yakin kita, dan pada siapa kita membutuhkan diri kita untuk yakin. Kau pikir kau di sini untuk bertanya apa itu di langitmu. Kau salah. Kau di sini karena sesuatu dalam dirimu sudah tahu ke mana ini akan membawamu, dan kau takut jalan itu sama dengan jalanku."
Di luar, angin lembah semakin dingin, dan cahaya terakhir sore itu tumpah lewat jendela, jatuh di antara mereka berdua seperti sesuatu yang tak seorang pun dari mereka sanggup pegang cukup lama.